Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan sedang berpikir.
ilustrasi seorang perempuan berpikir (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Intinya sih...

  • Perempuan dihadapkan pada ekspektasi rumah tangga vs karier

  • Tekanan sosial membuat perempuan sulit menikmati pencapaian karier

  • Kehamilan dan penilaian ganda di tempat kerja memengaruhi rencana karier

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menikah sering dianggap sebagai fase hidup yang membawa kestabilan emosional dan sosial. Namun, bagi banyak perempuan, pernikahan juga menjadi titik di mana perjalanan karier mulai dipenuhi dilema baru. Peran sebagai istri—dan kelak ibu—kerap datang dengan ekspektasi tertentu yang tidak selalu sejalan dengan ritme dunia kerja. Akibatnya, perempuan sering berada di posisi harus memilih, menimbang, dan menyesuaikan lebih banyak hal dibandingkan sebelumnya.

Berbeda dengan sebelum menikah, keputusan karier perempuan kini kerap dikaitkan dengan kondisi rumah tangga. Pertanyaan tentang waktu, komitmen, dan prioritas muncul lebih sering. Dilema ini bukan semata-mata persoalan ambisi, tetapi juga tekanan sosial dan struktural. Berikut enam dilema karier yang dialami perempuan setelah menikah, namun jarang dibahas secara aman serta jujur. Yuk, simak!

1. Antara mengejar karier atau memenuhi ekspektasi sebagai istri

ilustrasi seorang wanita karier (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Setelah menikah, banyak perempuan dihadapkan pada ekspektasi sosial untuk lebih fokus pada rumah tangga. Ketika perempuan tetap ambisius dalam karier, muncul penilaian bahwa ia "terlalu sibuk" atau kurang hadir sebagai istri. Tekanan ini sering tidak diucapkan secara langsung, tetapi terasa melalui komentar halus dari keluarga atau lingkungan sekitar.

Dilema ini membuat para perempuan harus terus menyeimbangkan dua peran yang sama-sama menuntut. Mengejar karier bukan lagi sekadar berpikir tentang kemampuan, melainkan keberanian menghadapi stigma. Banyak perempuan akhirnya menahan laju kariernya demi menghindari konflik atau rasa bersalah, meski sebenarnya masih ingin berkembang secara profesional.

2. Takut dinilai tidak siap berkeluarga saat terlalu fokus bekerja

ilustrasi seorang perempuan bekerja (freepik.com/senivpetro)

Perempuan yang menunjukkan dedikasi tinggi pada pekerjaan setelah menikah kerap dianggap belum siap membangun keluarga. Fokus pada target kerja, jam lembur, atau perjalanan dinas sering diasosiasikan dengan mengabaikan peran domestik. Penilaian ini jarang diarahkan pada laki-laki dalam kondisi yang sama.

Akibatnya, perempuan berada dalam dilema: tetap profesional atau memenuhi standar sosial. Banyak yang merasa harus membuktikan diri di dua sisi sekaligus—sebagai pekerja yang kompeten dan istri yang "ideal". Tekanan ini membuat perjalanan karier terasa lebih berat, karena perempuan harus terus mengatur citra dan ekspektasi, bukan hanya kinerja.

3. Menunda atau mengubah rencana karier karena rencana kehamilan

ilustrasi seorang perempuan melamun (pexels.com/Engin Akyurt)

Kehamilan masih menjadi faktor besar yang memengaruhi karier perempuan. Setelah menikah, pertanyaan tentang rencana punya anak sering muncul, bahkan dari lingkungan kerja. Banyak perempuan akhirnya menunda promosi, pindah kerja, atau mengambil tanggung jawab besar karena khawatir tidak sejalan dengan rencana kehamilan.

Dilema ini membuat perempuan harus mempertimbangkan tubuh dan karier secara bersamaan. Pilihan yang seharusnya personal justru berdampak pada persepsi profesional. Dalam kondisi ini, perempuan sering merasa waktu kariernya terbatas, seolah ada tenggat yang tidak dimiliki rekan kerja laki-laki.

4. Rasa bersalah saat karier menyita waktu rumah tangga

ilustrasi seorang perempuan melamun (pexels.com/Alena Darmel)

Ketika karier berjalan dengan baik, perempuan sering tetap dibayangi rasa bersalah. Waktu kerja yang panjang atau fokus pada target profesional kerap dianggap mengurangi kualitas peran di rumah. Rasa bersalah ini tidak selalu datang dari pasangan, tetapi tumbuh dari internalisasi standar sosial yang melekat sejak lama.

Dilema ini membuat banyak perempuan sulit menikmati pencapaian kariernya secara utuh. Alih-alih bangga, mereka justru merasa kurang. Beban emosional ini jarang disadari oleh lingkungan kerja, padahal sangat memengaruhi kesehatan mental dan keputusan karier perempuan dalam jangka panjang.

5. Menghadapi penilaian ganda di tempat kerja

ilustrasi seorang perempuan bekerja (pexels.com/Marcus Aurelius)

Perempuan yang menikah sering menghadapi penilaian ganda di tempat kerja. Terlalu ambisius dianggap mengabaikan keluarga, tetapi jika terlihat fleksibel, dianggap kurang serius bekerja. Standar ini membuat perempuan sulit berada di posisi yang "benar" di mata semua orang.

Dilema ini memaksa perempuan untuk terus menyesuaikan sikap dan strategi kerja. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga mengelola persepsi. Dalam jangka panjang, tekanan ini melelahkan dan dapat menghambat keberanian untuk mengambil peran lebih besar dalam karier.

6. Menentukan prioritas saat karier dan pernikahan sama-sama penting

ilustrasi perempuan berpikir (pexels.com/Marcus Aurelius)

Bagi banyak perempuan, karier bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga identitas diri. Setelah menikah, menentukan prioritas antara karier dan pernikahan menjadi dilema yang terus berulang. Tidak ada jawaban benar atau salah, tetapi setiap pilihan membawa konsekuensi emosional.

Dilema ini sering muncul di momen krusial: promosi, pindah kota, atau perubahan fase hidup. Perempuan dituntut bijak, tetapi jarang diberi ruang untuk ragu. Proses menimbang ini menguras mental karena keputusan yang diambil sering kali harus mengakomodasi banyak pihak, bukan hanya diri sendiri.

Dilema karier yang dialami perempuan setelah menikah bukan berarti tanda mereka gak mampu, melainkan bukti bahwa sistem dan ekspektasi belum sepenuhnya adil. Membicarakannya secara terbuka akan membuat para perempuan tidak lagi merasa sendirian dalam pergulatan ini. Karier dan pernikahan seharusnya bisa berjalan berdampingan, tanpa harus mengorbankan salah satunya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team