Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bersama teman
ilustrasi bersama teman (pexels.com/hartono subagio)

Intinya sih...

  • Teman marketing bisa menawarkan produknya kepadamu dengan diskon khusus

  • Temanku mengajakku ikut berjualan dengan iming-iming komisi untuk meningkatkan penjualan

  • Kamu bisa meminta bantuan teman marketing untuk menjual sesuatu karena jaringannya luas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya teman dengan berbagai pekerjaan sangat menyenangkan. Meski kadang obrolan kalian kurang nyambung, keberagaman profesi bikin pengetahuanmu jauh lebih luas. Lagi pula, apa pun pekerjaan mereka pasti sedikit banyak juga berhubungan dengan kehidupanmu sehari-hari.

Teman yang berprofesi sebagai dokter misalnya, bisa membantu meningkatkan kepedulianmu akan kesehatan. Sementara kawan yang bekerja sebagai guru di pelosok memberitahumu akan potret pendidikan di tanah air yang sesungguhnya. Lalu apakah ada temanmu yang bekerja di bidang marketing?

Berteman dengannya juga kasih banyak pengalaman seru, lho. Sering kali staf marketing dianggap mata duitan karena berfokus pada pemasaran produk. Namun, berteman dengannya sama sekali tidak buruk. Kalau kawanmu bergerak di bidang pemasaran, niscaya lima pengalaman seru punya teman marketing berikut ini pernah dirasakan olehmu.

1. Ditawari untuk membeli produk yang dijualnya

ilustrasi teman menawarkan diskon (pexels.com/Gustavo Fring)

Produk apa yang dijual oleh temanmu? Selama masih memungkinkan buatmu membelinya, kayaknya dia gak mau kehilangan kesempatan untuk mencetak transaksi. Pokoknya demi target penjualan tercapai sekaligus bikin produknya lebih dikenal.

Bahkan bila ia menjual produk buat cowok sementara kamu cewek, dia gak hilang akal. Ia akan merayumu untuk tetap membelinya buat pasangan, ayah, atau saudaramu yang cowok. Penawarannya pun dilengkapi dengan diskon khusus karena kalian berteman.

Dirimu dapat dengan mudah tergoda kemudian membelinya. Atau, dasar pembelianmu lebih ke rasa tak enak sekaligus kasihan pada teman sendiri. Toh, sebagian keuntungan dari penjualan itu masuk ke kantongnya dan membantunya bertahan hidup bersama keluarga.

2. Ia bahkan mengajakmu ikut berjualan dengan iming-iming komisi

ilustrasi percakapan (pexels.com/Armin Rimoldi)

Sebagai teman, dirimu tidak hanya didekati untuk ditawari produk. Kawanmu yang jago di bidang marketing paham betul bahwa kerja sama dapat meningkatkan penjualan ketimbang ia bekerja sendirian. Dia tahu pentingnya memiliki banyak jaringan penjualan.

Tambahan jaringan penjualan berarti potensi pembeli juga bertambah. Oleh sebab itu, dia gak ragu untuk berusaha merekrutmu sebagai bagian dari tim pemasarannya. Kamu diberi tugas yang lebih ringan supaya gampang.

Misal, dirimu cukup mengiklankan produk-produknya di media sosial. Bila ada orang yang tertarik, kamu tinggal mengarahkannya ke kawan yang staf marketing. Nanti dia yang menindaklanjutinya hingga transaksi terjadi. Sebagai imbalannya, dirimu bakal memperoleh sejumlah komisi.

3. Ketika dirimu butuh bantuan menjual sesuatu bisa minta tolong padanya

ilustrasi menjual rumah (pexels.com/RDNE Stock project)

Kawanmu andal sekali dalam hal memasarkan apa pun. Ia punya banyak pengalaman. Bahkan mungkin seluruh pengalaman kerjanya memang di bidang pemasaran. Cuma bidang usaha kantornya yang beda-beda.

Dia pernah menjadi marketing asuransi, properti, mobil, sampai alat elektronik. Dengan segudang pengalaman tersebut, kamu bisa meminta bantuannya untuk menjualkan sesuatu. Walaupun barangmu beda dengan produk yang kini dipasarkannya, jaringannya luas.

Ada banyak sekali nomor kontak di smartphone-nya. Akun media sosialnya juga banjir pengikut. Sekali saja ia mengiklankan barangmu boleh jadi langsung ada calon pembeli yang nyangkut. Seandainya dirimu mesti menawarkannya sendiri ke sana kemari, sampai lama belum tentu terjual.

4. Kenalannya banyak, lain denganmu

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Mohammed Harshil)

Seperti disinggung dalam penjelasan poin sebelumnya, kenalan temanmu yang merupakan staf marketing pasti banyak. Sebagian orang hanya membeli produk darinya lalu tak pernah berkomunikasi atau bertemu lagi. Namun, gak sedikit pula pembeli yang kemudian berkembang menjadi kawannya.

Sering kali ketika kalian bersama, dirimu dikejutkan oleh beberapa orang yang mendadak menyapa temanmu. Mereka tampak akrab. Dia seolah-olah punya kenalan di setiap tikungan.

Beda denganmu yang barangkali bekerja di depan laptop melulu. Boro-boro kenalan baru di mana-mana. Teman lama saja mudah melupakanmu saking jarangnya kalian berinteraksi. Sementara kawanmu yang bekerja di bidang pemasaran sudah seperti selebritas yang dikenal di mana-mana.

5. Kamu belajar banyak dari skill komunikasinya

ilustrasi percakapan dengan teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Seorang tenaga marketing tidak harus ceriwis. Kawanmu pun mungkin agak introver. Namun, kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain tetap di atas rata-rata. Tanpa terkesan berisik ia tahu betul kapan dan pada siapa harus mengatakan apa.

Ini membuat banyak orang nyaman berbicara dengannya serta mudah menaruh kepercayaan. Dia terlihat tenang bertemu dan berbicara dengan orang-orang baru. Ia seakan-akan bisa mengatasi orang dengan berbagai karakter.

Komunikasinya baik secara lisan maupun tulisan sangat efektif dan efisien. Dirimu yang kerap kagok saat harus berinteraksi dengan orang lain dapat belajar banyak darinya. Kamu sering bersamanya serta melihatnya membangun komunikasi dua arah dengan orang lain pun telah meningkatkan kepercayaan dirimu buat melakukan hal yang sama.

Ada pengalaman seru punya teman marketing. Pahamilah juga bahwa mereka gak perlu untuk ditakuti atau dihindari. Seakan-akan ia berteman denganmu hanya untuk memaksamu membeli produk yang dipasarkannya. Staf marketing juga butuh bergaul yang tak melulu diwarnai transaksi jual beli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team