Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelajaran Berharga dari Film Na Willa, Pentingnya Peran Orangtua
Cuplikan Na Willa (dok. Visinema Pictures)
  • Film Na Willa karya Ryan Adriandhy dari Visinema Studio menghadirkan kisah anak penuh imajinasi berlatar 1960-an, dengan pesan hangat tentang keluarga dan nilai kehidupan.
  • Pesan utama film ini menekankan pentingnya kejujuran, keberanian mengenali diri sendiri, serta menghargai keberagaman dan perasaan anak-anak dalam proses tumbuh kembang mereka.
  • Na Willa juga menginspirasi kebiasaan membaca sejak dini dan menunjukkan peran besar orangtua dalam mendampingi anak belajar, berimajinasi, serta membangun karakter positif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Na Willa hadir sebagai tontonan keluarga yang diproduksi oleh Visinema Studio dan merupakan karya sutradara Ryan Adriandhy, yang sebelumnya sukses dengan film Jumbo. Na Willa sendiri merupakan sosok anak kecil yang penuh dengan imajinasi dan rasa penasaran. Ia melihat dunia di sekitarnya dengan sudut pandang yang polos, jujur, sekaligus penuh pertanyaan. Hal-hal yang dianggap baisa oleh orang dewasa justru menarik untuknya.

Film Na Willa menghadirkan kembali nostalgia masa kecil, terlebih dengan latar cerita tahun 1960-an. Petualangan dengan teman-temannya menyusuri pasar, bermain di lapangan, hingga kedekatan dengan tetangga. Suasana yang dihadirkan begitu hangat dan membangkitkan kenangan di masa lalu.

Film anak ini akan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026, bertepatan sebagai film Lebaran. Jika menonton film Na Willa, setidaknya ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Berani jujur

Na Willa (dok. Visinema Picture)

Satu pelajaran berharga yang ditekankan Mak (panggilan Na Willa untuk ibunya), yakni kejujuran. Mak menegaskan, bahwa jujur artinya berkata benar, sementara Na Willa harus berkata jujur kepada siapa pun. Berkata bohong seperti ada kerikil di dalam sepatu, membuat seseorang berjalan dengan tidak nyaman.

Kejujuran bukan hanya soal berkata benar, melainkan jujur dengan perasaan yang dialami, identitas yang dimiliki, serta masalah yang dihadapi. Dengan membangun kebiasaan bersikap jujur, harapannya anak-anak dapat lebih memahami dirinya sendiri, menjalin hubungan yang lebih sehat dengan orang lain, serta menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih terbuka.

Hal ini juga disampaikan oleh Novia Puspa Sari selaku produser film Na Willa, saat penayangan film bersama SGM Eksplor pada Minggu (8/3/25), "Mungkin salah satunya adalah yang paling menarik yang kita ingin disampaikan tuh berani jujur. Berani jujur sama diri sendiri dan berani memeluk identitas sendiri. Karena kita berbicara soal keberagaman, kita berbicara soal hal-hal yang kadang lupa atau susah untuk didengar dan menghargai bahwa setiap anak itu memiliki problemnya masing-masing. Kadang kita suka lupa kalau problem anak-anak itu rasanya gak jauh lebih penting dari problem kita".

2. Mengajak anak-anak untuk lebih banyak membaca

Na Willa (dok. Visinema Picture)

Na Willa tak hanya menjadi representasi anak yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu tinggi, namun ia juga memperlihatkan kegemarannya membaca buku. Pak atau ayahnya, suka membelikan ia buku. Sementara, Mak menemaninya membaca. Tak heran, jika Na Willa tumbuh dengan kedekatan yang kuat dengan buku bacaan

"Dan kita juga pengin yuk mari belajar membaca lagi bersama keluarga gitu. Karena dunia anak-anak itu dunia yang sebenarnya terutama di golden era tuh dunia yang perlu kita peluk, perlu kita support. Salah satunya dengan mengajak teman-teman itu aktif membelajar, dan terus mengembangkannya. So we can reach their maximum potential sih, rasanya gitu. Luar biasa," ujar Novia saat ditanya pesan dari film ini.

Karakter Na Willa yang baru akan menginjak kelas 1 sekolah dasar namun sudah pandai membaca buku, memberi pesan akan pentingnya membiasakan diri dengan buku bacaan sejak dini. Tentunya, keterlibatan orangtua dalam menguatkan rutinitas membaca menjadi fondasi yang penting. Sebab, kebiasaan ini terbukti menghasilkan anak yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu besar, terlihat dari sifat Na Willa yang seperti itu.

3. Peran orangtua dalam mendidik anak

Penayangan film Na Willa karya Visinema Studios bersama SGM Eksplor pada Minggu (8/3/25) lalu di Plaza Senayan, Jakarta Pusat. (IDN Times/Dina Salma)

Dalam masa pertumbuhan anak, orangtua memiliki peran yang esensial. Proses belajar berlangsung alami, melalui percakapan sehari-hari dan kegiatan bersama. Sebab, di fase golden age, anak tidak hanya belajar tentang pengetahuan dasar, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, serta membangun kepercayaan diri.

"Ibu sering disebut sebagai guru pertama bagi anak karena melalui interaksi sehari-hari di rumah, anak mulai belajar mengenal berbagai hal di sekitarnya. Dari proses ini, rasa ingin tahu anak dapat berkembang dan membantu mereka menjadi lebih cepat tanggap dalam memahami lingkungan, memecahkan masalah sederhana, serta belajar dari pengalaman sehari-hari. Dukungan, stimulasi yang tepat, serta kedekatan emosional yang diberikan ibu dapat membantu anak bertumbuh lebih optimal dan mempersiapkan mereka menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” jelas Aninda, Praktisi Psikologi Anak Usia Dini di kesempatan yang sama.

Film Na Willa juga menampilkan bagaimana peran Mak dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ia mengajarkan nilai-nilai kehidupan, makna toleransi, serta mendidik putrinya untuk mencapai potensi maksimal, melalui dialog yang hangat dan pengalaman belajar yang personal untuk Na Willa.

Editorial Team