ilustrasi buka puasa (pexels.com/Thirdman)
Ramadan sering membuat standar kenyamanan berubah karena tubuh terbiasa menjalani kondisi yang lebih terbatas. Hal yang dulu terasa wajib, seperti makan kapan saja atau tidur larut, perlahan tidak lagi dianggap kebutuhan utama. Dari situ, muncul kesadaran bahwa banyak hal yang sebelumnya dianggap penting ternyata hanya kebiasaan. Perubahan ini biasanya terasa jelas setelah melewati minggu pertama puasa.
Banyak orang mulai merasa cukup dengan aktivitas sederhana, seperti berbuka bersama keluarga atau menikmati waktu tenang setelah tarawih. Bahkan, hiburan yang sebelumnya dianggap wajib bisa terasa tidak terlalu dibutuhkan. Kebiasaan ini membuat seseorang lebih mudah merasa puas tanpa harus mencari sesuatu yang berlebihan. Pada titik tertentu, muncul pemahaman baru bahwa rasa cukup sering datang dari kesederhanaan, bukan dari banyaknya pilihan.
Selama Ramadan, banyak perubahan kecil muncul tanpa terasa karena terjadi lewat kebiasaan yang diulang setiap hari. Dari situ, cara memandang prioritas hidup sering ikut bergeser meski awalnya hanya penyesuaian sederhana. Ketika Ramadan berakhir, apakah perubahan itu akan bertahan atau justru kembali seperti sebelumnya?