Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ciri Kamu Kecanduan Validasi dari Orang Lain Secara Online
ilustrasi kecanduan validasi secara online (unsplash.com/Kate Torline)
  • Banyak orang tanpa sadar mengukur nilai diri dari perhatian di media sosial, hingga kenyamanan pribadi dan kesehatan mental ikut terganggu.
  • Kecanduan validasi online terlihat dari kebiasaan memoles kehidupan, memilih teman demi konten, serta sulit menikmati hal tanpa pengakuan digital.
  • Ketergantungan pada respons online membuat hubungan terasa dangkal dan rasa percaya diri bergantung pada perhatian orang lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial sekarang bukan cuma tempat berbagi foto atau mencari hiburan. Banyak orang tanpa sadar mulai mengukur dirinya dari seberapa sering diperhatikan di internet. Saat unggahan terasa lebih penting daripada kenyamanan pribadi, kesehatan mental pelan-pelan ikut terdorong ke arah yang melelahkan.

Masalahnya, kebiasaan seperti ini sering terlihat normal karena dilakukan hampir semua orang. Supaya lebih mudah menyadarinya, coba lihat beberapa tanda kecanduan validasi dari orang lain secara online berikut ini. Walau sering dianggap sepele, kamu perlu mengetahuinya.

1. Sengaja membuat cerita hidup terdengar lebih sibuk daripada aslinya

ilustrasi sibuk (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Ada orang yang tetap mengunggah foto laptop dan kopi meski sebenarnya seharian hanya membuka satu file kerja. Ada juga yang menulis caption seolah hidupnya penuh kegiatan penting, padahal hari itu biasa saja. Kebiasaan seperti ini muncul karena kehidupan sederhana sekarang sering dianggap kurang menarik untuk ditampilkan. Akhirnya, banyak hal kecil mulai dipoles supaya terlihat lebih keren di internet. Bahkan rasa capek kadang ikut dilebihkan hanya agar mendapat komentar simpati. Lama-lama, seseorang jadi lebih sibuk membentuk kesan dibanding menjalani hidupnya sendiri.

Fenomena ini terlihat sepele karena bentuknya bukan kebohongan besar. Namun, ketika hampir semua cerita harus dibuat lebih dramatis, ada dorongan kuat untuk selalu terlihat punya kehidupan menarik. Tidak sedikit orang yang akhirnya sulit menikmati waktu santai tanpa merasa bersalah. Hari yang tenang malah dianggap membosankan karena tidak cukup layak diunggah. Padahal hidup normal tanpa pencitraan sebenarnya bukan sesuatu yang memalukan.

2. Pertemanan mulai dipilih dari seberapa “menjual” untuk konten

ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Andreea Avramescu)

Ada yang mendadak akrab dengan orang tertentu karena fotonya estetik, tempat nongkrongnya menarik, atau lingkar pertemanannya ramai di media sosial. Pertemanan akhirnya bukan lagi soal nyaman diajak bicara, melainkan soal cocok dijadikan bahan unggahan. Situasi seperti ini cukup sering terjadi, terutama ketika media sosial membuat semua hal terlihat seperti etalase hidup. Tidak sedikit orang yang lebih semangat bertemu teman yang bisa menaikkan citra dirinya di internet. Sementara teman lama yang dianggap kurang seru perlahan dijauhkan. Hal seperti ini biasanya terjadi tanpa disadari.

Akibatnya, hubungan pertemanan jadi terasa dangkal dan mudah berubah. Ada yang hanya muncul ketika sedang butuh diajak membuat konten atau foto bersama. Bahkan momen nongkrong kadang terasa aneh karena semua orang sibuk merekam suasana masing-masing. Setelah unggahan selesai dibuat, obrolannya justru kosong. Situasi seperti ini membuat banyak orang merasa punya banyak teman online, tetapi tetap kesepian di dunia nyata.

