Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Pixabay)
Pada peringatan Jumat Agung, umat diajak untuk merenungkan rangkaian bacaan kitab suci yang menggambarkan penderitaan, pengorbanan, dan kasih Yesus Kristus bagi manusia. Melalui bacaan dari Kitab Yesaya, Ibrani, dan Injil Yohanes, kamu dapat melihat bagaimana rencana keselamatan Allah dinyatakan secara nyata melalui penderitaan Sang Hamba Tuhan yang setia dan taat hingga akhir. Berikut bacaannya dikutip dari laman Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).
Bacaan 1: Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Mazmur: Mazmur 22
Bacaan 2: Ibrani 10 : 16 – 25
Bacaan 3: Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
Tema Khotbah: Menjadi Hamba yang Setia dan Rela Menderita
Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
"Hamba Tuhan Yang Menderita"
Secara umum kita memaknai bahwa sebutan “HAMBA” diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki status sosial yang rendah, yang hidupnya untuk mengabdikan diri kepada orang/pihak lain (hamba juga bisa disebut budak belian; abdi), sehingga ia tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri. Sedangkan khusus dalam konteks Yesaya, istilah “HAMBA” merujuk pada “Hamba Tuhan (Ebed YHWH)”, sehingga jika disederhanakan ialah: seseorang yang bukan hanya menjadi milik Tuhan, tetapi juga bekerja khusus untuk Tuhan.
Beberapa teolog (salah satunya Robert B. Chisholm, Jr), beranggapan bahwa Hamba Tuhan yang dinubuatkan Yesaya merujuk pada jati diri Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Terlebih jika melihat keadaan yang dialami dalam nubuat Yesaya ini bahwa Sang Hamba Tuhan tersebut akan menderita (52:14 s.d. 53:3), selain itu penderitaan yang Ia alami adalah oleh karena menanggung kesalahan umat (4-10), dan pada akhirnya Ia akan memperoleh kemenangan dan kemuliaan (52:13).
Melalui penjabaran pendek di atas maka dapat kita simpulkan bahwa “Hamba Tuhan” setia dan taat atas rancangan yang diberikan atas dirinya. Sebagaimana Yesus Kristus yang penderitaan-Nya adalah bagian integral dari rencana keselamatan Allah untuk umat manusia.
Ibrani 10 : 16 – 25
"Menghadap Allah dengan Hati yang Bersih"
Dalam perikop ini, penulis Surat Ibrani mengutip kitab Yeremia 31:33-34, yang di dalamnya memiliki makna bahwa Firman Allah akan selalu tersimpan dalam hati setiap umat dan terwujud nyata dalam bentuk akal budi. Melalui akal budi tersebut membawa umat pada pengenalan kepada Yesus Kristus. Dengan demikian Allah sendiri yang akan mengampuni segala dosa-dosa umat-Nya oleh karena adanya pengampunan melalui darah Yesus Kristus yang mati di kayu salib. Tentu saja sebagai seorang Kristen, Firman Allah Yang Sejati tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Sehingga di dalam hati dan akal budi kita, hanya ada Tuhan Yesus yang bertahta, kita memiliki keyakinan untuk dapat menghadap Allah (Ay. 21).
Selain yang tersebut di atas, perikop ini pun mengandung sebuah pesan untuk persekutuan, yaitu agar umat selalu saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih, dalam pekerjaan baik, dan jangan menjauh dari persekutuan dan peribadahan, apalagi hari kedatangan Tuhan sudah dekat (Ay. 24-25).
Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
"Wujud Kasih dan Pengurbanan Yesus"
Teks yang kita baca ini adalah gambaran detail bagaimana proses Tuhan Yesus ditangkap, diadili, dihukum mati, sampai dengan dimakamkan. Tentunya kisah ini pun sebagian besar sudah diulas dan disajikan secara baik dalam film-film kristiani, yang tentu dapat mengantarkan kita pada refleksi mendalam tentang kasih Allah atas manusia sehingga Ia rela sedemikian rupa menderita. Pesannya sangat jelas bahwa penderitaan yang dialami oleh Yesus adalah untuk mewujudkan pengampunan dan keselamatan bagi umat manusia. Ia harus merasakan sakit, kecewa, malu, terhina, bercampur aduk, sebelum Ia wafat di kayu salib.