Siapa sih yang tidak ingin menimang bayi-bayi lucu? Kamupun begitu, apalagi di usiamu yang sudah cukup matang untuk berumah tangga. Ditambah lagi, pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang rutin dilayangkan oleh orangtuamu dan undangan-undangan pernikahan dari satu per satu temanmu.
Namun, hal tersebut tentu tidak sesederhana itu jika pasanganmu adalah pria yang jauh lebih muda. Misal, kamu yang sudah mapan, pendidikanpun sudah aman, sedangkan dia masih harus menyelesaikan sekian puluh SKS lagi, lalu wisuda, mencari kerja, dan (Akhirnya) melamarmu.
Di satu sisi, kamu tidak mau menuntutnya karena kamupun sadar pernikahan bukanlah perkara sepele. Kamupun tidak mau dia menikahimu karena terpaksa. Kamupun memiliki harapan akan pernikahan yang memang didasari dari keinginan masing-masing, bukan terdesak karena satu pihak.
Tapi di sisi lain, kamu juga resah dengan rahimmu yang mungkin akan kehilangan fungsi maksimalnya jika dia terlalu lama membuatmu menunggu. Walaupun kamu sadar dan sepenuhnya mengerti alasannya membuatmu menunggu sekian lama. Di sanalah kamu dan dia harus benar-benar berkompromi mengenai hal yang level seriusnya sudah tidak bisa dibawa santai tersebut.
Hal itu bukan lagi tentang siapa yang harus mengalah. Bukan tentang kamu yang harus rela mengorbankan tingkat fertilitasmu yang akan menurun jika menantinya. Bukan pula dia yang harus mengorbankan masa awal 20-annya lengkap dengan pola pikir dan sikap untuk lebih dewasa beberapa tahun dari umur aslinya, demi membina biduk rumah tangga denganmu.
Kalianpun harus ekstra bijak untuk mencari jalan tengah akibat selisih usia tersebut. Ketika kalian harus sama-sama mengalah, wajar jika hal ini terasa seperti momok menakutkan baginya. Kamu harus ekstra siap dengan segala konsekuensi pasca-nikah. Lantaran ini bukan hal mudah bagi seorang pria (Dalam hati terdalamnya, dia mungkin belum sepenuhnya siap menjadi seorang kepala keluarga). Di sanalah peranmu untuk menguatkannya selain meredam egomu untuk tidak berharap muluk pada pasanganmu yang lebih muda.