Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi seseorang merasa stres dan panik (unsplash.com/carolinahdzz)
ilustrasi seseorang merasa stres dan panik (unsplash.com/carolinahdzz)

Setiap kali liburan berakhir, biasanya ada perasaan aneh yang gak bisa dijelaskan. Kamu baru saja melewati hari-hari penuh suka cita, kebahagiaan, eksplorasi, dan kebebasan. Tiba-tiba kamu kembali ke rutinitas yang itu-itu saja, bertemu tumpukan pekerjaan, dan harus menata ulang ritme hidupmu yang sebelumnya sempat dijeda.

Momen transisi dari euforia liburan ke dunia nyata ini sering bikin hati terasa kosong. Rasanya seperti ada jarak emosional antara kamu sebelum liburan dan kamu setelah kembali ke aktivitas harian. Kondisi ini dikenal sebagai post-travel depression. Walaupun tak seintens depresi klinis, perasaan ini bisa cukup mengganggu, bikin kamu jadi kurang termotivasi menjalani kegiatan. Untuk memahami hal ini, kamu perlu tahu apa yang terjadi di balik rasa hampa tersebut.

1. Turunnya hormon bahagia setelah masa euforia

ilustrasi kehilangan motivasi (pexels.com/Anna Tarazevich)

Saat liburan, kamu akan berada dalam kondisi yang penuh stimulasi baru. Mulai dari pemandangan indah, aktivitas seru, makanan yang gak biasa, hingga pengalaman yang bikin adrenalin naik. Semua ini membuat tubuhmu memproduksi banyak hormon bahagia seperti dopamin, serotonin, dan endorfin. Ketiganya bekerja sama menciptakan sensasi excitement yang susah ditolak.

Nah, ketika liburan berakhir dan kamu kembali ke rutinitas normal, tingkat hormon-hormon ini ikut menurun secara drastis. Penurunan inilah yang sering memicu rasa low mood, capek tanpa sebab, atau perasaan kosong. Kamu terbiasa dengan stimulus tinggi selama liburan, lalu mendadak harus kembali ke ritme yang jauh lebih stabil. Tubuh butuh waktu untuk kembali menyesuaikan diri. Jadi, wajar banget kalau kamu merasa seperti kehilangan sesuatu.

2. Kontras antara kebebasan liburan dan tekanan rutinitas

ilustrasi malas bekerja (pexels.com/karolina grabowska)

Selama liburan, kamu punya kendali penuh atas waktu. Mau bangun siang, makan apa saja, eksplor seharian, atau cuma duduk menikmati sunrise pun terserah kamu. Tidak ada tuntutan, tidak ada deadline, dan tidak ada schedule yang padat. Kebebasan inilah yang bikin liburan terasa healing. Begitu pulang, kamu langsung kembali ke pola hidup yang lebih ruwet. Jam bangun yang konsisten, pekerjaan menumpuk, atau ekspektasi dari lingkungan sekitar.

Kontras antara dua dunia ini kadang terlalu besar, sehingga otakmu perlu waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Kamu mungkin merasa terjebak, kehilangan ruang bernapas, atau cepat overwhelmed. Perasaan ini muncul bukan karena kamu tidak suka kehidupan sehari-harimu, tapi karena otakmu baru saja terbiasa dengan versi hidup yang lebih ringan. Kembali ke rutinitas yang padat pasti bikin shock.

3. Rasa kehilangan karena pengalaman berharga yang sudah berakhir

ilustrasi seseorang mencari motivasi (unsplash.com/tesecreates)

Liburan bukan cuma soal jalan-jalan. Kadang ada koneksi emosional yang terbentuk selama perjalanan, entah itu dengan orang baru, dengan diri sendiri, atau dengan suasana kota yang kamu datangi. Kamu mungkin menemukan tempat yang bikin kamu merasa menemukan dirimu, atau mengalami momen yang jarang kamu dapatkan dalam hidup sehari-hari. Ketika semua itu berakhir, ada rasa kehilangan yang gak bisa kamu abaikan begitu saja.

Rasa kehilangan ini mirip ketika kamu selesai membaca buku yang bagus atau menonton film yang intens. Kamu merasa terikat dengan pengalaman tersebut dan butuh waktu untuk memprosesnya. Post-travel depression muncul sebagai respons alami terhadap perubahan emosional yang cukup cepat. Semakin berkesan pengalaman liburanmu, semakin besar kemungkinan kamu mengalami perasaan kosong setelahnya.

4. Tekanan realitas yang kembali menghampiri

ilustrasi merasa stres. (pexels.com/Karolina Grabowska)

Sebelum liburan, kamu mungkin menunda urusan-urusan tertentu. Bisa jadi ada email yang belum dibalas, pekerjaan yang ditinggal, pengeluaran yang membengkak, hingga laundry yang menumpuk. Saat pulang, kenyataan ini langsung menamparmu tanpa ampun. Realitas yang selama ini kamu skip untuk menikmati liburan datang berbarengan, dan bikin kamu overwhelmed.

Tekanan ini bisa membuatmu merasa stres, gelisah atau gak siap menjalani hari. Kamu masih ingin mempertahankan suasana santai, tapi dunia menuntutmu kembali produktif secepatnya. Ini yang bikin mood makin turun. Kamu merasa belum selesai menikmati liburan, tapi sudah harus menghadapi tanggung jawab yang berat. Kombinasi antara kelelahan perjalanan dan tekanan realitas inilah yang memperkuat post-travel depression.

5. Harapan yang terlalu tinggi terhadap efek liburan

ilustrasi berpikir (pexels.com/Vanessa Garcia)

Terakhir, banyak orang pergi liburan dengan ekspektasi bahwa setelah pulang mereka akan merasa lebih bahagia, lebih fresh, dan lebih produktif. Kamu mungkin menganggap liburan sebagai solusi untuk segala burnout atau masalah yang kamu alami. Namun, kenyataannya, liburan memang bisa membantu, tapi tidak bisa menghapus stres atau masalah.

Begitu kamu kembali dan sadar bahwa masalah-masalah itu tetap ada, efek kecewa dan frustasi jadi makin terasa. Ekspektasi yang tidak realistis ini justru memperkuat perasaan hampa. Kamu merasa liburan kurang ngefek, atau kamu merasa gagal mendapatkan hasil sesuai harapan. Padahal sebenarnya, masalahnya bukan di liburannya, tapi pada ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap apa yang bisa liburan berikan.

Post-travel depression itu wajar, terutama ketika kamu baru pulang dari liburan yang sangat menyenangkan. Rasa hampa itu muncul karena tubuh dan pikiranmu butuh waktu untuk transisi. Lama-kelamaan, rasa hampa ini akan mereda dan kamu bisa kembali menjalani hari dengan lebih ringan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team