Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita di dekat lilin yang menyala
ilustrasi wanita di dekat lilin yang menyala (pexels.com/studio cottonbro)

Intinya sih...

  • Ulang tahun menjadi pengingat ketidakhadiran orang terdekat

  • Kenangan ulang tahun di masa lalu muncul tanpa diundang

  • Rasa bersalah saat mencoba merasa bahagia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ulang tahun sering dipahami sebagai momen bahagia yang penuh ucapan, doa, dan harapan baik. Namun, tidak semua orang merasakannya dengan perasaan yang sama, terutama setelah mengalami kehilangan orang terdekat. Alih-alih ingin merayakan, sebagian orang justru merasa emosinya campur aduk dan sulit dijelaskan.

Kehilangan bisa mengubah cara seseorang memaknai hari ulang tahun secara perlahan. Perasaan sedih, rindu, dan hampa kerap muncul bersamaan dengan tanggal yang seharusnya spesial. Dari sinilah birthday blues sering muncul tanpa disadari, dan berikut beberapa pemicu yang kerap terjadi.


1. Ulang tahun menjadi pengingat paling nyata akan ketidakhadiran seseorang

ilustrasi wanita duduk di atas ranjang (pexels.com/studio cottonbro)

Ulang tahun yang datang setelah kehilangan sering terasa berbeda karena absennya satu sosok penting. Tidak ada lagi ucapan sederhana atau kehadiran yang dulu terasa biasa, tetapi bermakna. Kehilangan ini terasa semakin jelas ketika hari ulang tahun tiba.

Perasaan tersebut muncul bukan karena ingin larut dalam kesedihan, melainkan karena otak otomatis mengingat pola lama. Tubuh dan emosi masih mengenali momen ulang tahun sebagai waktu kebersamaan. Ketika kenyataan tidak lagi sama, birthday blues pun muncul secara perlahan.


2. Kenangan ulang tahun di masa lalu muncul tanpa diundang

ilustrasi perayaan ulang tahun bersama teman-teman (pexels.com/Pexels)

Saat ulang tahun datang, ingatan tentang perayaan sebelumnya sering muncul begitu saja. Momen kecil seperti kue, pesan singkat, atau foto lama bisa memicu rasa rindu yang mendalam. Kenangan ini tidak selalu datang dengan sengaja.

Perbandingan antara dulu dan sekarang sering membuat hati terasa sesak. Bukan karena tidak bersyukur, tetapi karena kehilangan membuat kenangan terasa lebih hidup. Dari sinilah emosi sedih bercampur nostalgia dan memicu birthday blues.


3. Rasa bersalah saat mencoba merasa bahagia

ilustrasi wanita menatap kue ulang tahun (pexels.com/pham manh)

Sebagian orang merasa tidak nyaman ketika mencoba menikmati ulang tahun setelah kehilangan. Ada perasaan seolah kebahagiaan berarti melupakan orang yang telah pergi. Konflik batin ini sering terjadi tanpa disadari.

Akibatnya, seseorang cenderung menahan diri untuk benar-benar merayakan. Senyum terasa dipaksakan, dan kebahagiaan pun tidak dirasakan secara utuh. Rasa bersalah inilah yang sering menjadi pemicu birthday blues yang cukup kuat.


4. Perasaan hampa meski dikelilingi orang terdekat

ilustrasi sekelompok orang merayakan ulang tahun (pexels.com/Mikhail Nilov)

Dukungan dari keluarga dan teman tentu sangat berarti. Namun, kehilangan satu orang tertentu tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh kehadiran orang lain. Kehampaan ini sering terasa lebih jelas di hari ulang tahun.

Keramaian tidak selalu menghilangkan rasa sepi. Justru di tengah banyaknya perhatian, ketidakhadiran orang yang dirindukan terasa semakin nyata. Kondisi ini membuat birthday blues muncul meski secara sosial tidak benar-benar sendirian.


5. Makna ulang tahun bergeser dari perayaan menjadi refleksi hidup

ilustrasi seseorang merayakan ulang tahunnya sendirian (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Setelah kehilangan, ulang tahun sering berubah menjadi momen refleksi. Seseorang mulai memikirkan waktu, hubungan, serta perubahan hidup yang telah terjadi. Proses ini berlangsung secara alami.

Refleksi tersebut tidak selalu membawa perasaan tenang. Terkadang, justru muncul kesadaran akan hal-hal yang tidak bisa diulang. Pergeseran makna inilah yang membuat ulang tahun terasa lebih berat dan memicu birthday blues.


6. Kesadaran akan waktu dan usia terasa lebih menekan

ilustrasi wanita berbaring di ranjang (pexels.com/studio cottonbro)

Kehilangan membuat seseorang lebih peka terhadap berjalannya waktu. Bertambah usia tidak lagi terasa netral, tetapi menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kesadaran ini sering muncul di hari ulang tahun.

Perasaan tersebut bisa berkembang menjadi kecemasan atau kesedihan. Bukan karena takut menua, melainkan karena menyadari betapa rapuhnya kehidupan. Sensitivitas terhadap waktu ini menjadi salah satu pemicu birthday blues.


7. Tekanan untuk tetap terlihat kuat dan bersyukur

ilustrasi wanita duduk sambil memegang kue (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Lingkungan sering mengharapkan seseorang terlihat baik-baik saja di hari ulang tahun. Ucapan selamat dan doa baik datang bertubi-tubi. Di sisi lain, emosi yang dirasakan belum tentu sejalan.

Tekanan untuk tetap tersenyum membuat banyak orang memilih memendam perasaan. Emosi yang tidak tersalurkan akhirnya menumpuk. Inilah yang membuat birthday blues terasa lebih dalam dan sulit dihindari.

Birthday blues setelah kehilangan merupakan respons emosional yang manusiawi. Tidak semua orang bisa langsung merasa baik-baik saja di hari ulang tahun, dan hal itu bukan tanda kelemahan. Memberi ruang pada diri sendiri untuk merasakan emosi adalah bagian dari proses pemulihan. Dengan memahami pemicunya, ulang tahun dapat perlahan dimaknai dengan cara yang lebih jujur dan penuh penerimaan.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team