Menjadi anak rantau sering dipandang sebagai sebuah pencapaian ataupun kebebasan. Kamu dianggap mandiri, berani keluar dari zona nyaman, dan kuat menghadapi hidup jauh dari orang tua.
Namun, di balik label “tangguh” itu, ada sisi lain yang jarang terlihat. Ada lelah yang disimpan rapat, rindu yang ditelan sendiri, dan luka kecil yang hanya dipahami oleh sesama perantau.
Merantau memang mendewasakan. Tapi, di saat yang sama, ia juga meninggalkan jejak emosional yang tak selalu mudah diungkapkan.
Berikut lima luka yang sering dirasakan anak rantau, tapi jarang dibicarakan. Pernah merasakannya juga?
