Ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Photo by Karola G)
Banyak generasi muda yang merasa biaya hidup saat masih sendiri saja sudah berat, apalagi jika harus menanggung kehidupan berumah tangga. Mulai dari kontrakan atau cicilan rumah, kebutuhan dapur, biaya kesehatan, sampai biaya anak di masa depan membuat banyak orang merasa belum benar-benar siap untuk menikah.
Menurut Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 yang dihimpun oleh IDN Research Institute, antara tahun 2018 dan 2023, pernikahan di Indonesia turun dari lebih dari 2 juta menjadi hanya 1,57 juta. Di kalangan kaum muda, perubahannya lebih tajam: hanya 30,61 persen anak muda Indonesia yang menikah pada tahun 2023, turun dari 44,45 persen pada tahun 2014.
“Di kota-kota besar Indonesia, kita melihat semakin banyak pasangan Gen Z yang memikirkan kembali seperti apa seharusnya pernikahan. Meskipun pernikahan mewah masih penting bagi banyak orang, ada kesadaran yang berkembang bahwa pernikahan harus terasa tepat bagi pasangan dan bukan hanya memenuhi ekspektasi masyarakat," jelas Ayunda Shandini, CEO Bridestory dalam laporan tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa masalah anak muda berpikir dua kali untuk membangun komitmen bukan semata-mata hanya kenaikan biaya hidup dan tekanan sosial saja, melainkan juga sisi psikologi. Generasi milenial dan Gen Z kini memandang pernikahan sebagai kemitraan yang didasarkan pada keselarasan emosional, pertumbuhan bersama, dan tujuan bersama—bukan kewajiban.
"Pendidikan, karier, dan kesehatan mental diprioritaskan sebelum tonggak tradisional. Bagi banyak orang, pergeseran ini berakar pada keinginan untuk memutus siklus, memilih keamanan emosional, dan niat bersama daripada kewajiban yang diwariskan," demikian isi laporan IDN Research Institute.