Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Mudik Tak Berujung Keburukan, Fokus Silaturahmi Hindari Pamer
ilustrasi siap mudik (pexels.com/Timur Weber)

Lebaran tanpa mudik terasa berat sekali bagi mayoritas masyarakat yang merayakan. Orang-orang berusaha agar selambat-lambatnya malam Idulfitri sudah tiba di kampung halaman masing-masing. Tujuannya, agar di hari raya dapat bersama-sama menunaikan salat Id kemudian menikmati hidangan khas Lebaran.

Namun, semangat untuk pulang kampung ternyata tidak selalu mendatangkan kebaikan. Kalau kamu tidak berhati-hati, capek-capek terjebak macet dalam perjalanan pergi dan pulang justru hanya mendatangkan keburukan. Kalimat saling bermaaf-maafan pun akhirnya sebatas di bibir.

Sepanjang dirimu di kampung halaman, banyak hati yang tersakiti oleh lisanmu yang kurang terjaga. Atau, perjalanan tersebut buruk buat kamu sendiri. Di tengah tingginya semangat masyarakat untuk mudik Lebaran, pulang ke kampung halaman bukanlah hal sulit. Akan tetapi, bila lima hal berikut diabaikan pasti bakal muncul berbagai persoalan. Hindari, ya.

1. Jangan memaksakan diri bila sakit atau gak ada uang

ilustrasi persiapan mudik (pexels.com/Vlada Karpovich)

Sakit ringan masih memungkinkanmu dan anggota keluarga untuk pergi mudik. Terpenting obat-obatan dan vitamin sudah dibawa. Bekal makanan serta minuman juga telah dipersiapkan kalau-kalau rest area penuh. Contoh sakit ringan ialah gejala flu seperti hidung agak tersumbat.

Selama kamu sudah minum obat dan tidak mengemudi, semoga aman sampai tujuan. Namun, sakit yang lebih berat hendaknya jangan dipaksakan buat tetap berangkat mudik. Misalnya, ada demam tinggi dan gak reda meski sudah minum obat lebih dari sekali. Juga diare yang membuat tubuh lemah.

Berapa pun jarak tempuh dari rumah ke kampung halaman, perjalanan bakal amat menyiksamu. Kondisimu atau anggota keluarga yang sakit sangat mungkin memburuk dalam perjalanan. Kalau keberangkatan bisa ditunda sampai kamu sehat kembali, ini lebih bijak. Andai pun tiket sudah tak mungkin ditukar, batalkan saja demi kebaikan yang lebih besar.

Rencana mudik sebaiknya juga diurungkan bila kamu sedang mengalami kesulitan keuangan. Sayang apabila dirimu sampai menjual atau menggadaikan perhiasan emas. Belum tentu kamu dapat menebusnya kembali. Berutang hanya demi pulang kampung juga tidak dianjurkan kecuali dirimu betul-betul tak bisa bertahan hidup di kota. Jika ini terjadi, nanti bayar utangmu melalui transfer.

2. Gak boleh pulang kampung buat pamer pencapaian

ilustrasi siap mudik (pexels.com/Vika Glitter)

Tanyakan ke diri sendiri dan jawab dengan tegas. Kamu jauh-jauh pulang kampung untuk apa? Seharusnya mudik menjadi momen yang penuh dengan kehangatan keluarga. Lama tidak bertemu, dirimu dan saudara-saudara semestinya dapat berbincang santai. Bahkan kalian bercanda seru seperti saat remaja dan anak-anak.

Bukan malah setiap kesempatan dipakai buat pamer pencapaian. Meski saudara-saudaramu kelihatannya menyimak, pasti lama-kelamaan mereka bosan dan gak nyaman. Tampak jelas kamu sedang berusaha mengunggulkan diri. Kamu juga bisa kehilangan kepekaan akan kondisi orang lain.

Misalnya, dirimu terus menceritakan tentang hartamu selagi ada saudara yang sedang kesusahan secara materi. Ia baru terkena PHK dan belum mendapatkan pekerjaan. Bersihkan hatimu sebelum pulang ke kampung halaman. Apabila sulit untukmu menjaga hati dan ucapan dari pamer, mending kamu bersilaturahmi lewat telepon yang membuat bicaramu lebih terbatas.

