Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
20260125_151941.jpg
Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Intinya sih...

  • Fenomena pressured hair menyebabkan 78% rambut rontok

  • Pentingnya mengecek profil biologis kulit kepala dengan scalp check

  • Perlu menggunakan produk yang sesuai dan menerapkan scalp cycling

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bukan cuma wajah, rambut memiliki beragam permasalahan. Beberapa di antaranya yang lazim adalah rambut rontok, ketombe, dan penipisan rambut. Namun, pernah gak berpikir kenapa masalah rambut rontok dan ketombe ini tak kunjung membaik meski sudah menggunakan beragam produk?

Mungkin, akar masalahnya bukan terletak pada produk yang kamu gunakan, melainkan karena kulit kepala. Dr. Ardhiah Iswanda Putri, Sp.DVE, M.Ked.Klin dalam talkshow di Beauty Science Tech pada Minggu (25/1/2026), menyebutkan beberapa alasan kenapa permasalahan rambut ini masih terus ada.

1. Fenomena pressured hair

Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Beauty Science Tech 2026 memperkenalkan fenomena pressured hair. ParagonCorp melakukan riset bersama para ahli global dan dermatologist untuk menganalisis akar permasalahan rambut. Riset ini memunculkan fenomena pressured hair atau tekanan yang diberikan ke rambut.

“Kita jadi tahu, contohnya wanita yang rambutnya tertutup (covered hair) baik itu berhijab, sering pakai helm, atau apa pun yang menutupi kepala, punya risiko lebih tinggi. Kita menemukan memang biological scalp-nya jadi berbeda,” ujar Khikin Indahsari selaku Senior Group Head of Paragon Personal Care & Male Grooming.

Khikin menjelaskan bahwa fenomena pressured hair ini bisa menyebabkan 78 persen rambut rontok. Gak cuma rambut yang tertutup, bagi orang-orang yang tidak memakai penutup kepala pun tetap terkena tekanan seperti paparan sinar matahari.

“Itu yang benar-benar bisa merusak, makanya penting untuk diperbaiki dari akar,” sambung Khikin.


2. Gak tahu akar masalah yang sebenarnya

Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Penting untuk mengecek profil biologis kulit kepala dengan scalp check. Pasalnya, di tengah kegiatan yang padat, kita jadi rentan stres menghadapi banyak masalah hidup. Ini memungkinkan munculnya masalah rambut yang lebih kompleks.

Ketika kamu merasa rambut mulai rontok, tipis, berketombe, atau kering, Khikin menyarankan untuk langsung mencari tahu apa akar masalah sebenarnya. 

“Karena akar dari segala permasalahan rambut itu selalu ada di kulit kepalanya,” kata dr. Ardhiah Iswanda Putri di Pondok Indah Mall 3, Jakarta pada Minggu (25/1/2026).

3. Menggunakan produk yang salah atau gak menyasar pada akar masalahnya

Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Salah satu faktor kenapa rambut rontok dan ketombe tak kunjung membaik, bisa jadi karena salah memakai produk atau memakai produk yang gak langsung menyasar akar masalah. Untuk itulah, ParagonCorp memperkenalkan DermaScalp Expert sebagai solusi berbasis teknologi biomimetik untuk mengatasi pressured hair.

“Akar masalahnya boleh sama, tapi manifestasi kulitnya berbeda-beda. Jadi, biomimetics scalp technology ini ada di molecular level. Fokusnya gak hanya ke batang rambut tapi fokusnya di kulit kepala,” ujar dr. Ardhiah Iswanda Putri.

Penting untuk memilih produk yang sesuai dengan masalah dan kebutuhan. Maka dari itu, seseorang dengan permasalahan rambut yang tak kunjung selesai perlu melakukan scalp mapping untuk mengetahui kondisi kesehatan kulit kepala.


4. Gak menerapkan scalp cycling

Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Kesalahan dalam merawat rambut adalah gak menerapkan scalp cycling. Dr. Ardhiah Iswanda Putri menjelaskan, scalp cycling adalah proses dengan ritme alami untuk merawat rambut. Lebih mudahnya, ia menganalogikan kulit kepala sebagai tanah dan rambut seperti tanaman.

“Kalau misalnya kita banyak atau sering atau banyak banget ngasih pupuk terus menerus ke tanah, pasti tanamannya akan rusak. Tapi, kalau misalnya kita kasih tanahnya itu waktu untuk bernafas, pasti kan tanamannya akan lebih tumbuhnya baik gitu kan,” katanya.

Sama seperti rambut, scalp cycling diharapkan bisa memberi napas ke kulit kepala. Kulit kepala bisa dijaga dengan gak terus menerus diberi produk atau di-styling.

“Kalau jeda ini itu tidak pernah terjadi, maka akan muncul yang namanya pressured hair. Tanda-tandanya rambut gampang lepek, cepat gatal. Kalau pakai hijab, orang biasanya gak memedulikan tanda-tanda ini karena rambut ditutup,” lanjutnya.


5. Salah atau gak tahu cara merawat rambut dengan tepat

Beauty Science Tech 2026 di Pondok Indah Mall 3 pada Minggu (25/1/2026) (IDN Times/Adyaning Raras)

Fenomena pressured hair gak hanya terjadi pada perempuan, laki-laki pun juga bisa. Meskipun rambut gak tertutup, tapi rambut tetap terkena panas karena styling atau sinar matahari, kelembapan rambut juga jadi lebih tinggi. 

“Soalnya, biasanya kalau pada laki-laki itu ya, masalahnya justru kayak pasien saya sendiri, itu sekarang hampir 70 persen laki-laki. Jadi, banyak banget para laki-laki ini yang tidak menyadari bahwa mereka sudah memasuki masa kebotakan, penipisan rambut, bahkan yang ada ketombenya, atau ada kita bilangnya dermatitis seboroik,” kata  dr. Ardhiah.

Apa akar masalahnya? Karena laki-laki cenderung malas melakukan perawatan rambut, malas untuk keramas. Kalau gak ada perawatan yang tepat, maka kulit kepalanya juga gak terawat dengan baik. Hal inilah yang bisa menyebabkan timbulnya masalah-masalah lainnya.

Jadi, kalau selama ini rambutmu masih bermasalah, coba cek kondisi kulit kepala. Mungkin saja, kamu salah merawat rambut atau kurang tepat dalam memilih produk shampo yang sesuai dengan kebutuhan kulit kepala.


Editorial Team