Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi menyendiri (unsplash.com/Photo by Mai Nguyen)
Ilustrasi menyendiri (unsplash.com/Photo by Mai Nguyen)

Dalam sebuah hubungan, cinta sering kali dianggap cukup hanya dengan rasa sayang dan perhatian. Padahal, tidak semua bentuk cinta membawa ketenangan dan pertumbuhan. Ada cinta yang membuat kamu merasa aman dan berkembang, tetapi ada juga cinta yang justru mengekang dan melelahkan tanpa disadari.

Banyak orang sulit membedakan antara cinta yang dewasa dan cinta yang posesif karena keduanya sama-sama dibungkus atas nama perhatian. Perbedaan beda cinta dewasa dan cinta posesif ini penting untuk dipahami agar kamu tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

1. Seperti apa cinta dewasa dan cara membedakan dengan cinta posesif?

Ilustrasi pasangan (unsplash.com/photo by Michael Walk)

Mengutip laman Taylor Counseling Group yang telah di-review oleh psikoterapi eksistensial Dr. Christopher S. Taylor, cinta adalah reaksi terhadap perasaan percaya pada seseorang atau sesuatu. Kepercayaan dibangun melalui tindakan dan komunikasi terbuka. Saat kita berani mengungkapkan perasaan dengan jujur, kita membantu diri sendiri terhindar dari kecemburuan, rasa tidak aman, dan keraguan atau hal-hal lain yang sering menjadi akar dari sikap posesif dalam hubungan.

Dengan menghadapi rasa tidak aman melalui komunikasi yang sehat, hubungan pun dibangun di atas rasa aman secara emosional, bukan kebutuhan untuk mengontrol. Tanpa kepercayaan, cinta sejati tidak akan pernah ada. Bahkan, cinta yang tidak disertai kepercayaan mudah berubah menjadi rasa memiliki yang berlebihan.

Sering kali, memiliki pasangan atau benda materi memberi kesan seolah-olah kita sedang mencintai dan dipercaya, padahal itu hanya ilusi. Sikap posesif membuat seseorang bergantung secara berlebihan, bahkan ketika hubungan sudah tidak sehat.

Lama-kelamaan, hal ini mengaburkan penilaian, memicu kecemburuan, ketergantungan, dan rendahnya harga diri. Dari sinilah muncul perilaku beracun seperti manipulasi emosional dan kontrol berlebihan, yang akhirnya merusak kepercayaan, memicu perselingkuhan, dan membuat hubungan terasa hampa.

2. Apa itu hubungan posesif?

Ilustrasi pasangan bertengkar (unsplash.com/Photo by Jorick Jing)

Hubungan posesif adalah hubungan di mana pasangan lebih peduli untuk mengendalikan seseorang dan menjaga mereka tetap dekat daripada benar-benar mencintai mereka. Orang yang posesif mungkin menuntut perhatian terus-menerus, mengharapkan pasangannya untuk memprioritaskan mereka di atas segalanya, dan bereaksi negatif terhadap segala bentuk kemandirian.

Kepemilikan berkaitan dengan keinginan untuk menguasai atau mengendalikan sesuatu. Meski pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa dimiliki, tetap saja ada orang yang berusaha memperlakukan pasangannya seolah-olah demikian.

Berbeda dengan itu, cinta adalah tentang kepedulian dan keinginan tulus agar orang yang kita sayangi berada dalam kondisi terbaiknya. Cinta bisa hadir dengan gairah dan emosi yang kuat, tetapi seharusnya juga disertai sikap lembut, menghargai, dan penuh perhatian.

Mencintai tanpa rasa memiliki berarti menginginkan pasangan tetap bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu tidak selalu datang dari kita. Sebuah hubungan pun tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidup. Saat seluruh perhatian hanya tertuju pada satu orang, tujuan pribadi, hobi, dan hubungan lain bisa terabaikan dan perlahan memudar.

Sikap posesif sering kali menyerupai kecanduan. Seseorang bisa merasa harga dirinya bergantung pada pasangan, terus mencari pengakuan karena kurangnya dukungan dari lingkungan lain. Padahal, memiliki lingkaran pertemanan dan orang-orang yang saling mendukung justru jauh lebih sehat. Jika kamu masih belum yakin seperti apa bentuk posesif dalam hubungan, ada beberapa tanda peringatan yang bisa diperhatikan.

1. Mereka membatasi tindakanmu

Jika pasangan mulai mengatur dengan siapa kamu boleh bergaul atau melarangmu pergi ke tempat yang kamu sukai, ini adalah tanda perilaku yang mengontrol. Tanpa disadari, mereka sedang membatasi ruang gerakmu dan mendorongmu untuk semakin bergantung pada mereka, bukan mendukung kebebasanmu sebagai individu.

