Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan stalking mantan.
ilustrasi stalking mantan (freepik.com/lookstudio)

Intinya sih...

  • Emosi tidak stabil membuat kamu salah menafsirkan segalanya

  • Membuka luka lama yang sebenarnya sudah mulai mengering

  • Membandingkan hidupmu dengan versi terbaik hidupnya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Putus cinta sering kali tidak langsung memutus kebiasaan. Ada fase ketika perasaan sudah bilang "cukup", tetapi jari masih refleks membuka media sosial orang yang sama. Apalagi di jam-jam rawan, ketika dunia terasa sunyi dan pikiran mulai ke mana-mana tanpa filter yang jelas.

Jam dua pagi kerap menjadi waktu paling berbahaya bagi orang yang sedang belajar move on. Dalam kondisi setengah lelah dan setengah rapuh, stalking mantan terasa seperti ide masuk akal, padahal sering kali berujung pada kekacauan emosional yang tidak perlu. Tetapi ada beberapa alasan jangan stalking mantan pada jam 2 pagi. Apa saja alasannya? Simak penjelasan di bawah ini!

1. Emosi tidak stabil membuat kamu salah menafsirkan segalanya

ilustrasi stalking mantan (freepik.com/freepik)

Di jam dua pagi, kondisi mental dan emosional jarang berada di titik paling rasional. Rasa lelah, kantuk, dan kesepian bercampur menjadi satu, membuat otak cenderung menafsirkan sesuatu secara berlebihan. Unggahan sederhana mantan bisa terlihat seperti sindiran, kode tersembunyi, atau bahkan pengakuan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Masalahnya, pikiran yang sudah tidak objektif akan terus mencari pembenaran. Kamu mulai mengaitkan satu unggahan dengan memori lama, lalu menarik kesimpulan sendiri tanpa dasar yang kuat. Alih-alih mendapatkan kejelasan, kamu justru tenggelam dalam asumsi yang memicu kecemasan. Perasaan menjadi semakin kusut, padahal yang kamu lihat hanyalah potongan kecil dari hidup orang lain yang tidak lagi berkaitan langsung denganmu.

2. Membuka luka lama yang sebenarnya sudah mulai mengering

ilustrasi stalking mantan (freepik.com/karlyukav)

Proses move on tidak selalu ditandai dengan lupa sepenuhnya, tetapi dengan berkurangnya intensitas rasa sakit. Saat kamu nekat stalking mantan di jam rawan, kamu seperti sengaja mengorek luka yang mulai menutup. Foto, caption, atau komentar kecil bisa memicu ingatan yang selama ini berhasil kamu simpan rapi.

Hal-hal yang tadinya sudah terasa netral mendadak kembali emosional. Kamu teringat percakapan lama, janji yang tidak ditepati, atau momen yang dulu terasa istimewa. Akibatnya, progres yang sudah kamu capai seolah mundur beberapa langkah. Bukan karena kamu lemah, melainkan karena kamu memberi ruang bagi kenangan lama untuk masuk kembali tanpa batas yang jelas.

3. Membandingkan hidupmu dengan versi terbaik hidupnya

ilustrasi stalking mantan (freepik.com/freepik)

Media sosial hampir selalu menampilkan sisi paling rapi dari kehidupan seseorang. Saat stalking mantan tengah malam, kamu berisiko membandingkan kondisi emosionalmu yang sedang rapuh dengan tampilan hidupnya yang terlihat baik-baik saja. Perbandingan ini jelas tidak adil sejak awal.

Kamu mungkin sedang bergulat dengan pikiran sendiri, sementara unggahannya menampilkan senyum, pencapaian, atau lingkaran pertemanan baru. Tanpa sadar, kamu merasa tertinggal, gagal, atau kurang berharga. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Kebiasaan membandingkan ini hanya akan mengikis kepercayaan diri dan memperpanjang proses penyembuhan yang seharusnya bisa berjalan lebih tenang.

4. Meningkatkan dorongan untuk menghubungi yang tidak perlu

ilustrasi stalking mantan (freepik.com/jcomp)

Stalking sering kali menjadi pintu awal dari keputusan impulsif. Setelah melihat unggahan atau story mantan, muncul dorongan untuk bereaksi: membalas, mengomentari, atau bahkan mengirim pesan. Di jam dua pagi, kemampuan menahan diri biasanya berada di titik terendah.

Pesan yang awalnya terasa wajar bisa berubah menjadi sumber penyesalan keesokan harinya. Kamu mungkin berharap mendapatkan respons tertentu, padahal tidak ada jaminan itu akan terjadi. Jika responsnya tidak sesuai harapan, perasaan kecewa akan berlipat ganda. Jika direspons pun, situasinya belum tentu membawa kebaikan. Pada akhirnya, kamu kembali terjebak dalam siklus emosional yang seharusnya sudah bisa kamu tinggalkan.

5. Mengganggu kualitas istirahat dan kesehatan mental

ilustrasi stalking mantan (freepik.com/senivpetro)

Jam dua pagi seharusnya menjadi waktu tubuh dan pikiran beristirahat. Ketika kamu memilih stalking mantan, otak justru dipaksa aktif memproses emosi yang berat. Detak jantung meningkat, pikiran berputar, dan rasa gelisah sulit diredam.

Akibatnya, tidur menjadi tidak nyenyak atau bahkan tertunda. Keesokan harinya, kamu bangun dengan perasaan lelah secara fisik dan emosional. Pola ini, jika dibiarkan berulang, dapat berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan. Bukannya pulih, kamu justru memperpanjang rasa cemas dan sedih. Padahal, salah satu bentuk self-respect paling sederhana adalah memberi diri sendiri waktu istirahat tanpa beban emosional tambahan.

Alasan jangan stalking mantan pada jam 2 pagi adalah karena aktivitas tersebut jarang membawa jawaban yang kamu cari. Bisa jadi pikiran malah kusut dan perasaanmu tidak tenang. Kalau tengah malam terasa sepi, mungkin yang kamu butuhkan bukan membuka profil lama, melainkan menutup hari dengan lebih ramah pada diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team