Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi cemburu pada pasangan yang sering chatting dengan sahabatnya.
ilustrasi cemburu pada pasangan (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Cinta tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosional

  • Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi

  • Ketergantungan pada validasi orang lain

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perselingkuhan sering dianggap sebagai bukti bahwa cinta sudah hilang. Namun kenyataannya, tidak sesederhana itu. Ada orang yang benar-benar masih mencintai pasangannya, tetapi tetap memilih berselingkuh. Kondisi ini sering membuat korban merasa bingung, mempertanyakan nilai diri, dan sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta saja tidak selalu cukup untuk menjaga komitmen. Faktor emosional, psikologis, dan pola perilaku tertentu bisa membuat seseorang melanggar batas hubungan. Meski di saat yang sama masih ingin mempertahankan pasangannya. Berikut beberapa alasan seseorang selingkuh meski masih cinta pasangannya.

1. Cinta tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosional

ilustrasi orang berdebat (pexels.com/Alex Green)

Seseorang bisa benar-benar mencintai pasangannya, tetapi belum cukup dewasa secara emosional untuk menjaga komitmen. Kedewasaan emosional bukan sekadar soal usia, melainkan kemampuan mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan memahami batasan dalam hubungan. Tanpa hal ini, perasaan cinta mudah goyah saat muncul godaan, konflik, atau rasa bosan. Pelaku mungkin sadar tindakannya salah, tetapi tetap melakukannya karena tidak mampu menahan dorongan sesaat.

Dalam kondisi seperti ini, perselingkuhan sering diikuti penyesalan dan janji untuk berubah. Namun, tanpa proses pendewasaan yang nyata, pola tersebut berulang. Cinta tetap ada, tetapi tidak diiringi tanggung jawab emosional. Inilah mengapa seseorang bisa tampak tulus mencintai pasangannya, namun tetap melukai mereka dengan pilihan yang sama berulang kali.

2. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi

ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Dalam hubungan jangka panjang, kebutuhan emosional bisa perlahan terabaikan tanpa disadari. Perasaan ingin didengar, dimengerti, dihargai, atau diprioritaskan sering kali memudar di tengah rutinitas dan kesibukan. Ketika hal ini terjadi, seseorang bisa merasa kesepian meski secara fisik masih bersama pasangannya. Sayangnya, tidak semua orang mampu atau berani mengungkapkan kekosongan ini secara terbuka.

Saat ada orang lain yang hadir dengan perhatian, empati, atau rasa penasaran yang baru, kebutuhan emosional tersebut terasa terisi. Perselingkuhan pun muncul bukan karena cinta pada pasangan hilang, melainkan karena ada kekosongan yang tidak pernah dibicarakan. Hubungan gelap menjadi pelarian sementara, alih-alih menyelesaikan masalah utama dalam hubungan yang sah.

3. Ketergantungan pada validasi orang lain

ilustrasi berdebat (pexels.com/Keira Burton)

Sebagian orang memiliki harga diri yang sangat bergantung pada penilaian eksternal. Mereka merasa berharga ketika dipuji, diinginkan, atau dikagumi oleh orang lain. Meski mencintai pasangannya, validasi dari pasangan sering terasa kurang “menantang” karena sudah dianggap aman dan pasti. Akibatnya, perhatian dari orang baru menjadi sesuatu yang memicu euforia.

Perselingkuhan lalu menjadi cara untuk mempertahankan rasa percaya diri tersebut. Bukan karena pasangan kurang baik, tetapi karena pelaku membutuhkan pengakuan terus-menerus untuk merasa bernilai. Pola ini berbahaya karena membuat hubungan utama selalu kalah dari sensasi baru yang sementara.

4. Takut kehilangan hubungan tapi juga takut berkomitmen sepenuhnya

ilustrasi pasangan menghindari masalah (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Ada orang yang ingin mempertahankan hubungan karena cinta, kenyamanan, atau rasa aman, tetapi pada saat yang sama takut pada komitmen penuh. Mereka khawatir kehilangan kebebasan, kesempatan, atau identitas diri. Akibatnya, mereka berada di posisi ambigu—tidak benar-benar pergi, tetapi juga tidak sepenuhnya setia.

Perselingkuhan menjadi jalan tengah yang egois: tetap punya pasangan resmi, sekaligus merasakan sensasi hubungan lain. Dalam kondisi ini, cinta bukan tidak ada, tetapi kalah oleh ketakutan dan ketidakmatangan dalam menghadapi komitmen. Hubungan pun dijalani setengah-setengah, dengan luka yang ditanggung sepenuhnya oleh pasangan.

5. Luka masa lalu dan pola hubungan yang tidak sehat

ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Alex Green)

Masalah pribadi yang belum selesai, seperti trauma masa kecil, pengalaman ditinggalkan, atau contoh hubungan tidak sehat—bisa memengaruhi cara seseorang mencintai. Tanpa disadari, luka ini membentuk pola hubungan yang merusak, termasuk kecenderungan untuk berselingkuh. Bagi sebagian orang, perselingkuhan menjadi cara untuk menghindari kedekatan emosional yang terlalu dalam.

Dalam kasus ini, pelaku bisa benar-benar mencintai pasangannya, tetapi tidak tahu bagaimana cara mencintai dengan sehat. Tanpa kesadaran dan upaya memperbaiki diri, pola ini cenderung terulang, terlepas dari siapa pun pasangannya.

Perselingkuhan tidak selalu berarti cinta telah hilang, tetapi sering menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam dalam diri seseorang atau dalam dinamika hubungan. Memahami alasan seseorang selingkuh meski masih cinta pasangannya sangatlah penting agar kita tidak serta-merta menyalahkan diri sendiri, sekaligus menjadi pengingat bahwa cinta yang sehat seharusnya disertai kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team