Di era digital saat ini, hampir setiap aspek kehidupan kita terhubung dengan media sosial, termasuk hubungan asmara. Salah satu tren yang marak belakangan ini adalah relationship flexing, yaitu memamerkan hubungan romantis secara berlebihan di media sosial. Dari foto berdua yang serba manis hingga status-status yang seolah-olah memperlihatkan betapa sempurnanya pasangan, relationship flexing seakan menjadi simbol status baru di dunia maya. Namun, apa yang tampaknya hanya sekadar pamer kebahagiaan, ternyata memiliki dampak psikologis yang lebih dalam dari yang kita bayangkan.
Sebagai individu, kita sering kali terjebak dalam persepsi bahwa hubungan yang dipamerkan secara terbuka adalah bentuk kesuksesan pribadi atau pencapaian emosional. Padahal, tidak jarang dampak psikologis dari kebiasaan ini bisa menimbulkan perasaan yang jauh lebih kompleks. Di bawah ini, kita akan membahas lima dampak psikologis dari relationship flexing, serta bagaimana kita bisa menghadapinya dengan lebih bijak.