2. Mereka ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu

Tanda lain dari sikap posesif adalah keinginan untuk menghabiskan seluruh waktu luang hanya berdua. Di awal hubungan, hal ini mungkin terasa manis dan menyenangkan. Namun seiring waktu, masing-masing tetap membutuhkan ruang pribadi. Hubungan romantis hanyalah satu bagian dari hidup, bukan satu-satunya pusat dari segalanya.

3. Mereka mencoba memanipulasimu

Pasangan posesif sering menunjukkan sikap merajuk, marah, atau menyalahkanmu saat keinginannya tidak dituruti. Cara ini digunakan untuk membuatmu merasa bersalah dan akhirnya menuruti kemauan mereka. Perilaku semacam ini termasuk manipulasi emosional yang tidak sehat bagi hubungan jangka panjang.

4. Mereka memeriksa ponsel atau media sosialmu

Meminta kata sandi ponsel, membaca pesan pribadi, atau memantau media sosial sering dibenarkan dengan alasan tidak ingin ada rahasia. Padahal, tindakan ini justru melanggar privasi dan kepercayaan. Hubungan yang sehat dibangun atas rasa saling percaya, bukan pengawasan berlebihan.

5. Mereka mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem

Pasangan yang toksik bisa berubah dari sangat penyayang menjadi marah dalam waktu singkat ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Kondisi ini membuatmu terus merasa harus berhati-hati agar tidak memicu kemarahan mereka, yang lama-kelamaan melelahkan secara emosional.

6. Mereka terus-menerus menuntut kepastian cinta

Mencari validasi dalam hubungan adalah hal yang wajar. Namun, pasangan posesif akan menuntut kepastian secara berlebihan, seperti terus menanyakan apakah kamu benar-benar mencintai mereka atau menuduhmu kurang peduli. Jika dibiarkan, sikap ini dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan kelelahan emosional dalam hubungan.

3. Tips untuk melakukan introspeksi dan refleksi diri

Ilustrasi menyendiri (unsplash.com/Photo by Mai Nguyen)

Cinta dan posesif adalah dua emosi yang sering disamakan dan disalahpahami. Meskipun sekilas tampak serupa, keduanya sebenarnya sangat berbeda dan dapat memiliki konsekuensi yang sangat berbeda dalam hubungan.

"Cinta melibatkan perpaduan emosi, tindakan, dan keyakinan yang kompleks yang disertai dengan perasaan kasih sayang, perlindungan, kehangatan, dan rasa hormat yang kuat terhadap orang lain," ujar psikolog konseling Bonani dikutip dari laman Online Counselling 4U.

"Cinta ditandai dengan keterikatan dan komitmen yang mendalam terhadap kesejahteraan orang yang dicintai. Cinta bersifat tanpa pamrih dan melibatkan keinginan untuk melihat orang lain bahagia dan terpenuhi," tambahnya.

Tentu tidak akan mudah untuk melepaskan diri dari hubungan yang posesif. Untuk itu, berikut beberapa tips untuk introspeksi dan cara memberikan yang terbaik untuk dirimu sendiri dalam sebuah hubungan:

Kenali nilai dan prioritas pribadi

Pahami apa yang benar-benar penting bagimu dalam sebuah hubungan agar sikap dan tindakanmu tetap sejalan dengan nilai yang kamu pegang.

Sadari kekuatan dan kelemahan diri

Luangkan waktu untuk mengenali kelebihan serta hal-hal yang masih perlu diperbaiki, sehingga kamu bisa terus berkembang dalam hubungan.

Bangun komunikasi yang jujur

Sampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhanmu dengan terbuka, sekaligus belajar mendengarkan pasangan dengan penuh perhatian.

Latih empati dan pengertian

Cobalah melihat situasi dari sudut pandang pasangan dan tunjukkan bahwa kamu peduli pada perasaan serta kebutuhannya.

Tingkatkan kesadaran diri

Kenali emosi dan pola perilakumu agar kamu lebih paham dampaknya terhadap hubungan yang sedang dijalani.

Jaga diri sendiri

Prioritaskan kesehatan fisik dan mental dengan istirahat cukup, pola hidup sehat, dan waktu untuk diri sendiri agar kamu bisa hadir sebagai pasangan yang lebih baik.

Cinta dewasa memberi ruang untuk saling percaya, menghargai batasan, dan tumbuh bersama. Sementara itu, cinta posesif cenderung menuntut, mengontrol, dan sering membuat salah satu pihak merasa tidak bebas menjadi dirinya sendiri. Memahami beda cinta dewasa dan cinta posesif bisa membantu kamu mengambil keputusan yang lebih bijak dalam menjalin hubungan.

Editorial Team