Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Jomblo Lebih Ingin AI Menyaring Pasangan, tapi Bukan Perasaan?
ilustrasi couple (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)
  • Mayoritas lajang Asia melihat AI berguna untuk penyaringan dan keamanan dalam kencan, namun tetap menolak jika teknologi menggantikan kedalaman emosional hubungan manusia.
  • Survei menunjukkan ketergantungan emosional terhadap chatbot AI masih rendah, hanya sebagian kecil yang merasa terikat secara mendalam, menegaskan pentingnya kehadiran manusia nyata.
  • Kelelahan digital membuat banyak lajang beralih ke kencan offline yang dianggap lebih autentik, sambil tetap terbuka pada penggunaan AI sebatas alat bantu efisiensi dan keamanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kecerdasan buatan (AI) kini makin akrab dengan aktivitas kencan sehari-hari. Para lajang di Asia pun mulai menerimanya, tetapi dengan sikap yang tetap hati-hati. Mereka melihat AI berguna untuk penyaringan, keamanan, dan efisiensi, namun tetap menarik batas tegas ketika menyangkut urusan perasaan.

Berdasarkan The Singles Dating Survey, sebanyak 61 persen lajang percaya bahwa pendamping berbasis AI tidak akan pernah mampu menggantikan kedalaman emosional dalam hubungan antarmanusia. Meski berbagai platform kencan bereksperimen dengan profil berbasis AI, chatbot, hingga companionship virtual, mayoritas responden tetap menilai cinta tidak bisa dialihdayakan.

1. Tingkat kesadaran tinggi, penerimaan yang terukur

ilustrasi perempuan bermain handphone (pexels.com/olly)

Kesadaran terhadap penggunaan AI dalam dunia kencan tergolong tinggi, tetapi penerimaan secara emosional masih terbatas. Survei menunjukkan, 68 persen responden belum pernah menggunakan alat berbasis AI seperti chatbot atau pengoptimal profil untuk membantu pengalaman kencan mereka.

Meski begitu, rasa ingin tahu terus meningkat. Sebanyak 42 persen responden menyatakan terbuka untuk berkencan dengan seseorang yang menggunakan AI untuk membantu menyusun bio atau pesan di profil, sementara 36 persen lainnya masih ragu-ragu.

“Ini bukan penolakan, ini soal selektivitas,” ujar Violet Lim, Co-Founder dan CEO Lunch Actually.

“Para lajang ingin batasan yang jelas, di mana teknologi memberi nilai tambah, dan di mana ia mulai mengaburkan koneksi yang tulus,” tambahnya.

2. AI untuk kemudahan, bukan untuk pendampingan emosional

ilustrasi perempuan bermain laptop (pexels.com/olly)

Minat global terhadap AI companionship memang meningkat, tetapi ketergantungan emosional terhadap AI di kalangan lajang Asia masih rendah. Hanya 24 persen responden yang pernah berinteraksi dengan chatbot AI dalam konteks romantis atau dukungan emosional.

Dari jumlah tersebut, hanya 3 persen yang mengaku merasakan keterikatan emosional yang mendalam. Angka ini mempertegas, bahwa keintiman emosional tetap membutuhkan kehadiran manusia yang nyata.

“Teknologi dapat menawarkan percakapan atau kemudahan, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman bersama, keterbukaan, atau perasaan yang benar-benar dipahami,” jelas Violet.

3. Kepercayaan lajang pada AI bertumpu pada keamanan dan match

ilustrasi couple (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

Kepercayaan terbesar terhadap AI muncul pada aspek efisiensi dan pengurangan risiko, bukan dalam pengambilan keputusan emosional. Meski 46 persen responden masih belum yakin apakah AI benar-benar dapat membuat kencan menjadi lebih aman, hal ini lebih mencerminkan sikap hati-hati dibandingkan skeptisisme total.

