ilustrasi first date (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)
Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan apakah memilih menu paling murah saat first date itu wajar atau tidak. Sebagian orang melihatnya sebagai tanda transparansi yang justru diapresiasi. Sebagian lain merasa hal itu menunjukkan kurangnya perhatian terhadap momen tersebut. Keduanya bukan respons yang salah, karena pada dasarnya setiap orang punya standar dan ekspektasi yang berbeda dalam memulai sebuah hubungan.
Di sinilah letak inti persoalannya, bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi soal apakah dua orang itu cocok satu sama lain. Kalau kamu tipe orang yang menghargai gestur kecil sebagai bentuk usaha, wajar kalau hal seperti ini terasa penting. Kalau kamu lebih mementingkan koneksi dan obrolan yang nyambung, mungkin pilihan menu sama sekali tidak masuk radar. First date bukan ujian yang harus lulus sempurna, tapi cukup jadi momen untuk melihat apakah ada sesuatu yang layak untuk dilanjutkan.
Pilihan menu saat first date mungkin terdengar sepele, tapi cara seseorang hadir di momen pertama itu sering kali mencerminkan lebih dari sekadar selera minum kopi. Wajar atau tidak wajarnya seseorang memilih menu paling murah saat first date sangat tergantung pada konteks, cara penyampaian, dan siapa yang ada di hadapan kita. Pada akhirnya, first date yang berhasil bukan soal siapa yang pesan apa, tapi soal apakah dua orang itu bisa membuat satu sama lain merasa nyaman dan ingin bertemu lagi.