Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (unsplash.com/engin akyurt)

Intinya sih...

  • Menikah tetap boleh dilakukan tanpa cinta selama ada kesadaran pilihan. Banyak pasangan memilih menikah karena merasa cocok secara nilai hidup, bukan karena rasa cinta yang menggebu sejak awal.

  • Menikah bisa menjadi bermasalah jika hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Masalah biasanya muncul ketika keputusan menikah diambil semata-mata untuk meredakan tekanan lingkungan, tanpa mempertimbangkan kesiapan pribadi.

  • Rasa cinta tidak selalu hadir di awal pernikahan. Dalam kehidupan nyata, banyak pasangan justru menemukan kedekatan emosional setelah menjalani pernikahan, bukan sebelumnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Obrolan soal menikah sering muncul bukan dari pasangan, melainkan dari meja makan keluarga, undangan reuni, sampai percakapan santai yang awalnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi. Di banyak situasi, pernikahan masih dianggap sebagai penanda bahwa seseorang telah selesai menata hidup, sehingga pilihan untuk tidak segera menikah kerap memicu komentar yang sama berulang kali.

Akibatnya, sebagian orang mulai melihat menikah bukan sebagai keputusan individu atau personal, melainkan langkah agar tidak terus berada dalam sorotan di lingkungan. Fenomena ini membuat alasan di balik pernikahan menjadi lebih beragam, tidak selalu berangkat dari cinta yang menggebu-gebu antara kamu dan pasangan. Lantas, bolehkah menikah bukan karena cinta tetapi tuntutan sosial? Berikut jawaban selengkapnya!

1. Menikah tetap boleh dilakukan tanpa cinta selama ada kesadaran pilihan

ilustrasi menikah (unsplash.com/550Park Luxury Wedding Films)

Pernikahan pada dasarnya adalah kesepakatan hidup antara dua orang dewasa yang sadar terhadap keputusan yang diambil. Karena itu, menikah tanpa cinta bukan sesuatu yang otomatis salah selama kedua pihak memahami alasan di balik pilihan tersebut. Banyak pasangan memilih menikah karena merasa cocok secara nilai hidup, bukan karena rasa cinta yang menggebu sejak awal.

Contohnya terlihat pada pasangan yang sudah lama saling mengenal sebagai teman kerja, lalu memutuskan menikah karena merasa dapat saling dipercaya dan memiliki tujuan yang sejalan. Mereka mungkin tidak melewati fase pacaran yang romantis, tetapi menjalani pernikahan secara realistis dan terencana. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kesadaran pilihan jauh lebih penting daripada sekadar ada atau tidaknya rasa cinta.

2. Menikah bisa menjadi bermasalah jika hanya untuk memenuhi tuntutan sosial

ilustrasi konflik dengan pasangan (pexels.com/Timur Weber)

Masalah biasanya muncul ketika keputusan menikah diambil semata-mata untuk meredakan tekanan lingkungan, tanpa mempertimbangkan kesiapan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, pernikahan cenderung dijalani sebagai kewajiban, bukan sebagai komitmen hidup yang benar-benar dipahami. Akibatnya, pasangan sering merasa menjalani peran tanpa keterlibatan emosional yang cukup.

Contoh yang sering terjadi terlihat pada seseorang yang menikah karena terus didesak keluarga, lalu baru menyadari setelah menikah bahwa ia tidak mengenal pasangan secara mendalam. Situasi tersebut dapat memicu konflik sederhana yang sebenarnya bisa dihindari jika keputusan diambil dengan lebih matang. Hal ini menunjukkan bahwa tuntutan sosial tidak cukup kuat untuk menjadi satu-satunya alasan menikah.

3. Rasa cinta tidak selalu hadir di awal pernikahan

ilustrasi pasangan menikah (unsplash.com/Toa Heftiba)

Dalam kehidupan nyata, banyak pasangan justru menemukan kedekatan emosional setelah menjalani pernikahan, bukan sebelumnya. Cinta sering tumbuh dari kebiasaan berbagi tanggung jawab, saling membantu menghadapi masalah, dan memahami karakter pasangan secara perlahan. Proses ini biasanya berlangsung secara alami tanpa perlu fase romantis sejak awal untuk membina rumah tangga.

Contoh yang sering terlihat pada pasangan yang dijodohkan oleh keluarga, lalu perlahan membangun kedekatan setelah tinggal bersama. Mereka belajar menyesuaikan kebiasaan, menghargai perbedaan, dan menciptakan kenyamanan bersama. Situasi ini menunjukkan bahwa pernikahan tanpa cinta di awal tetap memiliki peluang berkembang menjadi hubungan yang hangat. Meski faktanya, tak semua berjalan semulus ini juga.

4. Keputusan menikah perlu mempertimbangkan kesiapan, bukan sekadar status

ilustrasi menikah (unsplash.com/Victoria Priessnitz)

Menikah bukan hanya soal memiliki pasangan, melainkan juga tentang kesiapan menjalani tanggung jawab jangka panjang. Tanpa kesiapan tersebut, pernikahan yang dilakukan karena tuntutan sosial cenderung terasa berat setelah berjalan beberapa waktu. Banyak orang baru menyadari hal ini ketika menghadapi realitas kehidupan sehari-hari.

Hal yang sering terjadi terlihat pada pasangan yang menikah karena tekanan usia, tetapi kemudian kesulitan beradaptasi dengan perbedaan kebiasaan dan prioritas hidup. Mereka merasa belum benar-benar siap berbagi tanggung jawab secara utuh. Situasi ini menunjukkan bahwa kesiapan hidup lebih menentukan keberlangsungan pernikahan daripada alasan awal menikah.

5. Setiap orang memiliki definisi berbeda tentang alasan menikah

ilustrasi menikah (unsplash.com/Mark Zamora)

Tidak semua orang menempatkan cinta sebagai alasan utama pernikahan, sebab sebagian melihatnya sebagai bentuk kerja sama hidup. Ada yang lebih mengutamakan rasa aman, kesamaan visi, atau kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Perbedaan cara pandang ini membuat jawaban tentang boleh atau tidak menikah tanpa cinta menjadi sangat personal.

Misalnya  saja terlihat pada pasangan yang memilih menikah karena memiliki tujuan hidup yang sama, seperti ingin membangun usaha bersama atau merawat orangtua. Mereka memandang pernikahan sebagai kemitraan jangka panjang, bukan sekadar hubungan romantis. Perspektif ini menunjukkan bahwa alasan menikah bisa sangat beragam tanpa harus dinilai benar atau salah.

Menikah bukan karena cinta tetapi tuntutan sosial pada dasarnya boleh saja, selama keputusan tersebut diambil secara sadar dan bukan sekadar untuk meredakan tekanan lingkungan. Yang lebih penting adalah kesiapan menjalani tanggung jawab serta kesepahaman dengan pasangan dalam jangka panjang. Pada akhirnya, yang perlu dipikirkan bukan hanya alasan menikah, melainkan apakah keputusan itu benar-benar sesuai dengan hidup yang ingin dijalani?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team