Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi wanita merasa bahagia
Ilustrasi wanita merasa bahagia (freepik.com/tirachardz)

Intinya sih...

  • Tren slow growth mindset menekankan konsistensi kecil tanpa tekanan hasil instan, untuk dampak jangka panjang dan minim stres.

  • Emotional literacy mengajarkan kemampuan mengelola emosi dengan sehat, membuat keputusan hidup lebih jernih dan hubungan lebih hangat.

  • Digital minimalism membantu meningkatkan fokus dan kualitas hidup dengan mengurangi distraksi digital serta membuat pikiran lebih tenang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih merasa capek dikejar standar self improvement yang isinya kerja terus, produktif tanpa henti, dan harus selalu lebih dari orang lain? Padahal, hidup itu bukan lomba lari estafet yang gak ada garis finisnya.

Fokusnya bergeser ke keseimbangan, keberlanjutan, dan kesehatan mental jangka panjang. Nah, kalau kamu penasaran tren apa saja yang bakal relevan dan anti toxic hustle, lanjut baca sampai habis, ya.

1. Slow growth mindset

Ilustrasi wanita berpikir (freepik.com/freepik)

Tren ini mengajak kita untuk berhenti membandingkan proses hidup dengan pencapaian orang lain. Slow growth mindset menekankan bahwa setiap orang punya ritme sendiri yang gak bisa diseragamkan.

Dengan pendekatan ini, kamu diajak menikmati proses belajar tanpa tekanan harus langsung “jadi”. Fokusnya ada pada konsistensi kecil yang dilakukan dengan sadar setiap hari. Hasilnya mungkin gak instan, tapi dampaknya jauh lebih tahan lama dan minim stres.

2. Emotional literacy

Ilustrasi orang bersosialisasi (pexels.com/Charlotte May)

Di 2026, pintar secara emosional lebih dihargai daripada sekadar terlihat kuat. Emotional literacy adalah kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi sendiri dengan sehat. Ini bukan soal baper, tapi soal sadar apa yang sebenarnya kamu rasakan.

Saat kamu paham emosi, keputusan hidup jadi lebih jernih dan gak reaktif. Hubungan dengan orang lain pun lebih hangat karena kamu tahu kapan harus bicara dan kapan perlu jeda. Tren ini bikin hidup terasa lebih ringan tanpa drama berlebihan.

3. Digital minimalism

Ilustrasi wanita bermain gadget (freepik.com/freepik)

Bukan rahasia lagi kalau hidup kita makin lengket dengan gawai. Digital minimalism hadir sebagai respons agar teknologi tetap jadi alat, bukan tuan. Di 2026, banyak orang mulai memilah mana aplikasi yang benar-benar memberi nilai.

Dengan mengurangi distraksi digital, fokus dan kualitas hidup meningkat signifikan. Waktu luang jadi lebih bermakna karena gak habis untuk scrolling tanpa tujuan. Hasilnya, pikiran lebih tenang dan energi mental gak cepat terkuras.

4. Rest as productivity

Ilustrasi wanita bersantai (freepik.com/freepik)

Tren ini membalik cara pandang lama yang menganggap istirahat sebagai kemalasan. Di 2026, istirahat justru dilihat sebagai bagian penting dari produktivitas. Tanpa jeda yang cukup, performa justru turun drastis.

Istirahat yang berkualitas membantu otak memproses ide dan emosi dengan lebih baik. Bukan cuma tidur, tapi juga memberi ruang untuk hobi dan refleksi diri. Dengan begitu, kamu bisa kembali beraktivitas dengan energi yang lebih utuh.

5. Purpose-oriented living

Ilustrasi wanita melihat jadwal (freepik.com/freepik)

Self improvement di 2026 gak lagi soal checklist pencapaian semata. Purpose-oriented living mengajak kamu bertanya, “Kenapa aku melakukan ini?” bukan hanya “Apa yang harus aku capai?”. Arah hidup jadi lebih bermakna karena selaras dengan nilai pribadi.

Saat hidup punya tujuan yang jelas, tekanan eksternal jadi gak terlalu berpengaruh. Kamu lebih selektif memilih jalan dan gak gampang terdistraksi tren sesaat. Inilah bentuk kedewasaan baru dalam bertumbuh tanpa kehilangan diri sendiri.

Self improvement di 2026 bukan tentang memaksa diri jadi versi ideal orang lain. Ini tentang mengenal diri, menjaga ritme, dan tumbuh dengan cara yang lebih manusiawi. Jadi, kamu mau berkembang dengan tenang atau terus terjebak toxic hustle? Pilihannya ada di tanganmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team