Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi berdiskusi dengan mertua
ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Menolak mertua tidak selalu berarti tidak menghormati.

  • Rasa bersalah bisa diatasi dengan komunikasi yang empatik dan tegas.

  • Menjaga batas diri penting demi kesehatan hubungan dan mental.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Siapa pun yang sudah menikah mungkin pernah ada di posisi serbasalah. Di satu sisi, kita ingin menjaga perasaan mertua. Namun, di sisi lain, kita juga punya batas, kebutuhan, dan kondisi sendiri. Nah, salah satu emosi yang paling sering muncul ialah rasa bersalah setelah menolak permintaan mertua

Rasanya seperti kita jadi menantu yang tidak memahami mertua. Padahal, menolak itu tidak selalu berarti durhaka. Di sini, kita akan membahas bagaimana cara menghadapi rasa bersalah saat harus menolak mertua, tanpa harus merasa jadi orang jahat seumur hidup.

1. Pahami kenapa menolak mertua membuat kita merasa bersalah

ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pertama-tama, penting sekali memahami kenapa rasa bersalah itu muncul. Beberapa alasannya:

  • Sejak kecil, kita diajari untuk menghormati orang yang lebih tua.

  • Ada rasa takut dicap tidak sopan.

  • Kita merasa mertua sudah banyak membantu, jadi menolak satu hal saja terasa seperti pengkhianatan.

  • Takut jadi bahan omongan dalam keluarga besar.

Jadi, wajar sekali kalau setelah menolak, kita berpikir apakah diri kita keterlaluan? Apakah penolakan kita menyakiti hati mertua? Padahal, batasan itu sehat. Semua orang, termasuk mertua, sebenarnya juga punya batas masing-masing.

2. Bedakan antara menolak dan tidak menghormati

ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Penting sekali untuk paham bahwa menolak tidak sama dengan tidak hormat. Menolak itu soal keputusan. Tidak hormat itu soal sikap. Kamu bisa, kok, menolak dengan cara yang tetap sopan, hangat, dan penuh empati. Sebagai contoh, jangan katakan, “Gak bisa. Ribet.” Lebih baik, kamu katakan, “Terima kasih banyak Pak/Bu atas sarannya, tapi saat ini kami belum bisa, ya, karena kondisinya belum memungkinkan.”

Nada, pilihan kata, dan ekspresi sangat berpengaruh. Kadang, yang membuat orang sakit hati bukan penolakannya, tapi caranya. Jadi, pastikan kamu berhati-hati saat menyampaikan penolakan.

3. Terima kalau kamu tidak bisa membuat semua orang senang

ilustrasi quality time dengan keluarga (pexels.com/Kampus Production)

Ini bagian yang agak pahit tapi realistis. Kamu tidak bisa membuat semua orang selalu senang, termasuk mertua. Kalau kamu terus memaksakan diri demi menghindari rasa bersalah, lama-kelamaan kamu sendiri yang akan lelah. Bisa jadi kamu akan merasa tertekan, kehilangan kontrol atas hidup sendiri, kamu jadi diam-diam kesal dan menumpuk emosi. Ingat, menjaga hubungan itu penting, tapi menjaga kesehatan mental dan rumah tangga sendiri juga tidak kalah penting.

4. Bicarakan dengan pasangan, jangan dipendam sendiri

ilustrasi suami dan istri sedang berbicara (pexels.com/Antoni Shkraba)

Sebagai suami istri, pahami bahwa kamu dan pasangan itu satu tim. Kalau setelah menolak mertua rasa bersalah itu muncul, jangan simpan sendiri. Ceritakan perasaanmu pada pasangan. Dari situ, pasangan bisa menenangkan, menegaskan kalau keputusan itu memang perlu, bahkan membantu menjelaskan ulang ke orangtuanya dengan bahasa yang lebih bisa diterima.

Ingat, mertua adalah orangtua pasanganmu, bukan orangtuamu sendiri. Jadi, wajar kalau pasangan punya peran lebih besar untuk jadi penengah. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk nyaman berbicara apa pun pada mereka.

5. Kalau memungkinkan, lakukan penolakan disertai dengan solusi

ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Kalau memang situasinya memungkinkan, usahakan jangan hanya bilang tidak, lalu berhenti di situ. Menolak akan terasa jauh lebih halus dan bisa diterima kalau kamu juga menyertakan solusi atau opsi lain yang masih membuka ruang komunikasi. Sebagai contoh, saat kamu belum bisa memenuhi permintaan mertua sekarang, kamu bisa bilang dengan jujur tapi tetap hangat, “Kalau saat ini belum bisa. Mungkin bulan depan kalau kondisinya sudah memungkinkan, kami bisa bantu.”

Dengan memberi alternatif, mertua akan merasa kamu bukan sekadar menolak, tapi tetap menghargai niat baik dan usaha mereka. Sikap ini juga menunjukkan bahwa kamu tetap ingin menjaga hubungan, bukan menjauh. Intinya, penolakan yang disertai solusi membuat komunikasi jadi lebih dewasa. Kamu tetap menjaga batas, tapi juga tetap membuka pintu untuk kerja sama pada lain waktu.

Menjadi menantu yang baik bukan berarti harus selalu bilang iya. Menjadi pasangan yang dewasa bukan berarti mengorbankan diri sendiri terus-menerus. Menolak mertua memang tidak pernah terasa ringan. Namun, rasa bersalah itu bisa dihadapi, diolah, dan perlahan-lahan dikurangi. Yang penting, kamu jujur, sopan, dan tetap menjaga niat baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