Lab Belajar Ibu (dok. Anindita Zein)
Dita dan founder-founder lainnya yang merupakan lulusan LPDP dan tersebar di berbagai negara, rupanya memiliki keresahan yang sama. Sebagai alumni LPDP angkatan kedua, Dita merasakan peliknya transisi dari pelajar ke ibu rumah tangga atau dilema seorang ibu rumah tangga pasca lulus.
"Founder LBI ada lima, lima orang ini adalah mantan penerima beasiswa LPDP. Kita menyadari ada kewajiban bagi kita untuk berbuat baik ke masyarakat dengan cara empower ibu-ibu," jelasnya.
Awalnya ia dan teman-temannya yang lain merasa ada kekosongan. Dita merasa gak berdaya sebagai alumni LPDP karena belum menemukan tempat untuk berkarya khusus buat ibu-ibu yang memang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri dan kembali ke Indonesia.
"Akhirnya kita buat si Lab Belajar Ibu karena pas banget udah mulai banyak yang berangkat ke luar negeri. Mulai banyak juga ibu-ibu yang balik ke domestik setelah menjadi mahasiswa dan itu rasanya beda banget. Awalnya kita memang berdiri dari ibu-ibu yang transisi ke domestik. Tapi kita menyadari bahwa pahitnya transisi ini gak cuma ibu balik ke domestik tapi ibu yang dari domestik balik ke publik itu juga sulit," imbuh Dita.
Maka dari itu, Dita dan para founder lainnya membuat Lab Belajar Ibu pada akhir 2022. Mengapa Lab Belajar Ibu? Tujuannya tentu menjadi laboratorium kehidupan tempat Ibu pembelajar yang percaya diri dan bahagia.
Selain itu, Dita merasa bahwa Lab Belajar Ibu merupakan suatu wadah yang tidak menggaungkan salah satu goal saja. Dalam artian, Dita berupaya membantu ibu yang mau transisi ke domestik, transisi ke publik, maupun ibu yang mau jadi mahasiswa melalui LBI.
Dita mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 337 anggota. Ia pun mengatakan bahwa setidaknya setiap orang yang ingin bergabung harus tahu atau mengikuti acara LBI sehingga bisa memahami value-value LBI.