ilustrasi membela diri (pexels.com/ Timur Weber)
Di banyak tempat, entah itu kantor, keluarga, atau pertemanan, orang yang cepat mengaku salah sering kali langsung dicap lemah atau mudah diinjak. Sementara yang keras mempertahankan posisinya justru kelihatan lebih tegas di mata orang sekitar. Standar tidak tertulis seperti ini diam-diam membentuk cara orang bersikap tanpa mereka sadari. Hasilnya, mengaku salah jadi terasa seperti sesuatu yang mahal, bukan soal seberapa besar kesalahannya.
Namun, yang lebih rumit, tidak ada yang mau duluan mengubah standar ini. Semua orang merasa tidak nyaman, tapi semua orang juga ikut menjaganya tanpa sadar. Padahal kalau ada satu orang yang berani duluan mengakui kesalahannya, justru bisa mengubah cara orang lain di sekitarnya melihat situasi yang sama.
Seseorang memilih membela diri daripada mengaku salah karena di baliknya ada banyak hal yang sudah lama terbentuk jauh sebelum momen itu terjadi. Bukan berarti membela diri itu selalu bisa dimaklumi, tapi setidaknya ada baiknya kita tidak langsung berkesimpulan paling buruk soal seseorang. Pada akhirnya, mau mengaku salah atau tidak, itu tetap pilihan.