Artikel ini merupakan hasil karya peserta kompetisi menulis #CintaDalamKata yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #CintaDalamKata! Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.
Bersamamu dulu, aku tak menyangka akan bertemu ending sebegini pahit. Aku pernah terlalu menikmati. Aku pernah jatuh terlalu dalam, menyangka semuanya akan baik-baik saja. Bahwa perasaan kita sudah bahagia dengan cara sekeren ini. Kupikir, sudah tak ada perpisahan. Kupikir bahwa engkaulah satu-satuku, dan kau pun begitu.
Tak pernah kusangka bahwa kita bisa saling meninggalkan. Kini, baru kusadar sejauh mana engkau mengambil alih duniaku. Kau memutuskan melepaskan tanganmu, beranjak tak kembali di saat aku sudah memastikan hidupku sudah pada tempatnya. Membuatku sibuk bertanya-tanya, “Di bagian mana salahku?”
Seharusnya ini sangat mudah. Membuangmu jauh-jauh di belakang punggungku selayaknya yang kau lakukan. Toh, aku masih punya banyak pelarian demi menghapusmu dan memperbaiki jalanku yang sempat ambruk karena kau memilih jalan yang berbeda. Seharusnya ini mudah, tapi mengapa yang terasa justru sebaliknya?
