Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Meski Jarak Tak Berpihak pada Kita, Aku Harap Kau Berjuang Hingga Jarak Menyatukan Kita
picssr.com

Artikel ini merupakan hasil karya peserta kompetisi menulis #CintaDalamKata yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #CintaDalamKata! Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.


 

Aku di sini, dan kau di sana. Hanya berjumpa via suara. Namun ku selalu menunggu saat kita akan berjumpa.”

Berapa sering kita mendengarkan lagu yang diciptakan oleh grupband RAN? Lagu yang seakan menjadi soundtrack utama dalam perjalanan kisah kita. Kisah yang bertemakan akan jarak.

Aku tahu dan kamu pun tahu. Kita tak seperti pasangan lain yang bisa bertemu kapan saja yang mereka mau. Memegang tangan dan berjalan beriringan ketika rindu menyapa. Sayangnya, kita tidak termasuk dalam hubungan yang demikian. Bisa berbicara sepanjang malam, berkat operator yang senantiasa memberikan kesempatan dengan bonus bicaranya, adalah suatu hal istimewa yang bisa kita lakukan sekarang.

Terkadang jika ada kesempatan, kita bisa berjumpa lewat aplikasi skype dengan bersusah payah mencari wifi gratis terlebih dahulu. Tetapi bertatap muka dan bercanda tawa denganmu melalui pertemuan adalah suatu idaman bagiku.

Bertahan pada jarak yang ada adalah suatu kebanggaan bagiku.

Default Image IDN

Sebelum kau datang, ada hati yang pernah mengisi. Sama seperti menjalin denganmu, ada jarak juga yang tak berpihak padaku dan dia. Hingga suatu waktu aku dan dia tidak bisa bertahan.

Hingga akhrnya kau datang, kau mengisi, tapi kau juga membawa jarak. Meskipun saat ini rumah orang tua kita hanya berjarak 3 km saja, tetapi kota di mana kau belajar dan aku belajar berjarak 397 km. Pernah juga, kita terpisah jarak 869 km karena kewajiban yang harus kau jalani agar bisa segera lulus pendidikan. Itu adalah suatu berita buruk bagi kita, harus menunggu 18 jam untuk bisa bertatap muka. Berita baiknya adalah aku bisa bertahan dengan jarak yang begitu panjangnya.

Ya, benar sayang. Aku bisa bertahan hingga akhirnya jarak berbaik hati padaku dan berjanji padaku akan membawamu pulang padaku. Kau memberikan kepastian bahwa penantian atas kedatanganmu itu adalah nyata. Ya, saat ini kita percaya bahwa jeda yang ada memberikan kesempatan agar kerinduan bisa hadir. Sehingga saat kita bertemu nanti, ada sebuah kelegaan dan kesempatan yang ada bisa kita habiskan hingga membuat pasangan lain iri akan pertemuan kita.

Kini kita terbiasa tersenyum pada layar ponsel masing-masing.

Default Image IDN

“Selamat pagi, Sayang”

“Lagi ngapain, Sayang?”

“Sudah makan, Yang?”

Ya, rutinitas seperti itu yang kita jalani untuk mengetahui kabar masing-masing dari kita. Apakah kau tahu, aku tersenyum ketika kau menyakan hal sederhana semacam itu. Senyumku semakin mengembang ketika kau bilang bahwa kau merindukanku, tetapi tersadar aku tidak bisa hadir untukmu saat itu juga. Ya, kata-kata menenangkan seperti “sabar ya, Sayang.”

Hanya bisa terlontar, dan akhirnya kita bisa berkirim suara dan juga gambar masing-masing. Kau bilang senyumku adalah semangatmu, jadi aku di sini akan berusaha tersenyum agar kau di sana bisa semangat meskipun tanpa kehadiranku, tanpa usapan lembut dari tanganmu.

Tatkala ridu sudah diujung batas, aku hanya bisa membaca ulang pesan dengan kalimat sederhana yang kau tulis untukku. Perlu aku akui kau tak pandai dalam merangkai kata untuk bisa menyenangkan wanitamu. Tapi aku tak perlu kata indah jika akhirnya hanya melukai. Kini aku terbiasa dengan tindakan nyata yang bisa membuatku bahagia, dan aku sungguh menikmatinya. Ya, mungkin itu adalah hal yang kau lakukan untuk membayar jarak agar bisa bersama denganku melewati hari-hari panjang yang terasa singkat jika kita jalani berdua.

Tapi aku tetaplah manusia biasa. Aku tidak bisa membohongi rasa yang ada.

Sering aku menjumpai teman yang dikunjungi prianya. Melihat pasangan lain bergandengan saat berjalan di pusat perbelanjaan, serta menjumpai pasangan yang duduk berdua di bangku taman dan mengeluarkan ponsel untuk berselfie ria. Kita tidak bisa seperti itu setiap saat. Jujur, aku iri dengan mereka.

Saat hendak kemana, aku pun tidak bisa kau antar. Saat aku ingin makan berdua, aku hanya bisa menahan diri sampai kau datang kembali. Tak jarang aku meyakinkan diri bahwa itu dijadikan agar aku bisa menjadi wanita yang mandiri. Tetapi aku wanita. Sekuat-kuatnya wanita, ia mendambakan untuk dilindungi oleh pasangannya. Demikian aku saat aku berada jauh darimu.

Tapi dengan segenap keyakinan di hatiku, aku yakin suatu saat jarak akan berpihak pada kita.

Default Image IDN

Aku yakin kalau rindu ini akan terbayar. Tolong, bantu aku untuk meyakini bahwa kau akan datang dengan kabar yang gembira untukku. Mampukan aku untuk mempercayai jika jarak juga akan membawamu kembali padaku karena perjuanganku untuk menahan sakitnya rindu dan menjaga hati agar tidak disinggahi orang lain.

Aku selalu berharap, semoga dilekaskan niatan untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda dalam satu atap. Meleburkan batasan antara kau dan aku. Menyatukan kerinduan dalam sentuhan hangat yang kan kita bagikan dalam setiap waktu.

Untukmu yang saat ini aku perjuangkan dengan kesetiaan yang aku punya dan terus berusaha memantaskan diri menjadi pendampingmu kelak, maukah kau juga berusaha demikian?

 

#CintaDalamKata

Default Image IDN

Editorial Team