Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paket Kebahagiaan Terus Ketuk Pintu Rumah Kami dalam 18 Hari
Ilustrasi membungkus kado. (Pexels.com/Any Lane)

Lewat puisi Hujan Bulan Juni, mendiang Sapardi Djoko Damono menggambarkan ketabahan seseorang yang memendam rasa cinta. Diam-diam menyimpan rindu dengan tabah. Namun, cinta tetaplah perasaan yang indah meski disembunyikan.

Jika menilik kalender musim, Juni mestinya adalah musim kemarau bagi wilayah beriklim tropis, termasuk Indonesia. Maka, hujan diprediksi jarang sekali turun di bulan Juni. Inilah kenapa hujan di bulan Juni disimbolkan sebagai ketabahan. Kerinduan yang tabah antara air hujan, tanah, dan pepohonan. 

Izinkan aku meminjam makna puisi ini untuk menggambarkan bulan Juni 2021 yang kualami. Indah, sarat makna, dan mengajarkan arti cinta dalam ketabahan.

1. Fenomena yang ramai dibicarakan di televisi, akhirnya singgah ke rumah kami

Ilustrasi menggigil kedinginan. (Pexels.com/cottonbro)

Kupikir masuk angin biasa, suamiku terbangun jam dua pagi dalam keadaan menggigil hebat, di hari Rabu, 9 Juni 2021. Ditariknya selimut yang kupakai, hingga aku tersentak dan ikut terbangun. Dia bilang sekujur tubuhnya sakit jika digerakkan, tapi diam pun tetap terasa nyeri.

Lima hari kami bertahan dengan diagnosis gejala demam berdarah. Memasuki hari keenam, aku tiba-tiba merasakan hal aneh. Indra penciumanku tidak berfungsi, makanan yang kusantap semua hambar. Pikiran kami berdua otomatis mengarah ke satu hal yang sama, ke fenomena yang sudah setahun lebih jadi bintang utama di semua tayangan berita.

Virus itu akhirnya singgah ke rumah kami. Ternyata demam, mual, dan lemas yang suamiku alami bukanlah gejala penyakit demam berdarah. Kami berdua terpapar COVID-19, dibuktikan oleh hasil tes usap antigen. Tidak perlu berpikir panjang, langkah berikutnya yang harus kami ambil adalah melakukan isolasi mandiri sambil menunggu pemeriksaan lanjutan dari tim medis.

2. Tidak takut dijauhi, kami lebih takut membawa bencana ke rumah orang lain

Ilustrasi demam dan sakit kepala. (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Awalnya kami jelas terkejut, terbesit pertanyaan, "Kok, kita bisa kena, ya? Sudah prokes ketat, sudah vaksin, sudah membatasi diri gak bepergian kecuali mendesak." Ya, memang nyatanya siapa pun bisa kena, karena virus ini menyebar dengan cepat. Namun ada satu hal yang sangat kami syukuri, yaitu gejalanya tidak berat. Kami tidak harus menggunakan alat bantu apa pun, cukup isolasi mandiri di rumah. Salah satu manfaat vaksin, kan?

Sebetulnya, kami bisa saja menutupi kondisi ini. Cukup pakai masker dan menjaga jarak dari orang lain, kami bisa tetap beraktivitas di luar rumah. Pertanyaannya adalah, apakah kami setega itu? Apakah kami bisa menjamin virus di tubuh ini tidak menular ke orang lain, sementara banyak pakar sudah membuktikan bahwa partikel virus ini bisa menyebar lewat udara.

Kami putuskan melaporkan kondisi yang sebenarnya pada Ketua RT setempat. Untungnya, Ketua RT kami sangat kooperatif. Laporan kami dilanjutkan ke Satgas COVID-19 dan puskesmas terdekat. Kondisi kami dipantau setiap hari, sambil menunggu jadwal tes PCR untuk memgkonfirmasi keberadaan virus di tubuh kami.

