ilustrasi virus terdeteksi (freepik.com/rawpixel.com)
Banjir informasi yang bisa didapatkan dari teknologi hingga media sosial ternyata memengaruhi kecemasan manusia. Dilansir Psychology Today, sebuah penelitian mencatat terjadinya peningkatan yang signifikan dalam gangguan kecemasan selaras dengan perkembangan teknologi informasi. Salah satu alasannya adalah muncul berita yang mengganggu ketenangan tanpa diharapkan oleh pengguna, utamanya terjadi di media sosial.
Psikolog Bonnie Zucker, Ph.D., menyebut teknologi meningkatkan kecemasan karena mengikis kemampuan manusia untuk menolerir ketidakpastian. Artinya, manusia menjadi lebih mudah cemas karena meningkatnya intensitas paparan informasi akan suatu kejadian yang belum pasti terjadi. Manusia terbiasa mendapatkan informasi yang cepat dan instan, sehingga ketika suatu kondisi perlu waktu untuk dikaji, mereka menjadi lebih mudah resah. Sebab, batas toleransi untuk bersabar dalam menghadapi ketidakpastian semakin rendah.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Sebagai anxiety disorders expertise, Bonnie menyarankan agar masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap teknologi. Misalnya, ketika hantavirus menjadi topik pembicaraan yang ramai di jejaring media sosial, cobalah untuk tidak terus menggalinya dan menanyakan pada AI. Betul bahwa berkonsultasi pada fitur kecerdasan buatan akan membuat individu memahami sesuatu dan mengatasi ketidakpastian secara instan, namun segera setelah lepas dari AI, kecemasan yang lebih besar akan kembali.
Solusinya, dapatkan informasi secukupnya dan tunggu perkembangan melalui laman berita terpercaya. Tidak perlu berspekulasi atau mengkhawatirkan sesuatu terlalu dalam, informasi penting untuk dimiliki sebagai bentuk kewaspadaan.