Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Pos Pengeluaran Ramadan yang Sering Bengkak, Sudah Siap Antisipasi?
ilustrasi memegang uang (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Ramadan sering membuat pengeluaran membengkak karena kebiasaan impulsif, seperti membeli makanan buka puasa berlebihan dan tergoda promo belanja online malam hari.
  • Tradisi bukber yang padat serta persiapan Lebaran seperti baju baru, hampers, dan THR sering menambah beban finansial tanpa disadari.
  • Semangat bersedekah perlu diimbangi perencanaan agar keuangan tetap stabil, sehingga ibadah dan kebersamaan Ramadan berjalan seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan sering disebut sebagai bulan penuh berkah. Namun di balik suasana religius dan hangatnya kebersamaan, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Tanpa sadar kita justru terjebak pengeluaran yang diam-diam membengkak.

Tanpa perencanaan yang matang, kondisi finansial bisa terasa oleng bahkan sebelum lebaran tiba. Banyak orang merasa sudah berhemat, tetapi tetap saja uang terasa cepat habis. Supaya dompet tetap aman sampai akhir bulan, yuk kenali lima pos pengeluaran Ramadan yang paling sering bengkak berikut ini!

1. Menu buka puasa yang terlalu impulsif

ilustrasi menyantap makanan (pexels.com/Alexy Almond)

Setelah seharian menahan lapar dan haus, wajar jika muncul keinginan untuk balas dendam saat berbuka. Masalahnya, rasa lapar sering kali membuat kita kalap membeli berbagai macam makanan sekaligus. Takjil berderet, minuman manis beraneka warna, lauk tambahan yang sebenarnya tidak direncanakan, semuanya terlihat menggoda.

Apalagi jika melewati pasar Ramadan atau deretan penjual makanan di sore hari. Pengeluaran membengkak bukan hanya karena frekuensi beli makanan jadi. Tetapi juga karena kebiasaan mencoba-coba menu baru. Tanpa disadari, anggaran makan bisa meningkat dua kali lipat dibanding bulan biasa.

2. Kebiasaan belanja online tengah malam

ilustrasi aplikasi online shop (pexels.com/PhotoMIX Company)

Ramadan identik dengan aktivitas malam yang lebih panjang. Setelah tarawih, banyak orang menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial atau marketplace. Di sinilah godaan diskon Ramadan mulai beraksi. Flash sale, promo bundling, hingga gratis ongkir membuat belanja terasa hemat.

Padahal sebenarnya tidak direncanakan. Barang yang tadinya tidak masuk daftar kebutuhan tiba-tiba terasa penting. Tanpa kontrol, pengeluaran kecil tapi sering ini akan terasa signifikan di akhir bulan. Ditambah lagi, menjelang Lebaran biasanya promosi semakin gencar.

3. Anggaran bukber yang beruntun

ilustrasi uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Buka bersama (bukber) menjadi tradisi yang sulit dihindari. Mulai dari teman sekolah, teman kerja, keluarga besar, hingga komunitas. Semuanya ingin mengadakan momen silaturahmi. Sekali bukber mungkin terasa biasa saja.

Namun jika jadwalnya padat dan lokasi yang dipilih adalah restoran atau kafe, total pengeluaran bisa cukup besar. Sering kali kita merasa tidak enak untuk menolak, sehingga jadwal bukber terus bertambah. Akibatnya, anggaran hiburan membengkak tanpa terasa.

4. THR dan persiapan lebaran

ilustrasi memegang uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Meski Ramadan belum berakhir, banyak orang sudah mulai memikirkan kebutuhan lebaran sejak pertengahan bulan. Mulai dari beli baju baru, hampers, hingga kue kering. Jika tidak direncanakan sejak awal, pengeluaran ini bisa terasa berat.

Apalagi jika ditambah kewajiban memberi THR kepada keluarga. Sering kali kita ingin memberikan yang terbaik tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Padahal, esensi Lebaran bukan pada kemewahan, melainkan kebersamaan.

5. Sedekah tanpa perencanaan

ilustrasi berbagi (pexels.com/Cottonbro studio)

Ramadan adalah bulan berbagi. Semangat bersedekah tentu sangat positif dan patut dijaga. Namun tanpa perencanaan, niat baik ini juga bisa memengaruhi stabilitas keuangan.

Beberapa orang terbawa suasana sehingga berdonasi di banyak tempat tanpa menghitung totalnya. Akhirnya, kebutuhan pribadi justru terganggu. Perlu diingat, sedekah terbaik adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan tidak memberatkan diri sendiri.

Mengelola keuangan di bulan Ramadan sebenarnya bukan soal membatasi kebahagiaan. Tetapi tentang menyeimbangkan antara ibadah, kebersamaan, dan tanggung jawab finansial. Dengan mengenali lima pos pengeluaran yang sering membengkak, kita bisa lebih waspada sejak awal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian