Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kontenmu Sudah Inklusif? 5 Cara Bikin Akses Digital Lebih Adil
ilustrasi orang membuat konten video (pexels.com/Alena Darmel)
  • Artikel menyoroti pentingnya aksesibilitas digital agar semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses dan memahami konten tanpa hambatan di ruang digital.
  • Dijelaskan lima langkah praktis menciptakan konten inklusif: penggunaan alt text, kontras warna tepat, takarir video, teks mudah dibaca, serta navigasi ramah keyboard.
  • Penulis mengajak kreator untuk berempati dan mendesain konten yang adil serta ramah bagi semua kalangan demi terciptanya ruang digital yang lebih inklusif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah mendengar tentang digital accessibility? Secara sederhana, digital accessibility merupakan konsep ketika produk digital, seperti aplikasi, web, hingga konten media sosial, dapat diakses, digunakan, serta dipahami oleh semua pengguna tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas. Sebagaimana kita ketahui, dunia digital merupakan ruang publik. Ini berarti konten yang disajikan di dalamnya harus bisa menjangkau siapa saja.

Sayangnya, gak sedikit pembuat konten mengabaikan prinsip aksesibilitas ini. Padahal, mendesain konten yang inklusif gak hanya soal urusan teknis, tetapi juga empati dan penghargaan. Lantas, bagaimana caranya mendesain konten yang gak egois dan lebih inklusif?

1. Gunakan fitur alt text atau teks alternatif yang deskriptif

ilustrasi orang membuat konten video (pexels.com/Kampus Production)

Sederhananya, alt text adalah teks deskriptif yang menerangkan isi fungsi. Alt text disematkan pada gambar maupun elemen visual di situs web atau media sosial. Fitur ini gak hanya untuk SEO, tetapi juga penting bagi teman-teman disabilitas netra yang mengandalkan aplikasi pembaca layar (screen reader) untuk dapat memahami isi konten.

Tanpa keberadaan alt text, screen reader akan membaca konten sebagai elemen yang gak bermakna, sehingga informasi penting dalam gambar gak berhasil tersampaikan. Nah, dalam menulis alt text, kamu perlu menuliskannya secara deskriptif. Fokuslah pada inti gambar, hindari menggunakan kalimat yang berbelit-belit atau terlalu panjang.

2. Perhatikan kontras dan kombinasi warna pada konten yang dibuat

ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Warna punya peran penting dalam menentukan estetika suatu konten. Namun, konten yang inklusif itu gak sekadar tentang estetika, tetapi juga aksesibilitas. Maka, hal yang perlu diperhatikan ialah pilih warna yang punya kontras kuat dan tegas antara teks dengan latar belakang. Sebaiknya, hindari warna yang terlalu samar.

Pemilihan warna yang tepat akan memudahkan pengguna dengan gangguan penglihatan hingga kelompok lansia memahami pesan yang ada. Kamu juga bisa memanfaatkan sejumlah fitur di internet untuk mengetahui apakah kontenmu punya kontras yang pas dan memenuhi standar aksesibilitas.

3. Sertakan takarir atau subtitel pada konten video

ilustrasi orang membuat konten (pexels.com/Anna Shvets)

Video jadi salah satu bentuk konten yang banyak dinikmati oleh pengguna media sosial. Banyak konten kreator yang memilih berfokus membuat konten video dibanding gambar atau foto. Karena popularitasnya ini, keberadaan takarir ataupun subtitel dalam video jadi suatu hal yang penting agar konten dapat diakses secara inklusif oleh semua kalangan, termasuk teman-teman disabilitas rungu. Bagi mereka, keberadaan teks dalam video bukan hanya pelengkap visual, melainkan jembatan untuk bisa memahami isi konten secara keseluruhan.

Menariknya, takarir atau subtitel dalam video juga bermanfaat bagi pengguna yang ada dalam situasi dan kondisi tertentu lho, seperti ketika mereka sedang berada di transportasi umum, di tempat yang bising, atau saat larut malam dan gak ingin mengganggu orang lain.

4. Buat teks yang ramah dipahami dan mudah dibaca

ilustrasi orang menatap layar laptop (pexels.com/Vlada Karpovich)

Konten yang inklusif harus memenuhi ketentuan teks yang readable dari segi visual maupun bahasa. Selain menggunakan kalimat yang gak bertele-tele dan mudah dipahami, sejumlah hal yang juga perlu kamu perhatikan ialah gak menggunakan teks yang disesuaikan dengan decoder, pastikan teks panjang dibagi menjadi beberapa paragraf, kemudian gunakan font yang mudah dibaca seperti font yang termasuk dalam Sans-Serif. Font juga jangan terlalu kecil, ya, harus memenuhi syarat keterbacaan. Selain itu, kalau kamu menyertakan emoji dalam kontenmu, sebaiknya gunakan emoji tersebut secukupnya tanpa berulang.

5. Merancang konten yang bisa diakses dengan keyboard

ilustrasi orang menggunakan laptop (pexels.com/Danik Prihodko)

Banyak dari pengguna yang mengandalkan mouse atau trackpad untuk menjelajahi internat dan melihat konten. Namun, bagi mereka yang punya keterbatasan motorik, mengontrol kursor jadi suatu hal yang menantang atau bahkan gak mungkin dilakukan. Sebagai gantinya, penyandang disabilitas ini memanfaatkan keyboard untuk berpindah di internet.

Maka, merancang konten yang ramah keyboard amat berarti agar semua elemen interaktifnya bisa diakses tanpa bantuan mouse. Sebagai pembuat konten, kamu bisa menjadikan tombol Tab, Enter, maupun panah pada keyboard sebagai acuan utama dalam menavigasi halaman digital.

Yuk, ubah cara pandang kita dalam berkarya di dunia maya. Mulailah membuat konten yang gak egois dengan memperhatikan aksesibilitas. Jadikan ruang digital ini sebagai tempat yang lebih adil, hangat, dan ramah bagi setiap penggunanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team

Related Article