Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Mikir Dua Kali untuk Menikah?
Ilustrasi pasangan (pexels.com/Photo by cottonbro studio)
  • Banyak anak muda menunda menikah karena biaya hidup tinggi, ketidakpastian ekonomi, dan tekanan sosial membuat mereka merasa belum siap secara finansial maupun mental.
  • Generasi milenial dan Gen Z lebih realistis, menekankan kesiapan finansial, emosional, serta karier sebelum menikah, dengan 80 persen responden menganggap ekonomi sebagai faktor utama.
  • Media sosial memperkuat standar pernikahan mahal, namun muncul tren pernikahan minimalis yang lebih personal dan berkelanjutan secara finansial di kalangan pasangan muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu menikah sering dianggap sebagai ‘langkah wajib’ setelah lulus kuliah atau punya pekerjaan tetap. Namun sekarang, banyak anak muda justru merasa cemas ketika membicarakan soal pernikahan. Bukan karena mereka antikomitmen atau tidak percaya cinta, tetapi karena kehidupan setelah menikah terasa semakin mahal, banyak ketidakpastian, dan penuh tekanan.

Harga rumah naik, biaya kebutuhan bahan pokok terus bertambah, hingga peluang pekerjaan semakin tidak pasti. Akibatnya, menikah bukan lagi sekadar soal menemukan pasangan yang cocok, tetapi juga soal apakah kehidupan setelahnya bisa dijalani dengan finansial dan mental yang aman.

1. Biaya hidup setelah menikah terasa menakutkan

Ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Photo by Karola G)

Banyak generasi muda yang merasa biaya hidup saat masih sendiri saja sudah berat, apalagi jika harus menanggung kehidupan berumah tangga. Mulai dari kontrakan atau cicilan rumah, kebutuhan dapur, biaya kesehatan, sampai biaya anak di masa depan membuat banyak orang merasa belum benar-benar siap untuk menikah.

Menurut Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 yang dihimpun oleh IDN Research Institute, antara tahun 2018 dan 2023, pernikahan di Indonesia turun dari lebih dari 2 juta menjadi hanya 1,57 juta. Di kalangan kaum muda, perubahannya lebih tajam: hanya 30,61 persen anak muda Indonesia yang menikah pada tahun 2023, turun dari 44,45 persen pada tahun 2014.

“Di kota-kota besar Indonesia, kita melihat semakin banyak pasangan Gen Z yang memikirkan kembali seperti apa seharusnya pernikahan. Meskipun pernikahan mewah masih penting bagi banyak orang, ada kesadaran yang berkembang bahwa pernikahan harus terasa tepat bagi pasangan dan bukan hanya memenuhi ekspektasi masyarakat," jelas Ayunda Shandini, CEO Bridestory dalam laporan tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa masalah anak muda berpikir dua kali untuk membangun komitmen bukan semata-mata hanya kenaikan biaya hidup dan tekanan sosial saja, melainkan juga sisi psikologi. Generasi milenial dan Gen Z kini memandang pernikahan sebagai kemitraan yang didasarkan pada keselarasan emosional, pertumbuhan bersama, dan tujuan bersama—bukan kewajiban.

"Pendidikan, karier, dan kesehatan mental diprioritaskan sebelum tonggak tradisional. Bagi banyak orang, pergeseran ini berakar pada keinginan untuk memutus siklus, memilih keamanan emosional, dan niat bersama daripada kewajiban yang diwariskan," demikian isi laporan IDN Research Institute.

2. Generasi sekarang tidak mau 'nikah modal nekat' atau 'nanti rezeki datang sendiri'

ilustrasi pernikahan sederhana (pexels.com/cottonbro studio)

Berbeda dengan generasi dulu yang sering percaya bahwa rezeki akan datang setelah menikah, tapi banyak anak muda sekarang lebih realistis. Mereka ingin memastikan punya tabungan, pekerjaan stabil, dana darurat, bahkan rumah sebelum berani melangkah ke pernikahan.

Penelitian berjudul "Fenomena Takut Menikah pada Generasi Muda dalam Pandangan Sosial dan Nilai Keluarga Islam" dalam Jurnal Perma Pendis Sumatera Utara, menyebut bahwa faktor ekonomi menjadi pertimbangan dominan dalam keputusan menikah. Sebanyak 80 persen responden menganggap kesiapan finansial sebagai syarat utama sebelum menikah.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memprioritaskan menikah muda dan lebih menekankan kesiapan mental, emosional, serta finansial. Faktor ekonomi merupakan pertimbangan dominan dengan 80 persen responden mengakuinya sebagai syarat utama sebelum menikah. Selain itu, fokus pada pendidikan dan karier, trauma hubungan, serta paparan media sosial turut memperkuat rasa takut terhadap pernikahan," seperti tertulis dalam penelitian tersebut.

