Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
makan bekal
ilustrasi makan bekal (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intinya sih...

  • Bikinnya susah payah dan disempat-sempatkanMenu yang ada dalam kotak bekal butuh persiapan yang gak sebentar untuk dimasak, membuat istri merasa jerih payahnya tidak dihargai.

  • Terbayang bahan dan bumbu yang terbuang sia-siaMakanan yang dibuang tetap kesia-siaan, membuat istri merasa sedih melihat bekalmu akhirnya dibuang.

  • Dibawakan bekal sehat malah pilih jajan yang memicu penyakit kambuhIstri memikirkan kesehatanmu dan khawatir sakit tertentu bisa kambuh jika makan sembarangan di luar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Buatmu yang seorang suami. Apakah kamu familier dengan pengalaman diomeli istri gara-gara pulang kantor membawa bekal yang masih utuh? Atau, entah dengan cara apa ia tahu bahwa bekal yang dibawakannya dikasihkan ke orang lain.

Akibatnya, sekarang dirimu rela berhenti di tepi jalan dalam perjalanan pulang buat menghabiskan bekal dulu. Sekalipun tadi kamu telah makan siang di kantin. Padahal, nanti di rumah kamu kembali makan malam.

Dirimu terancam kekenyangan, tetapi daripada istri marah-marah lagi. Sebenarnya, apa sebab istri marah kalau suami gak memakan bekal? Kenapa hal ini bisa dianggap sangat serius? Bukankah kamu juga yang memberinya uang belanja? Yuk, latihan memahami kekecewaan pasangan di balik bekal yang tidak disantap olehmu.

1. Bikinnya susah payah dan disempat-sempatkan

ilustrasi memasak (pexels.com/Matilda Wormwood)

Menu yang ada dalam kotak bekal barangkali terlihat sederhana. Cuma nasi putih, tumis sayuran, 1 atau 2 lauk, serta buah. Kadang-kadang istri melengkapi bekalmu dengan jus buah atau sayuran.

Bahkan ada istri yang menyiapkan camilan segala buat suaminya. Sesimpel apa pun menunya butuh persiapan yang gak sebentar untuk memasak. Bahkan sejak istri bikin perencanaan menu dan berbelanja.

Agar dirimu tidak terlambat tiba di kantor, ia memasak pagi sekali. Aktivitasnya di dapur mungkin dimulai sejak hari masih gelap. Kamu pun masih tidur. Apalagi dirimu tipe orang yang menu sarapan dengan makan siang wajib beda.

Artinya, istrimu kerja dobel. Kalau ujung-ujungnya bekal tak dimakan, rasa nyeseknya sama seperti ketika usulanmu yang brilian terkait pekerjaan malah diabaikan teman-teman. Pasti ada perasaan jerih payahmu dalam berpikir tidak dihargai. Itu pula yang dirasakan istri.

2. Terbayang bahan dan bumbu yang terbuang sia-sia

ilustrasi bahan dan bumbu masakan (pexels.com/奥尼尔 孙)

Terlepas dari kamu kasih uang belanja yang cukup banyak, makanan yang dibuang tetap kesia-siaan. Dari satu menu kalau dihitung-hitung ada banyak uang yang terbuang begitu saja. Istri memasak rica-rica ayam, misalnya.

Ada uang buat membeli ayam, santan, cabai, bawang putih, dan sebagainya. Belum masakan lainnya. Kalau bekalmu dibuat pagi buta dan tidak disantap sampai sore kemungkinan besar basi.

Bahkan meski nasi gak dicampur dengan lauk dan sayur. Terutama untuk makanan basah. Istri yang tahu betul harga tiap bahan dan bumbu, belum termasuk minyak serta gas, ingin menangis melihat bekalmu akhirnya dibuang. Tambah menjengelkan jika harga berbagai kebutuhan sedang tinggi, sedangkan uang belanja darimu tetap.

3. Dibawakan bekal sehat malah pilih jajan yang memicu penyakit kambuh

ilustrasi mengambil makanan (pexels.com/Thu Huynh)

Kemarahan istri ketika kamu gak menyantap bekal juga sering kali karena ia memikirkan kesehatanmu. Dia barangkali tak masalah dirimu lebih suka makan siang di luar selama kesehatanmu prima. Dengan begitu, istri tidak perlu capek-capek menyiapkan bekal.

Akan tetapi, masalahnya dirimu punya sakit tertentu yang gampang kambuh bila makan sembarangan. Misalnya, hipertensi, diabetes, asam urat dan kolesterol tinggi, serta sakit lambung. Ia belajar dari pengalaman penyakitmu kumat setelah makan di luar.

Lebih mudah untukmu kehilangan kendali diri ketika berhadap dengan daftar menu yang enak-enak. Jika penyakit kadung datang, kamu gak bisa bekerja. Kerewelanmu di rumah dapat melebihi anak kalian. Istri pula yang repot.

4. Yakin pasti makan enak di luar bareng teman-teman

ilustrasi makan bersama teman (pexels.com/Allan González)

Definisi makan enak ini memang tidak sederhana. Namun, dalam pandangan istri kamu gak bakal melupakan bekal kalau menilai masakannya lebih enak dari masakan di rumah makan mana pun. Dengan dirimu sampai membiarkan bekal dan memilih jajan pasti menu yang dipilih lebih lezat.

Misal, istri membekalimu nasi dengan lauk ayam goreng atau telur balado. Di luar, kamu makan bareng kawan-kawan dengan menu rendang daging atau iga sapi bakar. Gak salah kalau istrimu merasa iri.

Gantian dirimu makan enak, yang diingat cuma teman-teman. Di rumah istri dan anak makan seadanya dianggap sudah biasa. Rasa baper istri tak hanya dipicu oleh bekal yang sampai sore masih utuh. Akan tetapi, juga keenggananmu menyantap menu yang sama dengan keluarga.

5. Sudah lebih dari sekali tanpa alasan kuat

ilustrasi menyiapkan bekal (pexels.com/Sarah Chai)

Jika peristiwa bekal utuh sampai sore atau malam jarang terjadi, istri pasti berusaha memahami. Apalagi kamu kasih penjelasan yang logis. Seperti sepanjang hari tadi dirimu mendampingi atasan ke berbagai acara.

Tas kerjamu bahkan ditinggal di kantor. Acara yang seharusnya selesai cepat ternyata molor dan membuat bekal buatan istri tak tersentuh. Dirimu terpaksa makan siang bersama bos. Kecil kemungkinan istri marah bila begini.

Lain dengan jika kamu sudah sering tidak memakan bekal. Alasannya pun tak jelas. Justru dirimu marah bila istri menanyakannya. Seolah-olah soal sekotak makanan saja dibuatnya ribet. Semua itu membuat perasaan istri sangat buruk. Jika kamu gak butuh dibuatkan bekal semestinya bilang saja.

Bekal yang dibikin istri buat suami bukan sekadar makanan untuk mengenyangkan perut. Makan di warung juga sama kenyangnya. Rumah makan yang higienis pun banyak. Namun, sekotak bekal makan siang dari istri bukan hubungan transaksional seperti jual beli. Adanya cinta, kepedulian, serta ketulusan di dalamnya yang menjadikan sebab istri marah kalau suami gak memakan bekal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team