Kekhawatiran utama meliputi potensi penyalahgunaan, pemalsuan identitas, serta konsistensi penerapan fitur keamanan di berbagai platform. Saat ditanya faktor yang mendorong mereka tetap menggunakan aplikasi kencan, jawaban teratas adalah kualitas kecocokan yang lebih baik (58 persen), profil terverifikasi (58 persen), dan pengalaman kencan yang lebih aman (48 persen).

“Para lajang memercayai AI untuk membantu menjaga keamanan mereka, bukan untuk menentukan siapa yang harus mereka cintai,” ujar Violet.

“Keamanan dan transparansi bukan lagi sekadar nilai tambah. Keduanya sudah menjadi standar dasar,” imbuhnya.

4. Kelelahan akibat swipe itu nyata dan para lajang mulai menarik diri

ilustrasi couple (pexels.com/katerinaholmes)

Survei ini juga menyoroti meningkatnya ketidakpuasan terhadap aplikasi kencan. Sebanyak 66 persen responden menyebut profil palsu sebagai sumber frustrasi utama, 49 persen mengeluhkan ghosting, dan 47 persen merasa kurangnya koneksi emosional yang nyata.

Akibatnya, perilaku pengguna pun berubah. Di antara responden yang sebelumnya menggunakan aplikasi kencan, 43 persen mengaku mengurangi penggunaan atau berhenti sepenuhnya.

“Kami melihat kelelahan emosional akibat swipe yang tak ada habisnya,” kata Violet.

“Banyak lajang menggambarkan aplikasi kencan terasa lebih seperti pekerjaan daripada romansa, usaha tanpa imbalan emosional,” lanjut dirinya.

5. Kencan offline kembali mendapat kepercayaan

ilustrasi laki-laki dan perempuan di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko)

Seiring meningkatnya kelelahan digital, kencan offline kembali mendapat kepercayaan. Bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai koreksi atas pengalaman digital yang melelahkan.

Lebih dari 51 persen responden percaya, bahwa acara kencan offline terasa lebih autentik dibandingkan aplikasi kencan atau kencan berbantuan AI. Ketertarikan ini dipicu oleh perkenalan yang disengaja dan dikurasi dengan baik, batasan privasi yang lebih jelas, serta pengalaman bertema yang menyenangkan.

Meski 54 persen responden masih ragu apakah matchmaking berbasis AI dapat meningkatkan keseruan acara offline, tingkat penolakan langsung pun tergolong rendah. Ini menandakan adanya rasa ingin tahu tanpa ketergantungan penuh.

“Kencan offline berhasil karena mengembalikan konteks, akuntabilitas, dan energi manusia. Ia menciptakan kehadiran yang nyata, sesuatu yang masih sulit ditiru oleh teknologi,” ujar Violet.

6. Lajang yang lebih terbuka dan lebih berorientasi tujuan

ilustrasi laki-laki dan perempuan sedang ngobrol (freepik.com/nensuria)

Meski diwarnai berbagai frustrasi, optimisme tetap kuat. Sebanyak 56 persen responden mengatakan keinginan mereka untuk menemukan pasangan jangka panjang meningkat dibandingkan setahun lalu.

Data juga menunjukkan meningkatnya keterbukaan dalam preferensi pasangan. Sebanyak 73 persen terbuka terhadap hubungan antar ras, 83 persen pria bersedia berkencan dengan perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi, 75 persen terbuka pada pasangan dengan pandangan politik berbeda, dan 75 persen bersedia mempertimbangkan relokasi internasional demi cinta.

“Para lajang tidak membutuhkan lebih banyak aplikasi kencan. Mereka membutuhkan kejelasan, kepercayaan diri, dan peluang nyata untuk terhubung. Masa depan kencan bukanlah pertarungan antara teknologi dan tradisi, melainkan bagaimana menggunakan alat yang tepat untuk mendukung koneksi manusia yang sesungguhnya,” pungkas Violet.

Pada akhirnya, para lajang tidak menolak AI, mereka hanya ingin teknologi tahu batasnya. Bantu menyaring, bantu menjaga aman, tapi biarkan perasaan tetap menjadi urusan manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team