Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bersantai di kamar
ilustrasi bersantai di kamar (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Intinya sih...

  • Batasi konsumsi media sosial dan jauhi pemicu rasa iri serta minder.

  • Tunda reaksi terhadap tren dan belajarlah nyaman tidak ikut semuanya.

  • Fokus pada progres pribadi dan lebih hadir di dunia nyata.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang melakukan evaluasi diri pada akhir tahun. Banyak yang kemudian baru sadar bahwa selama ini mereka melakukan satu hal yang diam-diam menguras energi: kebiasaan fear of missing out atau FOMO. Baru gulir media sosial bentar, kamu langsung disuguhi Reels makanan viral yang rasanya harus dicoba, tempat wisata baru yang sepertinya harus didatangi, gawai terbaru, konser idola, investasi sana sini, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar, muncul perasaan tertinggal, cemas, bahkan mulai meragukan hidup sendiri.

Kalau dibiarkan, FOMO bisa membuatmu impulsif. Kamu bisa terjebak buat ikut-ikutan investasi karena takut ketinggalan tren, beli barang di luar kemampuan finansial, atau memaksakan diri ikut standar hidup yang sebenarnya bukan prioritasmu. Karena itu, mengurangi FOMO wajib jadi salah satu resolusimu 2026 ini. Bukan supaya jadi cuek, tapi supaya hidup lebih waras dan sesuai kapasitas diri.

1. Kurangi menggulir media sosial, bukan hilang total

ilustrasi media sosial (pexels.com/Pixabay)

Kunci utama mengurangi FOMO ialah mengatur porsi konsumsi media sosial. Terlalu sering main medsos tanpa sadar membuatmu membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain. Tenang-tenang, kamu tidak harus menghapus media sosial. Namun, coba tentukan jam khusus buka media sosial, misalnya pagi dan malam saja. Di luar itu, fokus ke hal yang nyata di depan mata.

2. Unfollow akun yang menimbulkan rasa iri atau minder

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Austin Distel)

Coba evaluasi perasaanmu tiap kali melihat unggahan orang. Kalau ada akun, yang setiap habis lihat, membuatmu merasa tertinggal, kurang sukses, atau kepikiran hidup begini-begini saja, itu tanda kamu harus unfollow atau senyapkan akun tersebut. Ini bukan iri, tapi menjaga mental. Lingkar digitalmu seharusnya membuatmu berkembang, bukan tertekan.

3. Biasakan menunda reaksi terhadap tren

laki-laki sedang main medsos (unsplash.com/Rasheed Kemy)

Salah satu pemicu FOMO terbesar ialah reaksi spontan. Melihat foto orang liburan, langsung pengen ikutan. Lihat teman sukses dengan kerjaannya yang baru, langsung merasa salah ambil jalan hidup dan ingin pindah kerja. Teman pamer HP baru, langsung merasa HP kamu jadul. Pada 2026, coba biasakan menunda respons. Beri jarak waktu sebelum ikut arus. Saat emosi sudah turun, kamu bisa menilai dengan lebih jujur, apakah ini keinginan sendiri atau hanya efek melihat orang lain?

4. Latih diri untuk nyaman tidak ikut semuanya

ilustrasi bersantai di kamar (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sesekali absen nongkrong, tidak ikutan beli makanan viral, atau tidak foto di tempat viral bukan berarti kamu ketinggalan. Justru, kemampuan untuk memilih apa yang mau kamu ikuti merupakan tanda kedewasaan. Pada 2026, hidup akan terasa lebih ringan saat kamu berani bilang, “Gak dulu,” tanpa rasa bersalah. Tidak semua peluang harus diambil. Tidak semua momen harus dihadiri.

5. Fokus ke progres pribadi, bukan garis finis orang lain

ilustrasi seseorang sedang bekerja (vecteezy.com/Tonefoto grapher)

FOMO bukan lagi hanya soal gaya hidup dan sesuatu yang viral, tapi sudah merambat ke karier, finansial, karier, hingga kehidupan keluarga. Membandingkan diri dengan orang lain sering jadi pemicu dan membuatmu lupa melihat perjalanan sendiri. Padahal, mungkin keuanganmu sudah lebih sehat, kariermu lebih baik, gaya hidupmu lebih sehat, dan hubungan sosialmu lebih baik. Progres seperti ini memang tidak kelihatan di media sosial, tapi dampaknya nyata. Semakin sering kamu mengapresiasi langkah sendiri, semakin kecil ruang FOMO untuk tumbuh.

6. Perbanyak aktivitas yang membuatmu lebih hadir di dunia nyata

ilustrasi membawa anjing peliharaan jalan-jalan (pexels.com/mentatdgt)

Terlalu lama menghabiskan waktu menatap layar membuatmu lupa mensyukuri apa yang sudah kamu dapatkan di dunia nyata. Aktivitas sederhana, seperti jalan pagi, masak sendiri, ngobrol tanpa HP, atau menulis jurnal, bisa membantumu kembali ke momen sekarang. Pada 2026, makin sering kamu terhubung dengan dunia nyata, makin kecil dorongan untuk terus membandingkan hidupmu dengan orang lain.

Resolusi kurangi FOMO pada 2026 bukan tentang menarik diri dari dunia, tapi tentang hadir sepenuhnya dalam hidup sendiri. Saat kamu berhenti terus-menerus membandingkan diri, ruang untuk bersyukur, bertumbuh, dan bernapas jadi lebih luas. Mungkin kamu tidak bisa sepenuhnya bebas dari FOMO. Setidaknya, kamu bisa belajar mengendalikannya. Itu sudah cukup untuk membuat hidup terasa lebih ringan, jujur, dan damai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