Awalnya kita baik-baik saja. Kita melewati hari-hari dengan lembaran-lembaran kertas yang penuh warna. Kamu yang selalu membuat aku yakin, begitu pantasnya kamu untuk dipertahankan. Sampai tiba saatnya, kita harus terpisahkan jarak. Kita tidak takut, karena kamu membuatku percaya tidak ada yang perlu diragukan dari kamu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun. Kita masih bisa menjaga komitmen ini meskipun terpisah jarak. Hingga saatnya, aku menemukan kamu yang mulai asyik bercengkrama dengan perempuan lain. Aku menemukanmu yang mengabaikan pesanku yang selalu menunggumu dan aku juga menemukanmu tersenyum ketika kamu mendapatkan pesan dari wanita lain. Apakah setiaku membuatmu bosan?
Andai kamu tahu sesakit apa yang aku rasakan, namun nyatanya aku masih mempertahankanmu kembali. Mengumpulkan serpihan-serpihan kepercayaan yang sempat kamu hancurkan dalam sekejap. Aku masih percaya, kamu masih bisa berubah.
Dan kitapun menjalani hubungan kembali seperti sebelumnya. Aku yang berusaha mengerti dengan semua kesibukanmu. Aku yang selalu menunggu kabarmu sepulang kerja meskipun pesan yang aku dapatkan "Aku capek mau tidur". Aku yang tadinya begitu menggebu-gebu ingin bercerita kepadamu hal menyenangkan dan menyedihkan apa yang aku lalui hari ini, harus mengurungkan niatku karena kesibukanmu yang membabi buta.
Namamu di history panggilan di ponselku tidak pernah muncul. Berharap kamu meluangkan waktu 1 menit untuk menelponku, itu sudah membuatku tenang. Namun akupun masih berusaha mengerti dengan kesibukanmu. Akupun memberanikan diri untuk meneleponmu, mengganggu waktumu yang berharga walaupun cuma 10 detik. Namun kamu tidak pernah menjawabnya.
Aku masih berusaha mengertimu. Mendengarkanmu bercerita tentang pekerjaanmu. Mendengarkanmu tentang kamu yang stres karena tekanan dari atasanmu. Aku hanya bisa menyemangatimu dengan kata-kata, yang mungkin bagimu itu tidak ada gunanya. Andai aku bisa di dekatmu, aku pasti akan membuatkan masakan kesukaanmu untuk bekal ke kantor agar kamu lebih bisa bersemangat kerja. Andai kamu tahu, aku juga tersiksa di sini.
Hingga saatnya, aku harus terbaring di rumah sakit berhari-hari. Namun tidak juga membuat kamu sedikit lebih bisa bersikap baik kepadaku. Handphoneku pun masih sama, jarang berbunyi. Dan kali ini, aku hampir tidak bisa mengerti kamu lagi.
Kamu membuatku bertanya-tanya, hubungan seperti apa yang sedang kita jalani?
Apa memang seperti ini cara orang dewasa dalam membina hubungan?
Dimana kata-kata rindu hanya penghambat, dimana handphone hanya berbunyi disaat ada perlunya saja, dimana kita sudah tidak saling bercerita tentang apa saja yang kita alami.
Dimana kita menyelesaikan semua sendirian...
Lantas, untuk apa kita berkomitmen jika kita masih merasa sendirian?