3. Jangan asal mendorong saudara dan tetangga untuk ikut merantau

ilustrasi dua pria (pexels.com/Quintin Gellar)

Merantau sepertimu memang bisa memperbaiki nasib. Akan tetapi, mengubah nasib menjadi lebih baik tidak harus dengan merantau. Sebaliknya, orang yang pergi ke daerah lain juga tidak selalu menjadi lebih sukses. Hidup di kota orang memerlukan modal besar.

Keinginan untuk memperbaiki nasib saja belum cukup. Kalaupun seseorang gak punya banyak tabungan, minimal dia harus memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Tanpa kedua hal itu, nekat merantau tak ubahnya melempar dadu alias hanya untung-untungan. 

Sebagai orang yang telah lebih berpengalaman dalam merantau, kamu tidak boleh seenaknya menjanjikan kesuksesan pada siapa pun. Boleh jadi nasib seseorang lebih baik di kampung halamannya. Ia hanya perlu sabar dan gigih dalam berupaya di daerah sendiri.

Bila pun ada tetangga atau siapa saja yang mendesak ikut merantau bersamamu, tetap selektif. Pastikan ia dapat panggilan kerja dulu di sana baru berangkat. Bukan malah dia melamar pekerjaan pun belum, tapi sudah minta ikut. Nanti di sana ia hanya menjadi beban besar bagimu yang kudu menanggung kehidupannya sehari-hari. Tanpa kepastian kapan dia memperoleh pekerjaan.

4. Hindari mengejek kehidupan sederhana di desa

ilustrasi panen (pexels.com/Tanvir ahmed Nafim)

Selama apa pun kamu merantau dan sudah sukses, jangan seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Dirimu terlahir serta besar di desa tersebut. Lagi pula semodern apa pun kehidupanmu di kota, nyatanya tetangga-tetanggamu di kampung halaman juga hidup baik-baik saja. Baik orang desa maupun kota sama-sama memiliki kehidupan.

Cara hidup mereka memang berbeda. Tetapi tak berarti orang desa pasti lebih sengsara daripada orang kota. Kesederhanaan masyarakatnya bukan buat dihina. Apabila dirimu cukup rendah hati, mudik menjadi kesempatan berharga untukmu kembali menikmati irama hidup yang lebih lambat di desa.

Jangan bertingkah seperti orang yang lahir dan besar di kota kemudian merasa asing sekali dengan kampung halaman sendiri. Bahkan gayamu mengalahkan orang kota asli yang penuh hormat pada masyarakat di daerah. Gak semua hal di dunia ini diukur dengan gemerlap perkotaan. Orang desa juga bersekolah, bekerja, serta merasa puas dengan kehidupannya.

5. Betul-betul diniatkan buat temu kangen dan memperkuat silaturahmi

ilustrasi siap mudik (pexels.com/Vika Yagupa)

Mumpung libur Lebaran masih lama, kalau ada niat yang kurang baik dapat terlebih dahulu diluruskan. Bila niatmu semata-mata temu kangen dengan orangtua, saudara, tetangga, serta teman lama pasti suasana sangat menyenangkan. Meski kamu gak bisa berlama-lama di kampung halaman, gersang di hati seperti tersiram hujan deras beberapa hari.

Perasaanmu sangat hangat. Dirimu kembali ke rantau dengan energi penuh serta semangat baru. Hubunganmu dengan keluarga di kampung halaman juga menjadi lebih kuat apabila kamu rutin mudik dengan niat yang tulus. Sebaliknya hubungan persaudaraan bakal rusak jika ada niat yang kurang baik dalam hati.

Seandainya pernah ada persoalan antara dirimu dengan saudara di kampung, niatkan buat memperbaiki hubungan mumpung kamu mudik. Kalian kudu bermaaf-maafan dengan ikhlas. Bukan justru saling menghindar apalagi kembali bertengkar. Walaupun kamu gak bisa sering pulang kampung, niat yang baik pasti disambut dengan baik pula.

Pulang ke kampung halaman seharusnya menjadi perjalanan yang memberikan kebahagiaan dan kebaikan. Baik dirimu maupun keluarga di sana menikmati kebersamaan di pengujung Ramadan. Ciptakan suasana yang menyenangkan biar perjalanan panjang serta melelahkan ini memberikan manfaat yang besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian