ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ksenia Chernaya)
Gak masalah jika kamu dan pasangan memilih suami jadi pencari nafkah, dan istri di rumah fokus untuk menjadi ibu rumah tangga. Atau ketika kalian memilih keduanya tetap bekerja. Asalkan, kalian memang memahami bahwa rumah tangga ini merupakan kerja tim. Jadi, ketika ada yang butuh bantuan, udah inisiatif tanpa harus disindir-sindir atau diberi tahu.
Yang salah dan kerap jadi bahan perseteruan, ketika ada salah satu pihak yang merasa perannya itu lebih utama, atau benar-benar gak mau terlibat untuk membantu pihak lainnya. Misalnya, seorang suami merasa sudah capek mencari nafkah, maka harusnya seluruh urusan domestik jadi tugas istri. Meski ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana istrinya kelimpungan, gak ada sama sekali niatan untuk membantu.
Sikap seperti ini, yang pelan-pelan merusak rumah tangga. Karena istri jadi merasa dieksploitasi dan direndahkan. Dikira tugas domestik itu gampang. Ia sering kelelahan karena harus menyelesaikan pekerjaan yang gak selesai-selesai. Rumah baru disapu, sudah dikotori lagi. Dapur baru bersih, sudah ada lagi cucian piring. Capek, lho!