Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kebiasaan Malam yang Berpotensi Memengaruhi Kualitas Tidur
ilustrasi seseorang tidur (freepik.com/jcomp)
  • Artikel membahas lima kebiasaan malam yang sering dianggap sepele namun bisa menurunkan kualitas tidur, mulai dari penggunaan gadget hingga kondisi kamar tidur yang kurang nyaman.
  • Dijelaskan bahwa cahaya layar, makan larut, stres berlebih, jadwal tidur tidak konsisten, dan lingkungan kamar yang tidak kondusif dapat mengganggu proses tubuh menuju fase istirahat optimal.
  • Penulis menekankan pentingnya memperbaiki rutinitas malam secara bertahap agar tubuh lebih rileks, ritme biologis stabil, dan kualitas tidur meningkat sehingga energi pagi hari terasa maksimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu mungkin sudah merasa tidur cukup setiap malam, tetapi tetap bangun dengan tubuh yang terasa berat. Rasanya aneh ketika durasi tidur sudah terpenuhi, namun energi tetap gak maksimal. Sering kali penyebabnya bukan pada lamanya tidur, melainkan kebiasaan kecil sebelum kamu memejamkan mata. Malam hari adalah fase transisi penting yang menentukan apakah tubuh benar-benar bisa beristirahat atau gak.

Tanpa disadari, rutinitas yang terlihat biasa saja bisa memengaruhi cara otak dan tubuh masuk ke fase tidur. Ada kebiasaan yang membantu tubuh rileks, ada juga yang justru membuat sistem saraf tetap siaga. Kalau kamu sering merasa tidur kurang berkualitas, mungkin saatnya mengevaluasi apa saja yang dilakukan di malam hari. Lima kebiasaan ini ternyata punya pengaruh besar terhadap kualitas istirahatmu.

1. Terlalu lama menatap layar sebelum tidur

ilustrasi seseorang bermain HP sambil tiduran (pexels.com/RDNE Stock project)

Bermain ponsel atau menonton serial sampai mengantuk memang terasa menyenangkan. Namun cahaya biru dari layar gadget dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Ketika kamu terus terpapar cahaya ini, otak menerima sinyal seolah hari masih siang. Akibatnya, tubuh sulit masuk ke fase tidur yang dalam. Kamu mungkin tertidur, tetapi kualitasnya gak optimal.

Selain cahaya, konten yang kamu konsumsi juga berpengaruh. Informasi yang terlalu padat atau emosional bisa membuat pikiran tetap aktif. Otak jadi sibuk memproses cerita atau berita bahkan setelah lampu dimatikan. Memberi jeda segaknya tiga puluh hingga enam puluh menit tanpa layar sebelum tidur membantu tubuh bertransisi lebih alami. Suasana hati pun cenderung lebih tenang saat akhirnya kamu terlelap.

2. Makan terlalu dekat dengan waktu tidur

ilustrasi seseorang makan malam (freepik.com/freepik)

Makan malam terlalu larut atau dalam porsi besar bisa membuat tubuh bekerja ekstra saat kamu seharusnya beristirahat. Sistem pencernaan tetap aktif mencerna makanan, sehingga tubuh sulit benar-benar rileks. Kondisi ini kadang membuat kamu merasa gak nyaman atau bahkan terbangun di tengah malam. Tidur pun terasa kurang nyenyak.

Selain itu, konsumsi minuman berkafein di malam hari juga sering luput dari perhatian. Efek kafein bisa bertahan beberapa jam dan membuat tubuh tetap waspada. Jika kamu ingin kualitas tidur lebih baik, beri jarak yang cukup antara waktu makan dan waktu tidur. Tubuh yang gak terlalu sibuk mencerna akan lebih mudah masuk ke fase istirahat yang dalam.

3. Membawa stres ke tempat tidur

ilustrasi orang overthinking (pexels.com/Ksenia Kartasheva)

Kebiasaan memikirkan pekerjaan atau masalah pribadi sebelum tidur sering dianggap wajar. Padahal, pikiran yang terus aktif membuat tubuh sulit memasuki kondisi relaksasi. Saat stres meningkat, hormon kortisol ikut naik dan membuat sistem saraf tetap siaga. Akibatnya, kamu mungkin tertidur lebih lama atau sering terbangun.

Membuat rutinitas penutup hari bisa membantu menenangkan pikiran. Menulis jurnal singkat atau merapikan daftar tugas esok hari memberi rasa tuntas. Ketika pikiran merasa lebih teratur, tubuh ikut lebih santai. Tidur pun terasa lebih dalam dan gak mudah terganggu.

4. Gak memiliki jam tidur yang konsisten

ilustrasi orang tidur (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tidur dan bangun di jam yang berbeda setiap hari membuat ritme biologis tubuh menjadi kacau. Tubuh sebenarnya memiliki jam internal yang mengatur siklus tidur dan bangun. Ketika jadwal berubah-ubah, tubuh kesulitan menyesuaikan diri. Akibatnya, rasa kantuk datang gak pada waktunya dan pagi terasa berat.

Konsistensi membantu tubuh mengenali pola. Jika kamu tidur dan bangun di waktu yang relatif sama, tubuh akan terbiasa dan lebih mudah mengatur energi. Bahkan di akhir pekan, menjaga selisih waktu tidur gak terlalu jauh bisa membantu. Ritme yang stabil membuat kualitas tidur jauh lebih terjaga.

5. Mengabaikan suasana kamar tidur

ilustrasi kamar tidur yang nyaman (pexels.com/Max Vakhtbovycn)

Lingkungan kamar punya pengaruh besar terhadap kualitas tidur. Cahaya yang terlalu terang, suhu yang gak nyaman, atau suara bising bisa mengganggu fase tidur tanpa kamu sadari. Tubuh membutuhkan suasana yang aman dan tenang agar bisa benar-benar beristirahat. Detail kecil seperti tirai yang kurang rapat atau kasur yang kurang nyaman bisa berdampak signifikan.

Menata kamar agar lebih rapi dan minim distraksi membantu otak mengasosiasikan ruang tersebut sebagai tempat istirahat. Aroma lembut dan pencahayaan hangat juga bisa memberi efek relaksasi. Ketika kamar terasa nyaman, tubuh lebih mudah masuk ke fase tidur yang dalam. Pagi hari pun terasa lebih segar dan ringan.

Kualitas tidur bukan sekadar soal berapa lama kamu berbaring di tempat tidur. Kebiasaan kecil sebelum tidur memainkan peran besar dalam menentukan seberapa efektif tubuh memulihkan diri. Mengubah satu atau dua kebiasaan mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat terasa.

Kamu gak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari kebiasaan yang paling mudah diperbaiki malam ini. Perhatikan bagaimana tubuh merespons setelah beberapa hari. Ketika tidur menjadi lebih berkualitas, energi dan suasana hati di pagi hari pun ikut membaik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian