Ya itulah permasalahanku selanjutnya di jenjang perkuliahan. Sebelumnnya pada masa SMA, aku mendapatkan seseorang yang aku cintai dengan cara yang luar biasa, dan berakhir dengan rasa kecewa yang luar biasa pula, seiiring berjalannya waktu, akupun telah melupakan semua indah “cinta di masa lalu”, dan memutuskan untuk menghadap kedepan.
Gadis itu selalu melihat ke arahku, aku sungguh merasa tidak nyaman di buatnya, hal itu sungguh mengganguku, dan membuatku tidak fokus terhadap mata kuliah yang dosen berikan, hingga akhirnya kuputuskan untuk membalas tatapannya dengan harapan aku dapat membuat dia berhenti menatapku. Tapi apa yang terjadi? Dia tersenyum dan memalingkan pandangannya dariku, sungguh, hati ini bergetar saat ku lihat dia tersenyum, aku merasakan perasaan yang sama dengan perasaan 3 tahun yang lalu.
Otakku memaksa untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya. Bingo! Aku tahu siapa namanya, seketika akupun membuka laptop kesayanganku, membuka halaman facebook dan mengetikan namanya di kolom pencarian, kubuka foto kecil dengan nama yang ku cari disampingnya, ku lihat satu persatu photo yang dia unggah kelahaman facebooknya, ya ternyata benar, ini gadis yang menatapku saat itu.
Chating dengannya adalah hal yang biasa kulakukan tiap malam, tapi hingga saat itu aku belum pernah sekalipun bertegur sapa dengannya di dunia nyata. Aku semakin penasaran karenanya, akupun mulai mencari tahu apa yang sering dia lakukan di waktu senggang, apa makanan kesukaannya, kebiasaan apa yang dia punya. Aku merasa bahwa aku seperti seorang mata-mata yang sedang mencari informasi tentang targetnya, aneh memang, tapi itulah caraku sebagai seorang introvert untuk mendekatinya.
Dia adalah orang yang cukup terkenal di kampus, bahkan banyak laki laki dari fakultas yang berbeda menanyakannya. Aku sempat merasa minder karena beberapa dari mereka mendekatinya secara terang terangan, jujur Sedangkan aku? Menyapanya saja aku tak sanggup, apalagi harus secara terang-terangan mendekatinya.
Malam tiba, saat itu aku tidak melakukan kebiasaan ku untuk memulai pembicaraan dengannya melalui media sosial, aku hanya menatap langit langit kamar kosan yang sedikit usang, dan mulai berpikir apakah aku harus menyatakan perasaanku padanya atau sudah cukup bagiku melihat dia tersenyum?
Di luar logika, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya, aku mulai memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menyatakan perasaanku padanya, “Mungkin dia akan merasa kagum padaku bila dia tahu keahlianku”. Ya, aku sangat gemar mengedit photo, membuat video, atau segala hal yang berkaitan dengan visual media. Aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya melalui karya terbaiku.
Dari situ aku mulai mengerjakan konsep yang telah kupikirkan, dari membuat template hingga mencari backsound untuk video ciptaanku, tak terasa kulewati 3 hari tanpa tidur yang cukup karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang kupunya. “Selesai”, video yang kubuat akhirnya tercipta, sedikit kaku memang, tapi menurutku inilah karya terbaikku sejauh ini, karena terselip namanya disitu.
Dengan segala pertimbangan akupun mulai menghubunginya, mengatakan bahwa aku akan memberikan sesuatu padanya. Dia memberikan alamat rumahnya padaku, akupun bergegas menuju alamat yang dia berikan. Sesampainya di depan rumah, aku menghela nafas bersiap menemui seseorang perempuan yang aku suka. Tak lama sesaat aku memberinya kabar bahwa aku sudah di depan rumahnya, dia pun keluar dengan mengenakan piyama berwarna merah jambu dengan rambut diikat kebelakang.
Oh tuhan, mungkin dia adalah ciptaan terbaikmu di dunia, dia sungguh manis, cantik, lucu. Entahlah, aku tidak bisa menggambarkan sesempurna apa dia dimataku, tanpa basi-basi akupun memberikannya kepingan CD berisikan video yang kubuat, dan sesegara mungkin berpamitan.
Sudah hampir satu bulan sejak aku memberikan video yang aku buat padanya, tapi belum ada jawaban, aku merasa seperti kembang api yang terbang tinggi ke awan lalu meledak menjadi kepingan debu yang kemudian hilang ditelan kegelapan. Sejujurnya aku sudah menyiapkan hatiku untuk menghadapi rasa kecewa yang mungkin akan dia berikan, tapi kenyataan tidak sebaik itu, aku tetap merasakan rasanya patah hati, hancur, galau.
Hingga akhirnya semua rasa itu hilang ketika dia menatapku lagi di ruangan kelas dan mulai menggerakan bibirnya “I LO VE YOU TOO”, aku bisa mengetahui apa yang dia katakan meski hanya dari gerak bibirnya. Aku sungguh senang saat itu, kuhabiskan jam perkuliahan saat itu untuk menatapnya. Terima kasih Tuhan, kau memberikan ciptaanmu yang sempurna ini untukku yang memiliki banyak kekurangan.
Semua orang berhak mendapatkan cinta yang dia inginkan (bahkan untukmu si introvert), tapi semua tergantung apa yang telah kamu lakukan untuk yang di cintai.