Marthella Sirait, founder Konekin (dok. Konekin)
Melakoni peran sebagai istri, ibu, dan pekerja tentu bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Gak bisa dimungkiri, ia merasa percuma menggaungkan soal inklusivitas kalau tidak menerapkannya sendiri.
“Aku pribadi selalu memberikan kesempatan atau kalau di Konekin, kami menyebutnya space to grow, ruang bertumbuh kepada timku yang perempuan. Aku pribadi juga sebenarnya ingin melihat timku yang perempuan ini, gak hanya bisa stand out di Konekin tapi juga di tempat lain,” imbuhnya.
Sebagai orang yang pernah berada di bawah pimpinan orang lain, ia merasa bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sudah merasakannya terlebih dulu. Dengan kata lain, sudah terbiasa dipimpin sehingga tahu bagaimana membuat orang lain mau dipimpin dan dengan cara seperti apa yang sesuai.
Meski sempat menduduki peran yang penting sebagai PNS, ia tidak merasa menyesal melepaskan pekerjaan tersebut. Posisinya yang sudah berkeluarga membuatnya menyadari bahwa ada yang harus diprioritaskan.
“Keputusan untuk memilih satu di antara dua pekerjaan, membuatku jadi lebih bisa perform dan standout karena gak pusing memikirkan kalau harus mengerjakan dua hal. Percaya deh, pasti salah satunya ada yang keteteran (berantakan). Nah, tapi dengan mengambil keputusan ini, ya aku sekarang fokusnya di keluarga dan Konekin. Ini membuat aku lebih waras dalam bekerja, lebih bisa mengatur energi, mengatur waktu dan semua resource,” katanya.
Baginya, pemimpin perempuan memiliki perbedaan dalam hal dinamika kerja dibanding laki-laki. Namun, bukan berarti mengurangi tingkat produktivitas, melainkan harus mengatur energi sebaik mungkin untuk bisa mempertahankan produktivitas tersebut.
Pernyataan tersebut sekaligus menutup obrolan hangat dengan tim IDN Times. Dari ceritanya ini, Marthella turut menyampaikan pandangannya tentang perempuan.
“Bagiku, perempuan hebat itu adalah perempuan yang bisa menghargai dirinya sendiri secara utuh, mengetahui bahwa apa yang dia lakukan itu bermanfaat untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk sesama jadi perempuan yang hebat juga,” sebutnya.
Terkadang, kita lupa untuk mengapresiasi diri sendiri atas apa yang sudah dilakukan. Maka dari ceritanya, Marthella ingin terus mendorong perempuan-perempuan lain agar senantiasa bahagia dan bisa bersyukur pada progres sekecil apa pun itu selama bisa bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.