Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Penanggalan Jawa? Ini Dia Penjelasannya!
Ilustrasi kalender (IDN Times/Arief Rahmat)

Untuk sebagian orang, mungkin sudah gak asing lagi dengan penanggalan Jawa. Penanggalan ini merupakan sebuah sistem yang bermula dari Kesultanan Mataram dan telah digunakan sejak masa tersebut

Terdapat dua sistem yang kala itu digunakan, Kalender Jawa dan Kalender Masehi. Melansir laman resmi Gramedia, dijelaskan bahwa kalender Masehi biasa dipakai untuk menyelaraskan urusan administrasi kerajaan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat, sedangkan kalender Jawa sebagai patokan penyelenggaraan upacara adat kerajaan.

Nah, bagaimana sih sistem penanggalan Jawa dan ada hari apa saja di dalamnya? Mari simak bersama artikel ini!

1. Asal usul penanggalan Jawa

ilustrasi kalender (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Digunakan pertama kali pada masa Kesultanan Mataram, kalender Jawa juga dapat disebut sebagai Kalender Sultan Agungan. Kalender tersebut diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, raja ketiga dari Kesultanan Mataram (1613-1645 M).

Pada masa itu, perayaan adat yang diselenggarakan kerajaan gak berjalan selaras dengan perayaan hari besar Islam. Agar perayaan tersebut dapat diselenggarakan bersamaan, Sultan Agung kemudian menciptakan sistem penanggalan baru atau yang lebih dikenal sebagai kalender Jawa. 

2. Sistem penanggalan Jawa

ilustrasi kalender (Pexels/@olyakobruseva)

Sistem penanggalan ini memiliki dua siklus hari. Ada siklus mingguan, yakni tujuh hari mulai Ahad sampai Sabtu dan siklus pancawara dengan lima hari pasaran.

Gak hanya itu, penanggalan ini  juga turut memadukan sistem penanggalan dari budaya yang berbeda. Tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung, mereka memadukan antara sistem penanggalan Islam dan Hindu.

3. Lima hari pasaran kalender Jawa

Ilustrasi Tanggal Waktu (Kalender) (IDN Times/Arief Rahmat)

Jika di kalender Masehi terdapat tujuh hari, maka lain lagi di kalender Jawa. Kamu hanya akan menemukan lima hari yang disebut pasaran. Lima hari tersebut terdiri dari Pahing (Jenar), Pon (Palguna), Legi (Manis), Wage (Cemengan), dan Kliwon (Kasih).

Fakta menariknya, masyarakat dahulu khususnya para pedagang, kerap menggunakannya sebagai petunjuk untuk membuka pasar. Kemudian dari hari-hari pasaran tersebut, masyarakat Jawa dapat mengetahui pasar mana yang paling ramai pada hari itu, seperti yang dikutip dari kumparan.

4. Penanggalan Jawa bisa menjadi penentu hari-hari baik

ilustrasi kalender (unsplash.com/Estée Janssens)

Di zaman yang telah berkembang secara modern ini, masih banyak masyarakat, khususnya Jawa yang masih menerapkan penanggalan Jawa sebagai penentu hari baik. Melansir Gramedia, kalender Jawa digunakan untuk menentukan hari baik dari berbagai kegiatan dan acara penting seperti pernikahan, pendirian rumah, bahkan untuk berpergian.

Mereka percaya bahwa sebelum melaksanakan itu semua, ada baiknya untuk terlebih dahulu menentukan hari baik. Penentuan itu dilakukan supaya semua dapat berjalan dengan lancar dan gak ada kejadian buruk, baik dari sebelum acara sampai selesai. 

Demikian penjelasan mengenai penanggalan Jawa beserta lima hari pasaran. Semoga dapat dengan mudah di mengerti, ya!

Editorial Team