Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Ada Stereotipe Milenial yang Anggap Gen Z Gak Tahu Apa-apa?
ilustrasi Gen-Z (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Stereotipe milenial yang menganggap Gen Z tidak tahu apa-apa muncul karena perbedaan pengalaman masa muda, padahal banyak kenangan lama tetap dikenal lintas generasi.
  • Internet membuat akses terhadap budaya dan pengalaman masa lalu jadi mudah, sehingga Gen Z bisa mengenal hal-hal lawas tanpa harus mengalaminya langsung.
  • Label generasi yang dipakai terlalu kaku sering menimbulkan kesalahpahaman, padahal pengalaman hidup antar generasi sebenarnya saling beririsan dan tidak terpisah tegas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perbincangan soal Gen-Z sering muncul di media sosial sampai obrolan santai di kantor atau di tongkrongan. Sebagian milenial masih melihat generasi ini sebagai kelompok yang terlalu muda untuk memahami pengalaman masa remaja mereka. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu, sebab banyak cerita lama justru masih diketahui oleh generasi yang lahir belakangan.

Perbedaan pengalaman hidup antargenerasi memang nyata, tetapi cara memaknainya sering kali melahirkan stereotipe yang terasa berlebihan. Dari sinilah muncul stereotipe milenial yang anggap Gen Z gak tahu apa-apa, meski faktanya sering jauh lebih kompleks dari sekadar perbedaan umur. Berikut beberapa sudut pandang yang membuat stereotipe itu terus muncul.

1. Millenial sering melihat masa sekolah sebagai pengalaman generasi mereka

ilustrasi siswa SMA (pexels.com/Airlangga Jati)

Banyak milenial mengingat masa sekolah sebagai periode yang sangat khas, mulai dari warnet dengan billing bergambar lumba-lumba sampai kebiasaan menunggu lagu favorit diputar di radio. Kenangan seperti ini sering dianggap hanya dimiliki oleh generasi mereka, sehingga ketika Gen Z mengetahui hal yang sama, reaksi yang muncul biasanya berupa rasa heran. Misalnya, saat anak yang lebih muda tahu lagu-lagu Sheila On 7 atau Nidji, sebagian orang langsung bertanya, “Kok bisa tahu lagu zaman dulu?”

Padahal banyak anggota Gen Z lahir pada akhir 1990-an atau awal 2000-an, masa ketika warnet masih ramai dan musik era tersebut masih sering diputar di televisi. Sebagian bahkan tumbuh dengan kakak milenial di rumah yang memutar lagu lama setiap hari. Jadi pengalaman itu tidak sepenuhnya terputus oleh batas generasi.

2. Internet membuat banyak pengalaman lintas generasi jadi mudah diakses

ilustrasi internet (pexels.com/Matheus Bertelli)

Perbedaan terbesar antara milenial dan Gen Z sebenarnya terletak pada cara menemukan informasi. Milenial banyak mengalami sesuatu secara langsung, sedangkan generasi setelahnya sering mengenalnya lewat internet. Video lama tentang warnet, acara musik lawas, sampai kompilasi iklan jadul bisa ditemukan dengan mudah di platform seperti YouTube atau TikTok.

Akibatnya, banyak Gen Z yang tahu hal-hal yang bahkan tidak mereka alami secara langsung, sama halnya saat baby boomer mengenang masa lalu mereka, milenial juga tetap bisa tahu, kok. Mereka bisa mengenal budaya pop lama lewat video arsip, playlist musik lawas, atau cerita viral di media sosial. Bagi milenial, cara mengenal masa lalu seperti ini kadang terasa tidak autentik, sehingga muncul anggapan generasi baru hanya tahu permukaannya saja. Padahal di era internet, pengetahuan tidak selalu datang dari pengalaman langsung.

3. Label generasi sering dipakai terlalu kaku dalam percakapan sehari-hari

ilustrasi millenial (pexels.com/Canva Studio)

Istilah seperti millennial, Gen Z, atau baby boomer awalnya dipakai untuk membaca perubahan demografi. Dalam percakapan sehari-hari, label itu sering berubah menjadi batas yang terlalu kaku. Ketika seseorang lahir pada tahun tertentu, publik langsung menempelkan banyak karakter seolah semuanya pasti sama.

Contohnya, Gen Z sering dicap malas atau terlalu bergantung pada teknologi. Sebaliknya, milenial juga sering diberi label haus perhatian atau terlalu sering membicarakan masa sekolah. Padahal kenyataannya jauh lebih beragam karena setiap orang tumbuh dalam kondisi keluarga, kota, dan lingkungan yang berbeda. Ketika label generasi dipakai terlalu sederhana, stereotipe seperti “anak sekarang tidak tahu apa-apa” jadi mudah beredar.

4. Perbedaan cara bercerita membuat pengalaman lama terasa tidak nyambung

ilustrasi ngobrol (pexels.com/fauxels)

Milenial biasanya bercerita dengan nostalgia panjang tentang masa lalu. Kisah warnet, rental PlayStation, atau CD musik bajakan sering muncul dalam obrolan santai. Sementara sebagian Gen Z sering mengenal cerita yang sama dalam bentuk potongan video, meme, atau cuplikan singkat yang beredar di media sosial.

Perbedaan cara bercerita ini kadang menimbulkan kesan bahwa generasi muda tidak benar-benar memahami pengalaman tersebut. Padahal mereka mengenalnya dengan format yang berbeda saja. Ketika seseorang tahu lagu lama karena potongan video viral, bukan berarti ia tidak mengenal konteksnya.

5. Banyak pengalaman sebenarnya masih beririsan antar generasi

ilustrasi Gen-Z dan millenial (pexels.com/fauxels)

Tidak sedikit orang Gen-Z yang masih sempat merasakan warnet, bermain game di komputer sekolah, atau menonton acara musik televisi yang populer pada era milenial. Batas generasi di atas kertas tidak selalu sama dengan pengalaman hidup sehari-hari. Seseorang yang lahir tahun 1998, misalnya, masih sangat mungkin mengalami masa remaja yang mirip dengan milenial awal.

Hal seperti ini sering terlewat ketika orang berbicara tentang generasi secara umum. Akibatnya, muncul kesan bahwa generasi setelahnya sama sekali tidak memahami masa sebelumnya. Padahal pengalaman hidup sering saling tumpang tindih, terutama di negara di mana perubahan teknologinya tidak terjadi secara serentak. Dari sinilah stereotipe bahwa Gen Z tidak tahu apa-apa sebenarnya mulai terasa kurang tepat.

Stereotipe milenial yang anggap Gen Z gak tahu apa-apa sering muncul karena orang melihat pengalaman pribadi sebagai sesuatu yang eksklusif. Kenyataannya, banyak cerita masa lalu tetap dikenal oleh generasi yang datang setelahnya, hanya melalui jalur yang berbeda. Jadi, yuk, berhenti kaget dengan sesuatu sebab semua serba mungkin di zaman serba canggih dan full akses internet seperti sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team