Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Penyebab Usaha Kos-kosan Bisa Gak Secuan Dulu
ilustrasi kamar kos (pexels.com/Hakim Santoso)
  • Minat terhadap kos-kosan menurun karena banyak orang tua kini memilih membelikan rumah untuk anaknya, bukan lagi menyewa kamar sementara.
  • Kenyamanan dan fasilitas jadi faktor utama; calon penyewa lebih tertarik pada kos modern dan lengkap, membuat modal awal usaha meningkat.
  • Perbaikan infrastruktur, kemudahan transportasi, serta tren WFH dan gaya hidup hemat Gen Z mengurangi kebutuhan untuk tinggal di kos-kosan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu tertarik untuk terjun ke bisnis properti? Bisnis ini digadang-gadang selalu menguntungkan dibandingkan dengan bidang lain. Memang harga properti cenderung terus mengalami kenaikan. Namun, soal untung atau tidaknya tak bisa cuma dilihat dari situ.

Tergantung kamu persisnya mau usaha apa? Salah satu usaha properti yang sering dianggap tak lekang oleh waktu ialah kos-kosan. Dirimu membayangkan setiap bulan tinggal menerima pembayaran sewa kamar.

Akan tetapi, kamu perlu tahu bahwa usaha kos-kosan tidak selalu manis. Terlebih, sekarang ada rumah subsidi dengan uang muka dan cicilan ringan. Gak apa-apa, nantinya dirimu tetap ingin menjalankan usaha ini. Namun, pahami dulu penyebab usaha kos-kosan bisa gak secuan dulu, alias mulai layu, agar kamu bisa mengantisipasinya.

1. Sebagian orangtua pilih membelikan anaknya rumah sekalian daripada ngekos

ilustrasi teman kos (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Sering kali usaha kos-kosan menargetkan mahasiswa. Dulu memang begitu. Mayoritas penghuni kos-kosan berstatus mahasiswa. Akan tetapi, kini sebagian orangtua makin berani dalam memfasilitasi anak.

Buat orangtua yang cukup mapan, kos-kosan bukan satu-satunya solusi apabila anaknya hendak merantau. Mereka tak merasa sayang untuk membeli rumah sekalian supaya anak lebih nyaman. Pertimbangan lainnya, masih ada nilai investasi dalam keputusan pembelian rumah tersebut. Tak seperti indekos yang cuma menguras isi dompet buat bayar sewa.

2. Kalaupun indekos, pilih yang fasilitasnya lengkap dan bagus

ilustrasi rumah kos mewah (pexels.com/Tristan Paolo)

Bukannya sekarang sama sekali tidak ada orang yang mau indekos. Hanya saja, pilihan kos-kosannya mengalami pergeseran. Dahulu orang cenderung mencari kos-kosan dengan harga terjangkau sekalipun sederhana. Terpenting fungsinya sebagai tempat tinggal.

Gak ada dapur, toilet bersama, bahkan mereka mesti piket membersihkan kamar mandi pun tak masalah. Namun, saat ini banyak orang mementingkan kenyamanan serta estetika. Mereka memilih kos-kosan yang lebih lengkap fasilitasnya.

Bangunannya baru dan cukup mewah. Artinya, jika dirimu ingin membuka kos-kosan harus siap modal cukup besar supaya bisa bersaing dengan tempat kos lain yang apik. Atau, kamu benar-benar menargetkan kalangan menengah ke bawah dengan konsekuensi mungkin setorannya kurang lancar.

3. Jalan-jalan makin bagus, PP tiap hari lebih mudah

ilustrasi kos-kosan (pexels.com/cottonbro studio)

Kamu yang sekarang berusia 30 tahun ke atas melihat sendiri perubahan kondisi jalan. Dahulu banyak jalan sempit dan rusak. Kalaupun jalan sudah diaspal, lubang di mana-mana serta bergelombang.

Sangat tidak aman buat berkendara malam-malam dan dalam keadaan lelah. Kini meski belum sempurna, banyak jalan kian lebar serta mulus. Bahkan jalan tol menghubungkan banyak daerah. Orang dapat berkendara dengan lebih aman dan cepat. Ngekos tidak lagi urgen.

