Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kerja multitasking
ilustrasi kerja multitasking (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Intinya sih...

  • Multitasking mengurangi fokus dan produktivitas

  • Tanpa prioritas, fokus kerja mudah hilang

  • To do list panjang menekan mental dan memecah fokus

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Manajemen waktu sering terdengar sederhana, padahal praktiknya jauh lebih rumit dari sekadar membagi jam kerja. Banyak orang merasa sudah sibuk seharian, tapi hasil kerja justru terasa minim dan fokus mudah buyar. Kondisi ini sering muncul bukan karena kurang niat, melainkan karena kesalahan kecil yang terus diulang tanpa sadar.

Kesalahan dalam mengatur waktu pelan-pelan menggerus konsentrasi dan energi mental. Fokus kerja yang seharusnya terjaga malah habis untuk hal-hal remeh yang tampak mendesak. Kalau situasi ini dibiarkan, produktivitas bisa stagnan dan rasa lelah makin menumpuk. Yuk, kenali kesalahan manajemen waktu yang sering terjadi supaya fokus kerja bisa kembali terjaga!

1. Terlalu sering melakukan multitasking

ilustrasi kerja multitasking (pexels.com/AlphaTradeZone)

Multitasking sering dianggap sebagai kemampuan keren yang menandakan produktivitas tinggi. Padahal, otak manusia gak dirancang untuk fokus penuh pada banyak hal sekaligus dalam waktu bersamaan. Setiap kali perhatian berpindah, energi mental ikut terkuras tanpa terasa.

Alih-alih mempercepat pekerjaan, multitasking justru membuat fokus terpecah dan hasil kerja menurun. Pekerjaan yang seharusnya selesai cepat malah memakan waktu lebih lama. Fokus yang terpotong-potong juga meningkatkan risiko kesalahan kecil yang berulang.

2. Gak punya prioritas kerja yang jelas

ilustrasi menyusun prioritas (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tanpa prioritas yang jelas, semua tugas terasa sama pentingnya. Akibatnya, waktu habis untuk mengerjakan hal-hal yang mudah atau terlihat mendesak, bukan yang paling berdampak. Fokus pun gampang hilang karena arah kerja gak pernah benar-benar tegas.

Menyusun prioritas membantu otak memahami apa yang perlu mendapat perhatian utama. Tanpa itu, hari kerja terasa penuh tapi kosong hasil. Ketika prioritas kabur, fokus ikut terseret ke mana saja tanpa kendali.

3. Terjebak to do list yang terlalu panjang

ilustrasi pria burnout (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

To do list memang membantu mengatur pekerjaan, tapi daftar yang terlalu panjang justru menekan mental. Melihat banyak tugas menumpuk sering memicu rasa kewalahan sejak awal hari. Fokus kerja pun melemah bahkan sebelum pekerjaan dimulai.

Daftar tugas yang realistis lebih efektif menjaga konsentrasi. Terlalu banyak target dalam satu hari membuat perhatian mudah lompat dari satu tugas ke tugas lain. Fokus yang terpecah ini membuat pekerjaan terasa berat meski skalanya sebenarnya wajar.

4. Mengabaikan waktu istirahat

ilustrasi burnout (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Banyak orang merasa terus bekerja tanpa jeda adalah tanda dedikasi tinggi. Padahal, otak butuh waktu istirahat untuk memulihkan fokus dan daya pikir. Tanpa jeda, konsentrasi menurun dan kesalahan makin sering muncul.

Istirahat singkat membantu otak kembali segar dan siap fokus. Mengabaikan jeda justru mendorong kelelahan mental yang berujung burnout. Fokus kerja yang sehat selalu butuh keseimbangan antara kerja dan rehat.

5. Terlalu sering menunda pekerjaan penting

ilustrasi aktif media sosial (pexels.com/MART PRODUCTION)

Menunda pekerjaan penting sering dibungkus alasan menunggu waktu yang tepat. Padahal, penundaan membuat beban mental terus menumpuk di kepala. Fokus kerja habis untuk rasa bersalah dan cemas, bukan untuk menyelesaikan tugas.

Penundaan juga memaksa pekerjaan selesai dalam tekanan deadline. Dalam kondisi terdesak, fokus sulit optimal dan kualitas kerja menurun. Kebiasaan ini lama-lama membentuk pola kerja reaktif yang melelahkan.

Kesalahan manajemen waktu sering terlihat sepele, tapi dampaknya besar pada fokus kerja. Tanpa disadari, kebiasaan kecil bisa menguras energi mental setiap hari. Mengenali kesalahan adalah langkah awal untuk memperbaiki ritme kerja. Saat waktu lebih terkelola, fokus pun lebih mudah dijaga dan hasil kerja terasa lebih bermakna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian