ilustrasi hubungan yang tidak sehat (freepik.com/yanalya)
Dalam sebuah hubungan, salah satu tantangan yang sering dihadapi adalah mengatur emosi masing-masing. Hal ini sering kali terasa lebih intens di hubungan orang dewasa. Risiko tinggi konflik emosional sering muncul pada hubungan dewasa, terutama ketika pasangan harus mengatur perasaan, konflik, komunikasi, dan tekanan hidup lainnya. Penelitian psikologi menunjukkan, bahwa banyak orang dewasa menghadapi sumber stres emosional yang kompleks saat menjalin dan mempertahankan hubungan.
Hal tersebut dijelaskan dalam penelitian bertajuk Sumber Stres dan Perilaku Coping Individu Dewasa Muda dalam Hubungan Pacaran oleh Jurnal Sains Psikologi. Dalam hubungan dewasa, kemampuan mengelola emosi menjadi tantangan besar yang sering kali tidak disadari sejak awal.
Mulai dari tekanan pekerjaan, masalah finansial, tanggung jawab keluarga, hingga pengalaman relasional di masa lalu. Temuan dalam jurnal ini menunjukkan, bahwa akumulasi stres ini membuat regulasi emosi menjadi lebih sulit, terutama saat konflik muncul. Akibatnya, perbedaan kecil bisa terasa lebih berat karena bercampur dengan kelelahan emosional yang sudah ada sebelumnya.
Penelitian juga menyoroti, bahwa orang dewasa sering kali dituntut untuk tidak hanya mengelola emosinya sendiri, tetapi juga menjadi penopang emosi pasangan. Proses ini membutuhkan energi mental yang besar. Inilah yang membuat banyak hubungan dewasa terasa melelahkan alih-alih membahagiakan. Bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena tingginya tuntutan emosional yang harus dikelola secara terus-menerus.