ilustrasi kesal (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Bukti terakhir kalau dirimu kecanduan validasi dari orang lain secara online adalah ada rasa kecewa ketika teman dekat tidak memberi likes atau komentar pada unggahan tertentu. Bahkan sebagian orang sampai mengingat siapa saja yang menonton story tetapi tidak merespons apa pun. Hal kecil seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa perhatian online mulai dianggap penting secara emosional. Validasi tidak lagi dicari secara langsung, melainkan lewat tanda-tanda kecil di media sosial. Masalahnya, tidak semua orang menggunakan internet dengan cara yang sama. Ada yang memang jarang aktif meski tetap peduli di dunia nyata.
Ketika perhatian digital dijadikan ukuran kedekatan, hubungan pertemanan jadi mudah disalahartikan. Orang bisa merasa diabaikan hanya karena pesannya dibalas singkat atau unggahannya tidak direspons. Padahal belum tentu ada masalah apa pun. Kebiasaan terlalu memikirkan aktivitas online orang lain sering membuat pikiran cepat curiga dan mudah tersinggung. Lama-lama, media sosial terasa seperti tempat mencari kepastian tentang seberapa penting diri sendiri di mata orang lain. Di titik itu, validasi online sudah mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam hidup.
Kesehatan mental bisa ikut lelah ketika hidup terlalu sibuk mengejar perhatian dari internet. Tidak semua hal harus terlihat menarik, ramai, atau dipuji banyak orang supaya terasa berharga. Kalau tanpa respons online, hidup mulai terasa hambar, mungkin sudah waktunya bertanya lagi: sejak kapan perhatian orang asing jadi penentu rasa percaya diri?