Memasuki fase dewasa, banyak orang mulai memahami bahwa pertemanan tidak lagi berjalan sesederhana seperti di masa sekolah atau kuliah. Waktu menjadi semakin terbatas, prioritas hidup perlahan berubah, dan lingkar pertemanan pun cenderung menyempit. Perubahan ini turut memengaruhi cara seseorang memandang hubungan, termasuk dalam hal ekspektasi terhadap loyalitas.
Jika menengok ke belakang, mungkin kamu pernah memiliki teman yang dulu hampir setiap hari ditemui, tetapi kini hanya sempat berbincang beberapa kali dalam setahun karena kesibukan dan jarak. Meski komunikasi tidak lagi intens, kedekatan itu tetap terasa dan masing-masing masih saling memahami. Situasi ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam pertemanan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada pergeseran makna yang menyesuaikan dengan fase kehidupan.
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology pada 2023, pertemanan dewasa dijelaskan sebagai hubungan yang bersifat sukarela, timbal balik, dan umumnya berlangsung dalam jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada “kontrak” yang mengikat seperti dalam hubungan keluarga atau pekerjaan. Karena itu, tuntutan akan loyalitas kerap menimbulkan gesekan ketika tidak selaras dengan realitas. Lalu, dalam konteks ini, apakah loyalitas dalam pertemanan di usia dewasa harus selalu ada?
