Giat Usaha, UMKM Batik Gumelem Banjarnegara. (IDN Times/Dina Salma)
Kerajinan batik Gumelem telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Desa Gumelem semula adalah Kademangan Gumlem yang merupakan tanah perdikan atau daerah otonom yang dibebaskan dari pajak, hasil pemberian Kerajaan Mataram.
Giat bercerita, dalam sejarahnya, banyak masyarakat yang membuat kain batik untuk demang (kepala daerah) di masa itu. Inilah yang menjadi cikal bakal batik tulis khas Kademangan Gumelem yang kemudian dikenal secara luas menjadi keberagaman budaya Jawa Tengah.
Sejarah dan corak unik yang tertuang dalam lembar kain batik Gumelem, menjadi kekhasan dari wilayah tersebut. Demi melestarikan budaya leluhur di masa lampau, Giat berupaya untuk membentuk rumah kerajinan batik tulis di Desa Gumelem. Ia turut berkontribusi meramaikan galeri batik tulis di desa tersebut.
"Waktu itu, saya ada tamu dari provinsi, bilang 'Ini kan Gumelem terkenal dengan batiknya'. Setelah itu, saya kan belum mengerti, terus saya menemui pembatik yang sudah tua. Setelah itu, saya tanya, 'Mau gak mengajari aku membatik?' terus pengrajinannya berkenan. Itu pertama kali tahun 2007," cerita Giat tentang pertama kalinya membangun usaha galeri batik.
Telah berdiri sejak 18 tahun, rumah batik Giat Usaha saat ini memiliki 10 pengrajin yang menangani seluruh proses pengerjaan batik mulai dari pembuatan pola hingga finishing. Giat memberdayakan masyarakat lokal, utamanya perempuan dan ibu-ibu. Menurutnya, pekerjaan ini cukup fleksibel. Kain batik dapat dibawa pulang dan dikerjakan di rumah. Waktu pengerjaannya juga tidak terikat jadwal yang ketat.
Untuk selembar kain batik, waktu yang dibutuhkan bagi para pengrajin dapat beragam, disesuaikan dengan tingkat kerumitan, kondisi cuaca, dan teknik yang digunakan. Proses pembuatan batik diawali dengan menggambar sketsa di atas kain putih menggunakan pensil. Setelah itu, kain yang telah berisi pola akan digantungkan pada gawangan, yakni alat yang digunakan untuk membentangkan kain. Di atas gawangan berbahan bambu, kain tersebut digantungkan.
Di sisi pengrajin, wajan dan kompor kecil memanaskan malam atau lilin. Lantas, proses canting dimulai. Malam yang mendidih di atas wajan akan diciduk oleh canting, kemudian ditorehkan ke atas kain melalui pipa kecil yang disebut cucuk. Terlihat tangan para pengrajin begitu telaten menggambar mengikuti pola yang disebut nyanting.
Meski terlihat sederhana, nyanting memerlukan keahlian khusus. Pengrajin harus menyesuaikan suhu malam yang panas sebelum mulai ngelowongi (menggambar garis utama pada pola). Gemulai tangan para pengrajin akan mengikuti gambar di atas kain, menyesuaikan ketebalan dan bentuk yang telah didesain.
Pengrajin batik begitu pandai mengordinasikan cucuk canting untuk menghasilkan garis yang tebal ataupun tipis. Sesekali, ia meniup cucuk canting ketika dirasa malamnya mengendap. Ya, malam harus selalu dalam suhu panas untuk ditorehkan pada kain sebab mudah mengeras. Kemahiran dalam mengikuti bentuk pola, menyesuaikan suhu, serta menorehkan malam secara perlahan membuat proses nyanting memiliki peran krusial.
Kelompok pengrajin batik Giat Usaha sendiri terkadang membuat batik tulis full, artinya malam dilukiskan bolak-balik pada kedua sisi kain. Namun, ada pula yang hanya setengah batik. Maksudnya, pengaplikasian malam hanya pada satu sisi kain. Setelah proses membatik selesai, tahap selanjutnya adalah pencelupan warna, dilanjutkan penjemuran dan finishing.
Penjemuran masih memanfaatkan sinar matahari sehingga jika langit mendung, apalagi hujan, kain batik tak bisa dikeringkan. Semakin lama kering, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah kain akan semakin panjang.
"Paling tidak satu bulan dari awal bikin pola, cuaca juga pengaruh karena menjemurnya bergantung sama matahari," ujar Giat.