Tidak munafik, ada kekhawatiran tentang respons tetangga, mengingat kami tinggal di kompleks perumahan padat penduduk, dan belum ada yang terpapar virus ini sebelumnya. Iya, kami yang pertama. Kami berusaha maklum jika ada yang menjauh, karena itu bentuk upaya mereka untuk menjaga diri. Daripada kami membawa bencana ke rumah mereka, ini jelas lebih merepotkan. Semoga sikap dan pilihan kami membantu #IndonesiaPulih dengan segera.

3. Setiap hari, pintu rumah kami diketuk oleh orang-orang baik hati

Ilustrasi keranjang berisi sayuran. (Pexels.com/Sam Lion)

Kami salah besar, virus ini ternyata tidak membuat orang-orang di sekitar kami panik atau gusar. Justru perhatian yang mereka tunjukkan begitu besar. Mereka bersedia membantu urusan kami, membelanjakan kebutuhan sehari-hari, dan terus memantau lewat sambungan telepon atau pesan singkat. Kata mereka, sakitnya kami adalah pelajaran berharga bagi semuanya. Dikelilingi orang baik ternyata adalah berkah yang selama ini jarang kami syukuri.

Rumah kami tidak henti-henti kedatangan paket bantuan. Ada yang mengantar bahan makanan, vitamin, camilan, buah-buahan, hingga memasok pakan kucing untuk hewan peliharaan kami. Itu baru tetangga dan teman yang tinggal tak jauh dari sini. Masih banyak kiriman dari teman-teman yang tinggal di kota lain. Selama 18 hari menjalani isolasi mandiri, kebahagiaan tidak berhenti mengetuk pintu rumah kami.

4. Terbukti, virus ini memang tak hanya menyerang ketahanan fisik

Ilustrasi wanita bersedih. (Pexels.com/Alex Green)

Meski terbilang ringan, gejala COVID-19 yang kami rasakan cukup bikin frustrasi selama seminggu pertama. Batuk, pilek, sakit kepala yang hilang-timbul, tubuh jadi lebih mudah lelah, dan napas yang terasa agak berat di malam hari. Jujur, waktu itu ada ketakutan bagaimana jika gejala ini bertambah parah dari hari ke hari. Apalagi banyak pasien yang diberitakan kondisinya memburuk.

Kini, setelah berhasil melewati masa sulit itu, aku sadar bahwa berjuang melawan COVID-19 bukan hanya soal memulihkan fisik. Kondisi batin dan mental harus sangat diperhatikan. Jika saat ini ada orang terdekatmu yang sedang berjuang untuk sembuh dari virus ini, jangan lupa perhatikan kondisi batinnya. Hibur dia, jadilah pendengar yang baik ketika dia mengeluh, dan beri dia ruang untuk menenangkan diri jika itu lebih nyaman baginya.

5. Tuhan menitipkan sebagian kebahagian orang lain di dalam bahagiamu

Ilustrasi merangkul sahabat. (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Begitulah kisahku di bulan Juni. Bukan tentang hujan yang arif, bijak, dan tabah, namun pengalamannya tidak kalah berkesan. Bagai puisi karangan mendiang Sapardi, Juni tahun ini mengajarkanku arti berbesar hati. Dan benar, cinta dari orang-orang di sekelilingku membuat masa sulit jadi lebih mudah dilalui.

Satu lagi pelajaran berharga yang ingin kubagi, bahwa Tuhan memang menitipkan sebagian kebahagiaan orang lain dalam rasa bahagia kita. Saat dinyatakan sembuh, bukan cuma aku yang berbahagia. Tetangga yang membantu, keluarga yang tidak pernah putus mengirim doa, dan teman-teman yang memerhatikan dari jauh semuanya ikut berbahagia. 

Aku, kamu, dan kita semua juga bisa berbagi kebahagiaan dengan saling menjaga. Selalu terapkan protokol kesehatan dan bantu sesama bagi yang mampu. #IndonesiaPulih dengan segera, jika kita mau mengupayakannya bersama-sama. Jaga kesehatanmu dan selalu berpikir positif, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team