Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ogoh-Ogoh Terbuat dari Apa? Simak Bahan dan Tradisinya di Bali
Potret parade Ogoh-ogoh di Bali (IDN Times/Dewi Suci Rahayu)
  • Ogoh-ogoh menjadi ikon Nyepi sejak 1983, berakar dari ritual kuno seperti Ngaben Amatya dan Barong Landung, melambangkan kekuatan alam serta sifat negatif manusia.
  • Rangka ogoh-ogoh dibuat dari bambu lentur dan kuat, dipadukan dengan kayu untuk penopang, sementara kulitnya kini memakai kertas bekas dan bahan alami ramah lingkungan.
  • Pawai ogoh-ogoh digelar malam Pengerupukan sebagai simbol pembersihan diri dari Bhuta Kala, diakhiri pembakaran patung agar masyarakat menyambut Nyepi dengan hati bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di Bali selalu semarak dengan kehadiran ogoh-ogoh, patung raksasa yang merepresentasikan kekuatan alam semesta dan sifat negatif manusia. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana patung setinggi 5 meter itu bisa diarak dengan lincah tanpa hancur berantakan?

Ternyata, di balik tampilannya yang gahar, ada proses kreatif rumit yang melibatkan kombinasi bahan tradisional dan modern yang sangat menarik untuk diulik. Buat kamu yang penasaran, simak yuk penjelasan mengenai sejarah hingga bahan pembuatan ogoh-ogoh berikut ini!

1. Sejarah ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh (pexels.com/Pavel Kuznetsov)

Meskipun kini menjadi ikon Nyepi yang mendunia, keberadaan ogoh-ogoh dalam bentuk yang kita kenal sekarang relatif baru. Ogoh-ogoh mulai masif dibuat dan diparadekan sekitar tahun 1983, bertepatan dengan penetapan Nyepi sebagai hari libur nasional.

Namun, secara historis, akar tradisinya merujuk pada ritual kuno seperti Ngaben Amatya atau tradisi Barong Landung. Istilah "ogoh-ogoh" sendiri diambil dari bahasa Bali "ogah-ogah" yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan saat diarak.

2. Bambu sebagai tulang punggung alias rangka utama

Ribuan warga antusias menyaksikan festival seni budaya lintas agama dan pawai ogoh-ogoh di Kota Semarang, Sabtu (26/4/2025). (dok. Pemkot Semarang)

Rahasia kekuatan ogoh-ogoh terletak pada rangka bagian dalamnya. Material utama yang digunakan adalah bambu. Bambu dipilih karena sifatnya yang lentur, namun sangat kuat menopang beban.

Para seniman biasanya membuat teknik "ulatan" atau anyaman bambu yang dibentuk sesuai anatomi karakter yang diinginkan. Untuk bagian sendi atau penyangga beban yang lebih berat, kayu sering ditambahkan agar patung tetap stabil saat digoyang-goyangkan di atas tandu bambu (sanur) selama malam Pengerupukan.

3. Kertas dan bahan ramah lingkungan untuk kulit patung

Ilustrasi ogoh-ogoh (pixabay.com/doniadijaya)

Jika pada era 1990-an hingga awal 2000-an penggunaan styrofoam sempat populer karena ringan, kini tren tersebut telah bergeser. Berdasarkan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang tertuang dalam Peraturan Gubernur No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, para seniman kini kembali ke metode ramah lingkungan.

Oleh karena itu, kulit Ogoh-ogoh kini dominan terbuat dari lapisan kertas bekas atau koran yang direkatkan menggunakan lem kanji (aci). Penggunaan bahan alami seperti ijuk (serabut pohon aren) untuk rambut dan anyaman bambu halus (ulatan) untuk detail otot, memberikan kesan yang lebih artistik dan bernilai estetika tinggi.

4. Ornamen dan pewarnaan yang menghidupkan karakter

Ilustrasi ogoh-ogoh (pixabay.com/michelle pitzel)

Bagian terakhir yang menentukan "nyawa" dari sebuah ogoh-ogoh adalah proses finishing. Detail seperti mata, kuku, dan gigi biasanya dibuat dari bahan kayu atau resin yang dipahat halus.

Untuk pewarnaan, seniman menggunakan teknik airbrush atau cat manual untuk menciptakan efek bayangan (shading) yang dramatis. Tak lupa, kain-kain tradisional Bali seperti kain poleng atau kain beludru dengan payet ditambahkan sebagai busana patung, memberikan sentuhan kemewahan sekaligus mempertegas identitas budaya Bali yang kental.

5. Tradisi pawai Ogoh-Ogoh Hindu Bali

Ilustrasi ogoh-ogoh (pexels.com/Brian photograpy)

Pawai ogoh-ogoh dilaksanakan pada malam Pengerupukan, yakni satu hari sebelum hari raya Nyepi. Tradisi ini merupakan bagian dari ritual pembersihan alam semesta dari pengaruh negatif Bhuta Kala (kekuatan buruk). Para pemuda (Sekaa Teruna) akan mengarak patung ini keliling desa dengan iringan gamelan Beleganjur yang dinamis dan enerjik.

Puncaknya, ogoh-ogoh yang melambangkan sifat buruk manusia ini akan dibakar (di-pralina). Ini merupakan simbol pemusnahan kekuatan jahat agar manusia bisa memasuki hari Nyepi dengan hati yang bersih dan tenang.

Itu dia penjelasan terkait sejarah, tradisi, hingga bahan pembuatan ogoh-ogoh. Lebih dari sekadar susunan bambu dan kertas, pembuatan ogoh-ogoh adalah wujud nyata dari semangat ngayah atau gotong royong para pemuda di Bali. Selamat Nyepi bagi kamu yang merayakan!

Editorial Team