4. Begitu juga transportasi umum makin beragam dan menjangkau banyak lokasi

ilustrasi kos-kosan (pexels.com/cottonbro studio)

Berikutnya faktor membaiknya layanan transportasi umum. Armadanya kian bagus. Gak seperti dulu yang cuma ada angkot atau bus kota dengan kondisi memprihatinkan. Cara pembayaran pun tambah modern. Perjalanan lebih nyaman dengan AC serta ketepatan waktu.

Baik untuk perjalanan dalam maupun luar kota makin gampang. Orang yang dahulu lama indekos pun barangkali merasa sekarang tidak memerlukannya. Jam berapa pun mereka selesai bekerja masih ada kendaraan umum yang dapat mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah.

5. Masyarakat bisa ambil cicilan kendaraan dengan DP rendah

ilustrasi naik motor (pexels.com/SenzaOrostix Husain Umar)

Tentu ini terasa sangat membantu masyarakat yang butuh kendaraan untuk aktivitas sehari-harinya. Akan tetapi, mudahnya membawa pulang sepeda motor dengan uang muka ratusan ribu rupiah berdampak pada usaha kos-kosan. Orang lebih suka berkendara 30 menit bahkan lebih ketimbang ngekos.

Menurut mereka, uang untuk bahan bakarnya masih lebih rendah daripada sewa kamar sebulan. Pun mereka dapat bertemu keluarga setiap hari. Bisa dibilang sekarang hampir semua orang punya kendaraan pribadi. Minimal sepeda motor.

6. Generasi Z mau tinggal bareng ortu biar bisa nabung lebih banyak

ilustrasi kos-kosan (pexels.com/cottonbro studio)

Generasi Z punya cara pandang yang cukup menarik terkait pengaturan keuangan. Sekalipun mereka suka jalan-jalan dan menikmati kuliner kekinian, mereka tetap tahu harus berhemat. Generasi Z barangkali agak boros dalam beberapa hal, tapi punya strategi penghematan lainnya.

Salah satunya, dengan tidak tergesa-gesa memutuskan indekos baik saat kuliah maupun bekerja. Dengan begitu, uang saku mereka yang berstatus mahasiswa lebih aman. Mereka tak perlu belanja bulanan ala anak kos.

Generasi Z yang telah bekerja pun rela naik KRL atau motor setiap hari agar lebih banyak gaji dapat ditabung. Biaya makan, sabun, listrik, dan lainnya masih ditanggung orangtua. Ini bukan tanda mereka gak mandiri. Sebab ending-nya mereka dapat lebih cepat siap membeli rumah, membangun usaha, atau menikah berbekal tabungan.

7. Tren WFH atau WFA

ilustrasi WFH (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pengaruh kemajuan teknologi sehingga orang tak harus selalu bekerja dari kantor pun berdampak besar pada usaha kos-kosan. Sekarang sebagian pekerja kantoran saja punya jatah WFH atau WFA sekian hari dalam sepekan. Belum lagi tambah banyak orang yang bekerja secara lepas.

Begitu pula mahasiswa tak selalu mengikuti kuliah di dalam kelas. Terlebih di semester-semester akhir. Jumlah mata kuliah yang diambil makin sedikit. Semua mata kuliah dasar sudah lulus. Skripsi pun dalam proses pengerjaan. Beberapa dosen menerapkan kuliah online. Sebagian mahasiswa merasa tidak perlu lagi indekos.

Usaha kos-kosannya bukannya sudah mati total. Hanya saja, pasarnya mulai terpecah sehingga persaingan lebih ketat. Setelah mengetahui penyebab usaha kos-kosan bisa gak secuan dulu, jangan gentar jika tetap ingin berbisnis di bidang ini. Terpenting kamu melakukan persiapan dengan matang, ya. Termasuk perhitungan untung rugi. Jangan sampai rumah kosmu malah tidak terawat saking seretnya aliran cuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team