3. Media sosial membuat standar pernikahan terlihat mahal

ilustrasi pesta pernikahan (pexels.com/cole peters)

Tanpa sadar, media sosial juga ikut membuat banyak anak muda merasa takut menikah. Setiap hari, mereka melihat pesta pernikahan mewah, honeymoon mahal, rumah estetik, sampai kehidupan pasangan yang terlihat sempurna. Akibatnya, banyak orang merasa menikah membutuhkan biaya sangat besar agar terlihat 'layak'.

"Media sosial masih memengaruhi tren pernikahan, tetapi alih-alih mengikutinya secara membabi buta, semakin banyak pasangan mulai mengadaptasinya dengan cara yang terasa personal dan berkelanjutan secara finansial,” kata Ayunda.

Tekanan sosial seperti ini sering membuat orang merasa tertinggal. Banyak pasangan akhirnya takut menikah karena merasa belum bisa memenuhi standar tersebut. Itulah kenapa sekarang muncul tren pernikahan minimalis dan sederhana namun tetap terasa lebih 'intim'.

"Bahkan estetika pernikahan pun berevolusi. Munculnya upacara minimalis yang dirancang untuk makna emosional daripada tontonan, mencerminkan penataan ulang yang lebih luas: dari sekadar menjalankan tradisi menjadi menghidupinya secara otentik," demikian dilaporkan IDN Research Institute.

4. Banyak anak muda takut mengulang kehidupan orangtuanya

Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Arnie Chou)

Selain faktor ekonomi, banyak generasi muda tumbuh dengan melihat konflik rumah tangga orang lain. Ada yang melihat orangtuanya bertengkar karena uang, ada yang tumbuh dalam keluarga penuh tekanan finansial, konflik orangtua, bahkan ada yang mengalami broken home.

Pengalaman seperti ini membuat sebagian orang takut menjalani pernikahan. Pasalnya ketika anak tumbuh dalam keluarga seperti itu, bukan tidak mungkin akan memberi pengaruh pada anak untuk ke depannya.

"Seiring bertambahnya usia anak-anak kita, mereka cenderung meniru hubungan yang mirip dengan yang dicontohkan orangtua mereka," kata Mel Schwartz, L.C.S.W., psikoterapis dan konselor pernikahan seperti dikutip dari Psychology Today.

"Apa yang kita contohkan kepada mereka sangat mirip dengan apa yang mungkin kita harapkan dari mereka dalam hubungan mereka di masa depan," tambahnya.

Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa generasi sekarang lebih sadar terhadap kesehatan mental dan kualitas hubungan. Mereka tidak ingin sekadar menikah cepat, tetapi ingin memastikan hubungan yang dijalani benar-benar sehat dan stabil, termasuk dari sisi ekonomi.

5. Pada akhirnya, menikah sekarang bukan sekadar soal cinta

Ilustrasi pasangan menikah (pexels.com/Photo by Nadtochiy Photography)

Banyak orang dulu percaya bahwa cinta cukup untuk membangun rumah tangga. Namun, realitas sekarang berbeda. Menikah juga berarti berbagi tagihan, menghadapi tekanan pekerjaan, biaya kesehatan, pendidikan anak, dan ketidakpastian ekonomi yang semakin tinggi. Karena itulah, banyak anak muda memilih menunda.

Mereka ingin mempersiapkan diri lebih matang sebelum mengambil keputusan besar. Hal ini sebenarnya memperlihatkan bahwa generasi muda tidak main-main soal pernikahan. Mereka justru memandang pernikahan sebagai tanggung jawab besar yang harus dipikirkan secara realistis, bukan sekadar mengikuti tuntutan usia atau tekanan sosial.

 

Di tengah ekonomi yang tidak pasti, biaya hidup yang terus naik, dan tekanan sosial yang semakin besar, keputusan untuk menikah memang jauh lebih kompleks. Karena itu, mungkin yang sebenarnya berubah bukan soal anak muda menikah, melainkan cara mereka memandang masa depan dan tanggung jawab setelahnya.

Editorial Team