Ada fase dalam hidup ketika jarak terasa seperti kebutuhan, bukan pilihan. Bukan karena cinta berkurang, melainkan karena peran berubah. Setelah menikah, seseorang tak lagi berdiri sendiri. Ia membangun rumah tangga baru dengan ritme, prioritas, dan batas yang berbeda. Di titik inilah, hubungan dengan orangtua sering ikut diuji, pelan tapi pasti.
Belakangan, kisah Brooklyn Beckham dan Nicola Peltz ikut memantik percakapan serupa. Sorotan publik terhadap relasi mereka dengan keluarga Beckham membuat banyak orang berkaca pada pengalaman sendiri. Bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana pasangan yang telah menikah berusaha menjaga ruang aman bagi pernikahan mereka, di tengah ekspektasi keluarga besar yang tak selalu sejalan.
Di budaya yang memuliakan kedekatan keluarga, memilih jarak kerap disalahartikan sebagai bentuk pembangkangan. Padahal taking space bisa menjadi keputusan yang dewasa dan penuh tanggung jawab. Bukan untuk menjauhkan diri, melainkan untuk merawat hubungan agar tetap sehat, dengan pasangan, dan juga dengan orangtua, tanpa harus kehilangan diri sendiri. Artikel ini akan menyelami lebih dalam, kapan taking space itu diperlukan, mengapa, dan bagaimana menerapkannya dengan tetap bijak.
