ilustrasi target awal tahun (pexels.com/Polina)
Banyak orang terbiasa langsung pasang target baru begitu satu tujuan tercapai. Baru lulus kuliah, langsung mikir kerja apa. Baru dapat kerja, langsung mikir naik jabatan. Baru beli rumah, pikiran sudah ke cicilan berikutnya atau target yang lebih besar. Akhirnya, pencapaian yang barusan diraih lewat begitu saja tanpa sempat dirasakan dampaknya dalam hidup sehari-hari.
Masalahnya, tanpa jeda, target hidup hanya terasa seperti beban tugas yang harus segera dituntaskan. Tidak ada waktu untuk melihat apa yang sebenarnya berubah setelah target itu tercapai. Hidup tetap terasa sama, rutinitas tetap jalan, dan rasa puas yang dibayangkan tidak pernah benar-benar datang. Dari situ, muncul perasaan kosong. Bukan karena targetnya gagal, tetapi karena tidak pernah diberi ruang untuk dirasakan.
Target hidup sering dipahami sebagai tujuan akhir, padahal dampaknya tidak selalu langsung terasa setelah berhasil dicapai. Rasa kosong yang muncul biasanya berkaitan dengan kebiasaan mengejar target tanpa memberi ruang untuk berhenti dan melihat apa yang benar-benar berubah selama kamu mengejarnya. Pada titik ini, yang perlu dibenahi bukan ambisinya, melainkan cara menempatkan target hidup dalam keseharian agar tidak terasa hampa setelah tercapai.