Merantau bukan sekadar berpindah kota. Tapi menjadi perjalanan batin yang diam-diam mengubah cara kita memaknai banyak hal, termasuk Ramadan. Saat masih tinggal bersama keluarga, Ramadan terasa seperti rutinitas yang sudah otomatis. Sahur dibangunkan, takjil sudah tersedia, tarawih tinggal ikut. Namun ketika kaki melangkah jauh dari rumah, Ramadan datang dengan wajah berbeda.
Di tanah rantau, kita belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang suasana, melainkan tentang kesadaran. Bukan hanya tentang keramaian masjid, tetapi tentang percakapan hati yang pelan-pelan menjadi lebih jujur. Kalau sedang merantau dan merasa Ramadan tahun ini berbeda, mungkin akan relate dengan lima makna berikut ini.
