Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Rekomendasi Buku untuk Kamu yang Sulit Percaya Sama Orang Lagi
Cover buku “Laut Bercerita” & “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” (kolase foto via Gramedia & Amazon)
  • Artikel membahas lima buku yang membantu pembaca memahami dan memulihkan rasa sulit percaya pada orang lain setelah mengalami kekecewaan atau pengkhianatan.
  • Masing-masing buku menawarkan perspektif berbeda, mulai dari luka masa kecil, pentingnya batasan sehat, hingga proses penyembuhan diri melalui refleksi emosional dan hubungan manusiawi.
  • Pesan utama artikel menekankan bahwa kehilangan kepercayaan adalah hal wajar, namun dengan proses perlahan dan dukungan bacaan yang tepat, rasa percaya bisa tumbuh kembali secara sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa sulit percaya pada orang lain biasanya muncul setelah seseorang pernah kecewa, dibohongi, ditinggalkan, atau dikhianati. Luka seperti itu sering membuat orang jadi lebih hati-hati membuka hati, bahkan untuk orang yang sebenarnya tulus. Akibatnya, hubungan baru terasa menakutkan karena ada rasa takut kejadian lama akan terulang lagi.

Kalau kamu sedang ada di fase itu, membaca buku bisa jadi salah satu cara untuk memahami perasaanmu dengan lebih pelan. Berikut rekomendasi buku yang cocok untukmu yang sedang sulit percaya sama orang lagi.

1. “Adult Children of Emotionally Immature Parents” by Lindsay C. Gibson

Cover buku “Adult Children of Emotionally Immature Parents” (foto via Amazon)

Buku ini membahas bagaimana pola hubungan di masa kecil bisa memengaruhi cara seseorang percaya kepada orang lain saat dewasa. Lindsay C. Gibson menjelaskan bahwa banyak orang tumbuh dengan luka emosional tanpa benar-benar menyadarinya.

Isi bukunya membantu pembaca memahami kenapa mereka sering sulit terbuka, takut kecewa, atau selalu merasa harus menjaga diri dalam hubungan. Penjelasannya cukup dalam, tetapi tetap mudah dipahami karena banyak contoh situasi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

2. “Laut Bercerita” by Leila S. Chudori

Cover buku “Laut Bercerita” (foto via Gramedia)

Novel ini memang dikenal karena cerita sejarah dan kehilangan, tetapi di dalamnya juga ada banyak pembahasan tentang rasa percaya, pengkhianatan, dan hubungan antarmanusia. Leila S. Chudori menulis cerita dengan emosi yang kuat dan sangat manusiawi.

Meski cukup emosional, novel ini juga menunjukkan bahwa manusia tetap membutuhkan hubungan dan harapan untuk bertahan hidup. Buku ini cocok untukmu yang suka cerita mendalam tentang luka, kehilangan, dan proses memahami arti kepercayaan dalam hidup.

3. “Set Boundaries, Find Peace” by Nedra Glover Tawwab

Cover "Set Boundaries, Find Peace" by Nedra Glover Tawwab (foto via Goodreads)

Kadang, seseorang sulit percaya lagi karena terlalu sering dikecewakan saat berusaha jadi “baik” untuk semua orang. Buku karya Nedra Glover Tawwab ini, membahas pentingnya batasan sehat dalam hubungan.

Buku ini menjelaskan bahwa menjaga jarak atau berkata tidak bukan berarti jahat. Justru, batasan yang sehat membantu seseorang merasa lebih aman dan nyaman dalam membangun hubungan dengan orang lain. Penjelasannya sederhana dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.

4. “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” by Baek Sehee

Cover buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” (foto via Amazon)

Buku ini berisi percakapan antara Baek Sehee dan terapisnya tentang rasa cemas, insecure, dan hubungan dengan orang lain. Cara penulisannya sangat jujur sehingga banyak pembaca merasa relate dengan isi pikirannya.

Di dalam buku ini, penulis sering membahas rasa takut dinilai, takut dibenci, dan kesulitan mempercayai ketulusan orang lain. Banyak bagian terasa seperti isi kepala seseorang yang terlalu sering kecewa dan akhirnya jadi defensif terhadap dunia sekitar.

5. “The Strength In Our Scars” by Bianca Sparacino

Cover buku “The Strength In Our Scars” (foto via Amazon)

Buku ini berisi kumpulan tulisan pendek tentang patah hati, kehilangan, rasa kecewa, dan proses penyembuhan diri. Bianca Sparacino menulis dengan gaya yang lembut dan emosional sehingga terasa seperti sedang diajak bicara oleh teman sendiri.

Banyak isi bukunya membahas bagaimana luka membuat seseorang takut memercayai orang lain lagi. Namun perlahan, pembaca juga diajak memahami bahwa tidak semua orang akan menyakiti dengan cara yang sama.

Yang membuat buku ini menarik adalah banyak kalimatnya terasa sederhana, tetapi sangat menyentuh. Cocok dibaca saat kamu sedang merasa capek dengan hubungan dan ingin pelan-pelan belajar percaya lagi tanpa memaksa diri terlalu cepat.

 

Lewat buku-buku di atas, kamu mungkin akan menemukan bahwa rasa takut itu valid, tetapi bukan berarti kamu harus menutup diri selamanya. Pelan-pelan, dengan proses yang sehat, rasa percaya bisa tumbuh lagi.

Editorial Team