ilustrasi pasangan (pexels.com/Rosie Ann)
Pasanganmu mungkin mengidolakanmu karena kamu cerdas, tangguh, atau punya jiwa sosial yang tinggi. Mengidolakan pasangan dalam kadar wajar tentu bukan masalah. Namun, kadang muncul bayangan tidak realistis tentang pasangan yang sempurna dan biasa disebut dengan pedestal problem.
Menurut Travers, menganggap pasangan sebagai orang sempurna bisa menjadi masalah. Hal ini menyebabkan tekanan bagi pihak yang diidolakan karena berusaha mengikuti anggapan sempurna pasangannya. Jika dijalani dalam waktu lama, hubungan ini bisa memicu stres.
Hal berkebalikan bisa terjadi. Pihak yang diidolakan bisa jadi merasa berpuas diri dan tidak mau bertumbuh dalam hubungan mereka. Situasi macam ini juga bisa menurunkan kepuasan pasangan terhadap hubungan yang dijalani.
"Pujian yang berlebihan di awal juga bisa menjadi taktik manipulasi untuk mempercepat keintiman. Kamu mungkin merasa seperti terus-menerus mengikuti audisi untuk peran pasangan yang sempurna," tambah Travers.
Tidak semua yang terlihat romantis merupakan wujud kasih sayang. Kamu perlu tahu bahwa cinta sejati muncul secara konsisten, saling menghormati, dan memungkinkan masing-masing orang untuk bertumbuh.
Tiga tanda red flag yang diromantisasi ini bisa kamu jadikan alarm dalam hubungan yang kamu jalani. Jika kamu menjumpainya, kamu bisa mengkomunikasikannya dengan pasangan agar kalian menemukan jalan keluar yang terbaik.