3. Sulit menikmati barang sebelum diakui orang lain

ilustrasi smart watch (unsplash.com/Luke Chesser)

Barang yang awalnya disukai mendadak terasa biasa saja ketika tidak mendapat perhatian di media sosial. Ada yang membeli sepatu mahal lalu kecewa karena unggahannya sepi komentar. Ada juga yang terus mengganti barang bukan karena rusak, melainkan karena takut terlihat tertinggal. Kebiasaan seperti ini sering muncul ketika rasa puas tidak lagi datang dari barang itu sendiri. Malah yang dicari justru reaksi orang lain setelah barang tersebut dipamerkan. Akhirnya, belanja berubah menjadi cara mencari pengakuan.

Hal seperti ini banyak terjadi pada tren gaya hidup sekarang. Barang tertentu tiba-tiba dianggap keren hanya karena sering muncul di timeline. Tidak sedikit orang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan demi terlihat satu selera dengan lingkungan online-nya. Setelah tren lewat, barang itu pun jarang dipakai lagi. Siklusnya terus berulang karena rasa puasnya hanya bertahan sebentar. Semakin sering mengejar validasi seperti ini, semakin sulit merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.

4. Merasa kehidupan pribadi harus selalu terlihat menarik

ilustrasi kumpul keluarga (unsplash.com/Cameorn Steele)

Makan malam biasa bisa terasa kurang lengkap kalau tidak sempat difoto. Ada orang yang sengaja mengulang posisi makanan, memindahkan gelas, bahkan menunggu pencahayaan bagus hanya untuk satu unggahan. Bukan karena kenangan itu penting, melainkan karena tampilannya harus terlihat menarik di internet. Situasi seperti ini membuat banyak momen kehilangan rasa spontan. Bahkan liburan pun kadang lebih melelahkan karena terlalu fokus membuat dokumentasi. Padahal belum tentu semua orang yang melihat unggahan tersebut benar-benar peduli.

Kebiasaan ini sering membuat seseorang sulit menikmati suasana secara utuh. Saat konser berlangsung, perhatian malah habis untuk merekam video panjang yang mungkin tidak akan ditonton lagi. Ketika berkumpul bersama keluarga, obrolan bisa terpotong hanya karena sibuk mengambil foto berkali-kali. Banyak orang akhirnya hadir secara fisik, tetapi pikirannya sibuk memikirkan unggahan. Hidup terasa seperti bahan konten yang harus terus diperbarui. Lama-lama, pengalaman pribadi jadi kehilangan makna karena terlalu sering dipertontonkan.

5. Diam-diam kesal saat orang lain tidak memberi perhatian online

ilustrasi kesal (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Bukti terakhir kalau dirimu kecanduan validasi dari orang lain secara online adalah ada rasa kecewa ketika teman dekat tidak memberi likes atau komentar pada unggahan tertentu. Bahkan sebagian orang sampai mengingat siapa saja yang menonton story tetapi tidak merespons apa pun. Hal kecil seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa perhatian online mulai dianggap penting secara emosional. Validasi tidak lagi dicari secara langsung, melainkan lewat tanda-tanda kecil di media sosial. Masalahnya, tidak semua orang menggunakan internet dengan cara yang sama. Ada yang memang jarang aktif meski tetap peduli di dunia nyata.

Ketika perhatian digital dijadikan ukuran kedekatan, hubungan pertemanan jadi mudah disalahartikan. Orang bisa merasa diabaikan hanya karena pesannya dibalas singkat atau unggahannya tidak direspons. Padahal belum tentu ada masalah apa pun. Kebiasaan terlalu memikirkan aktivitas online orang lain sering membuat pikiran cepat curiga dan mudah tersinggung. Lama-lama, media sosial terasa seperti tempat mencari kepastian tentang seberapa penting diri sendiri di mata orang lain. Di titik itu, validasi online sudah mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam hidup.

Kesehatan mental bisa ikut lelah ketika hidup terlalu sibuk mengejar perhatian dari internet. Tidak semua hal harus terlihat menarik, ramai, atau dipuji banyak orang supaya terasa berharga. Kalau tanpa respons online, hidup mulai terasa hambar, mungkin sudah waktunya bertanya lagi: sejak kapan perhatian orang asing jadi penentu rasa percaya diri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team