Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Loyalitas dalam Pertemanan di Usia Dewasa, Haruskah Selalu Ada?
ilustrasi dua orang teman duduk bersama di kafe (unsplash.com/Brooke Cagle)
  • Loyalitas dalam pertemanan dewasa tidak selalu berarti harus selalu hadir, melainkan lebih pada kualitas dukungan dan kepercayaan yang saling diberikan di tengah kesibukan hidup.
  • Dinamika pertemanan berubah seiring pertumbuhan individu; memberi ruang untuk berkembang dan menerima perubahan menjadi bagian alami dari hubungan yang sehat.
  • Loyalitas tetap penting namun perlu fleksibilitas agar tidak menjadi beban emosional, dengan menekankan ketulusan, batasan sehat, serta keseimbangan antara kedekatan dan kemandirian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki fase dewasa, banyak orang mulai memahami bahwa pertemanan tidak lagi berjalan sesederhana seperti di masa sekolah atau kuliah. Waktu menjadi semakin terbatas, prioritas hidup perlahan berubah, dan lingkar pertemanan pun cenderung menyempit. Perubahan ini turut memengaruhi cara seseorang memandang hubungan, termasuk dalam hal ekspektasi terhadap loyalitas.

Jika menengok ke belakang, mungkin kamu pernah memiliki teman yang dulu hampir setiap hari ditemui, tetapi kini hanya sempat berbincang beberapa kali dalam setahun karena kesibukan dan jarak. Meski komunikasi tidak lagi intens, kedekatan itu tetap terasa dan masing-masing masih saling memahami. Situasi ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam pertemanan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada pergeseran makna yang menyesuaikan dengan fase kehidupan.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology pada 2023, pertemanan dewasa dijelaskan sebagai hubungan yang bersifat sukarela, timbal balik, dan umumnya berlangsung dalam jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada “kontrak” yang mengikat seperti dalam hubungan keluarga atau pekerjaan. Karena itu, tuntutan akan loyalitas kerap menimbulkan gesekan ketika tidak selaras dengan realitas. Lalu, dalam konteks ini, apakah loyalitas dalam pertemanan di usia dewasa harus selalu ada?

1. Loyalitas memunculkan nilai ideal dan realitas di kehidupan dewasa

ilustrasi teman dekat (pexels.com/Afta Putta Gunawan)

Loyalitas sejak lama dipandang sebagai salah satu fondasi utama dalam membangun hubungan, termasuk pertemanan. Nilai ini kerap dikaitkan dengan kesetiaan, keberpihakan, dan konsistensi dalam saling mendukung. Dalam praktiknya, loyalitas memang berperan penting dalam menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, hubungan cenderung rapuh dan mudah mengalami keretakan.

Namun, memasuki fase dewasa, tidak semua orang mampu memenuhi ekspektasi loyalitas secara ideal. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, hingga kebutuhan pribadi sering kali menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan. Penelitian dari Jurnal Psikologi Sosial Universitas Indonesia (2021) menunjukkan bahwa kualitas hubungan lebih banyak ditentukan oleh dukungan dan timbal balik, bukan sekadar intensitas kehadiran. Artinya, loyalitas tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk “selalu ada”.

Sebagai contoh, seorang teman mungkin tidak dapat hadir setiap kali dibutuhkan karena harus mengurus keluarga atau menghadapi tuntutan pekerjaan yang mendesak. Kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan kurangnya loyalitas, melainkan refleksi dari prioritas yang sedang dijalani. Dalam konteks ini, kehadiran yang sesekali namun bermakna sering kali lebih berharga daripada kehadiran yang rutin tetapi tanpa kualitas. Hal ini menegaskan bahwa esensi hubungan terletak pada kualitas interaksi, bukan frekuensinya.

2. Pertemanan di usia dewasa itu bicara soal bertumbuh

ilustrasi berjalan bersama (unsplash.com/Eliott Reyna)

Seiring bertambahnya usia, dinamika pertemanan pun ikut berubah, baik dari segi intensitas maupun kedekatan emosional. Tidak semua hubungan mampu bertahan dalam bentuk yang sama seperti sebelumnya. Bahkan, berakhirnya sebuah pertemanan merupakan hal yang wajar dalam perjalanan hidup seseorang. Perubahan nilai, lingkungan, dan tujuan hidup kerap menjadi faktor yang memengaruhi keberlangsungan hubungan.

Sebagai ilustrasi, dua sahabat dekat bisa saja perlahan menjauh karena memiliki arah hidup yang berbeda, seperti pilihan karier atau gaya hidup. Meski tidak dilandasi konflik besar, hubungan tersebut mungkin tidak lagi terasa relevan bagi keduanya. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan hubungan hanya demi memenuhi standar loyalitas justru dapat terasa dipaksakan. Memberi ruang untuk tumbuh dan berubah sering kali menjadi pilihan yang lebih sehat.

3. Apakah loyalitas dalam pertemanan di usia dewasa masih relevan?

ilustrasi video call (freepik.com/tirachardz)

Di sisi lain, loyalitas tetap memiliki peran penting dalam pertemanan dewasa, meskipun maknanya telah mengalami pergeseran. Loyalitas tidak lagi harus ditunjukkan melalui kehadiran fisik yang konstan. Bentuknya dapat berupa menjaga kepercayaan, menghormati batasan, dan tetap menunjukkan kepedulian meski interaksi tidak lagi intens. Hal ini mencerminkan bahwa loyalitas dapat beradaptasi dengan perubahan gaya hidup.

Misalnya, seseorang tetap menjaga rahasia yang pernah dipercayakan kepadanya, meskipun hubungan tersebut sudah tidak sedekat dulu. Atau, tetap memberikan dukungan di saat temannya menghadapi masa sulit, meski komunikasi tidak terjadi setiap hari. Bentuk-bentuk sederhana ini justru mencerminkan loyalitas yang lebih matang. Loyalitas tidak lagi diukur dari seberapa sering hadir, melainkan dari ketulusan dalam menjaga hubungan pertemanan.

4. Loyalitas dalam pertemanan terkadang juga bisa menjadi beban

ilustrasi sedang merenung dan fokus mengambil waktu diri sendiri (pexels.com/RDNE Stock project)

Meski demikian, loyalitas juga memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika dimaknai secara berlebihan, loyalitas dapat berubah menjadi tekanan sosial yang melelahkan. Ada kalanya seseorang merasa harus selalu tersedia atau selalu berpihak, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan. Situasi ini berpotensi menimbulkan kelelahan emosional dalam jangka panjang.

Contohnya, seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena merasa terikat oleh tuntutan untuk setia. Ada pula yang merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi temannya. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya tidak menimbulkan rasa tertekan. Memahami batasan atau boundaries menjadi langkah penting agar loyalitas tidak berubah menjadi beban.

Pada akhirnya, loyalitas dalam pertemanan di usia dewasa tetap menjadi elemen penting untuk menjaga hubungan persahabatan. Nilai ini berperan dalam membangun kepercayaan dan memperkuat kedekatan emosional antarindividu. Namun, loyalitas tidak perlu diwujudkan secara ekstrem atau tanpa batas. Dalam kehidupan dewasa, fleksibilitas justru menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan hubungan.

Lebih dari itu, pertemanan dewasa cenderung menekankan kualitas dibanding kuantitas. Memiliki satu atau dua teman yang benar-benar memahami satu sama lain sering kali lebih bermakna daripada memiliki banyak relasi tanpa kedekatan emosional. Loyalitas yang sehat adalah loyalitas yang mampu menyesuaikan diri terhadap realitas kehidupan masing-masing individu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team